Label

Kamis, 13 Agustus 2015

Perhatikan Modal Utama Kampus!

Saya lupa entah kapan tepatnya, suatu saat saya ditugaskan untuk mewawancarai salah seorang dosen dari fakultas saya. Karena saya dibebaskan memilih dosen yang mana saja, saya memilih Hendry Cahyono, S.E., M.M. Beliau sangat dekat dengan mahasiswa dan beliau juga berdarah Madura, satu tanah air dengan diri saya sendiri.

Wawancara yang kami lakukan adalah seputar pembangunan kampus saya tercinta, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Saat saya tanya, menurut pandangan beliau, apa modal utama Unesa untuk bisa bersaing di kancah nasional hingga internasional? Dengan tegas beliau menjawab: MAHASISWA.

Beliau menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan modal utama terhadap perkembangan kampus ke depan. Tidak hanya itu, mahasiswa juga akan menjadi orang yang ada di garda terdepan untuk memperbaiki bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sebagai lembaga pendidikan, Unesa dituntut untuk mengoptimalkan penggunaan modal tersebut (mahasiswa) sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Tanpa mahasiswa, sebuah kampus bagai presiden tanpa rakyat. Begitu juga, meskipun sebuah kampus memiliki mahasiswa yang banyak namun tidak berkualitas maka sama dengan singa ompong. Dari sana kemudian dapat dipahami betapa pentingnya peran mahasiswa sebagai modal utama sebuah kampus.

Namun demikian, ketika membicarakan mahasiswa sebagai modal maka akan berlaku teori ekonomi. Meskipun tidak selamanya, akan tetapi sudah umum dipahami, kualitas input menentukan kualitas output. Artinya, agar sebuah kampus tersebut berkualitas tentu saja, bukan hanya fokus pada jumlah mahasiswa yang diterima melainkan juga kualitas mahasiswa yang diterima oleh kampus tersebut.

Berbicara tentang input tentu saja tidak bisa lepas dari seleksi masuk. Bagi perguruan tinggi negeri, seleksi masuk, sedikitnya, terdiri dari tiga macam. Yaitu, seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN), seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN), dan seleksi mandiri.

Bila ditinjau dari pengalaman yang terjadi, SNM PTN selalu mengalami ironi. Tak sedikit siswa yang memiliki kemampuan tinggi harus menggigit jari karena tidak bisa lolos SNM PTN. Seleksi ini memusatkan pada hasil rapor dan track record prestasi non-akademik, seperti sertifikat-sertifikat lomba dan lain sebagainya. Anehnya, khususnya di sekolah saya dahulu, siswa yang terkenal pandai di sekolah tidak bisa lolos SNM PTN. Sementara siswa yang prestasinya biasa-biasa saja atau bahkan tidak memiliki prestasi mengagumkan dapat lolos dengan mulus.

Terlepas dari spekulasi takdir, dapat diperhatikan bahwa seleksi jalur SNM PTN seringkali meleset dari yang diharapkan. Saya ambil contoh seorang sahabat saya di MAN Sumenep dahulu. Dia bernama Fatimatul Fatmariyah. Mengenai kepandaiannya, khususnya di bidang mata pelajaran akuntansi sudah cukup teruji. Saat mengikuti kompetisi akuntasi di perguruan tinggi negeri di Jember, dia meraih juara I se-Jawa Timur. Dengan sangat bahagia, dia juga mendapat piala bupati.

Melalui prestasi yang membanggakan itu, dia pun bisa optimis untuk lolos SNM PTN di perguruan tinggi negeri di Jember tempat dia mengikuti kompetisi tersebut. Namun, apa yang terjadi? Dia harus menggigit jari karena dia ditolak di perguruan tinggi tersebut. Bahkan, dia melanjutkan ke tes jalur SBM PTN dengan salah satu pilihan perguruan tinggi yang dituju adalah perguruan tinggi di Jember itu. Akan tetapi, lagi-lagi dia tidak lolos.

Alhasil, agar tidak menganggur, dia memilih salah satu perguruan tinggi swasta di Sumenep. Dia kuliah selama satu tahun di perguruan tinggi tersebut. Tahun berikutnya, dia ikut tes lagi dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Madura. Saat itu, dia benar-benar mengalami depresi karena merasa kecewa.

Apakah hal yang sama juga berlaku ke tes jalur SBM PTN yang notebene tes tulis? Saya tidak bisa memastikan. Akan tetapi, saat melihat kondisi riil di lapangan maka tidak akan jauh berbeda dengan tes jalur SNM PTN. Keduanya hampir memiliki sifat untung-untungan, kalau tidak mau dikatakan menurut takdirnya. Bahkan hal tersebut terjadi kepada diri saya sendiri. Secara logika, saya tidak pantas lolos di tes SBM PTN, namun faktanya, saya bisa lolos.

Berbeda dengan seleksi mandiri. Seleksi yang dilakukan oleh masing-masing kampus ini mungkin memang lebih tersaring. Setidaknya, hal ini karena selain tes tulis juga diikuti dengan tes wawancara antara pihak kampus dengan calon mahasiswa. Sehingga, pihak kampus dapat melihat calon mahasiswa secara langsung sebelum menerima mahasiswa tersebut.

Meskipun, tak dapat dimungkiri jika seleksi mandiri ini sangat rawan praktik sogok-menyogok. Dan yang lebih mengherankan, saat mahasiswa dari berbagai jalur tersebut diterima, ternyata mahasiswa tersebut tidak jauh berbeda, atau bahkan tidak berbeda sama sekali. Artinya, ketiga jalur seleksi tersebut tidak memberikan cermin tingkat kualitas mahasiswa yang diterima sama sekali.

Jangan dianggap mahasiswa yang diterima lewat seleksi mandiri lebih rendah kualitasnya dari mahasiswa yang diterima lewat seleksi SNM PTN atau SBM PTN. Sebab seperti diurai di atas, pelaksanaan SNM PTN dan SBM PTN sama-sama sering mengalami salah sasaran. Akibatnya, tiga macam jalur seleksi tersebut tidak memberikan jaminan yang kuat dan jelas terhadap kualitas mahasiswa.
Lantas, bila mahasiswa yang merupakan input tersebut sudah tidak memiliki jaminan kualitas yang tinggi, bagaimana sebuah kampus dapat mengharapkan output yang berkualitas? Tentu saya tidak bisa memberikan pandangan yang psimis. Namun, tetap perlu disadari bahwa dengan melihat kondisi yang demikian maka tugas kampus menjadi sangat berat. Kampus sebagai tempat berproses harus benar-benar memberikan dukungan penuh kepada mahasiswanya. Harapannya, meskipun input­­-nya tak begitu bagus, melalui proses yang bagus, maka output-nya bisa bagus. Bagaimana dengan kampus kita? Salam.


Surabaya, 30 Maret 2015

Sabtu, 08 Agustus 2015

Manfaatkan Liburan dengan Belajar Alquran

Warniatin (kanan) dan suaminya, Abdul Yahman (kiri) di Aula Nurul Falah Surabaya, 26 Juni 2015.
Kesenangannya dalam belajar dan mengajar Alquran sudah tumbuh sejak dini. Itulah gambaran sosok perempuan bernama Warniatin ini. Ibu satu anak tersebut sudah mengajarkan Alquran bagi anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA.

Ia menegaskan bahwa membaca Alquran merupakan salah satu amalan yang sangat mulia. Allah SWT melimpahkan pahalanya dalam setiap huruf yang dibaca. Selain itu, menurut Warniatin, membaca Alquran membuat dirinya merasa dekat dengan Sang Maha Pencipta. “Membuat diri kita merasa lega. Seperti curhat kepada Allah,” tutur perempuan kelahiran Riau, 9 Juni 1979, itu.

Untuk itu, perempuan yang kini tinggal di Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ini tidak mau menyia-nyiakan waktu liburannya. Ia bersama suaminya, Abdul Yahman, menyempatkan diri untuk belajar Alquran di Pesantren Alquran Nurul Falah Surabaya selama dua minggu.

“Sebenarnya kami mau liburan ke rumah saya di Nganjuk. Tapi, kami sengaja menyempatkan diri untuk memperdalam ilmu Alquran dulu di sini selama dua minggu. Meskipun rasanya masih kurang, namun waktu tidak memungkinkan. Kami sudah ditunggu keluarga,” jelas Abdul Yahman, yang merupakan asli Nganjuk, Jawa Timur.

Ada dua alasan Warniatin dan Abdul Yahman masih ingin menimba ilmu Alquran meskipun sudah memiliki satu anak. Pertama, Warniatin merasa bahwa pelafalan makhorijul huruf yang dimiliki masih banyak kekurangan. Kedua, dia ingin menerapkan ilmu membaca Alquran di TPQ Babussalam, tempat dirinya mengajar.

Sejak kecil, Warniatin seringkali berpindah-pindah tempat belajar mengaji. Hal ini karena Warniatin kecil ikut orang tuanya bekerja. Terakhir, Warniatin ikut orang tuanya transmigrasi dari Riau ke Kalimantan Utara. Kondisi inilah yang sebenarnya menyebabkan Warniatin kecil tidak bisa belajar mengaji hanya pada satu orang guru sehingga memengaruhi pola pelafalannya juga.

Meskipun Warniatin tidak memiliki latar belakang santri, namun bukan berarti tidak bisa mengajarkan Alquran kepada orang lain. Warniatin mengaku bahwa dirinya telah mengajar Alquran kepada anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA. Dia merasa terpanggil setelah melihat anak-anak yang bermain dan tidak bisa mengaji. “Daripada hanya bermain, saya panggil mereka ke rumah untuk diajari mengaji,” paparnya.

Hingga kini, setiap pagi Warniatin harus mengajar di TK dan saat sore hari dia mengajar di TPQ Babussalam. Meskipun sibuk, namun hal ini tidak menyurutkan dirinya untuk mengaji sendiri bersama keluarga di rumah. Sembari menunggu anak-anak yang ingin belajar mengaji setelah maghrib, Warniatin mengaji sendiri.

“Jadi, anak-anak yang tidak bisa datang ke TPQ waktu sore hari, mereka datang ke rumah untuk belajar. Sambil menunggu itu, saya mengaji sendiri,” ungkap ibu dari Angger Satrio Wicaksono tersebut.

Sebenarnya, Taman Pendidikan Alquran (TPA/TPQ) Babussalam itu sendiri merupakan hasil inisiasi Abdul Yahman, suami Warniatin. Abdul merasa perlu didirikan TPQ agar anak-anak di Desa Sabanar Baru, tempat dia dengan keluarga tinggal, khususnya bisa membaca Alquran.

Abdul melihat, banyak anak-anak di sekitarnya yang belum bisa mengaji. Padahal, menurutnya, tahu mengaji merupakan hal yang sangat penting bagi diri anak. “Setidaknya untuk bisa mendoakan orang tuanya,” tegasnya.

Setelah Abdul diangkat menjadi pengurus di masjid yang baru berdiri di dekat kediamannya, Abdul langsung mengusulkan untuk didirikan TPQ. Seiring izin Allah SWT, semua pengurus setuju. Maka, berdirilah TPQ Babussalam pada September 2013 dengan salah satu pengurusnya Abdul sendiri.

Langkah yang dilakukan untuk menghidupkan TPQ itu adalah menarik guru-guru ngaji yang biasa mengajar di rumahnya masing-masing, seperti Warniatin. Termasuk menyebarkan surat edaran kepada warga sekitar sebagai bentuk promosi. “Sekarang santrinya sudah mencapai 78 orang,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya mengundang perwakilan dari Nurul Falah ke tempatnya untuk melatih guru-guru dalam mengajar Alquran. “Metode tilawati ini cocok untuk anak-anak. Dengan cara selalu diulang-ulang, anak-anak akan mudah ingat. Apalagi dilagukan, sehingga anak-anak suka dan tidak bosan,” tambah Warniatin.

Abdul Yahman, suami Warniatin, berprofesi sebagai swasta di bidang kontraktor. Karena kesibukan yang dimilikinya, pria kelahiran Nganjuk, 15 Juli 1977, tersebut harus pandai membagi waktu. Waktu pagi hingga sore dia gunakan untuk bekerja. Setelah itu, baru dirinya mengurus TPQ.

Selain itu, Abdul dan Warniatin memiliki harapan tersendiri untuk anaknya, Angger. Mereka berharap, kelak anak tunggalnya itu bisa menjadi hafiz. Karena itu, Angger selalu diajak ikut saat mereka belajar mengaji ,bahkan saat mereka belajar di Nurul Falah pada 15—27 Juni 2015.

“Rencana memang mau diikutkan belajar mengaji bersama teman-teman sebayanya di sini (Nurul Falah Surabaya, Red). Tapi, kebetulan sedang liburan. Jadi, ya ikut kami saja saat belajar,” papar Abdul saat diwawancarai di musala Nurul Falah Surabaya. 


Penulis: Syaiful Rahman
Editor  : Eko Prasetyo


*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Agustus 2015

Ramadhan, Cara Islam Mengajari dengan Pembiasaan

Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono, M.S. (kanan) bersama saya (kiri) di ruangan rektor, 19 Juni 2015.
Dikenal sebagai sosok yang ramah dan egaliter, Prof. Dr. Warsono, M.S. menjadi salah satu guru besar favorit di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kalangan para mahasiswa. Pada Agustus 2014, pria kelahiran Boyolali tersebut dikukuhkan sebagai rektor Unesa masa bakti 2014-2018 dan dilantik oleh Mendikbud Moh. Nuh. Majalah Nurul Falah berhasil mewawancarai Prof. Warsono yang berbagi inspirasi.

******

Selain dikenal concern terhadap dunia pendidikan, Warsono memiliki kepedulian terhadap pentingnya spiritualitas. Dia menegaskan bahwa agama adalah salah satu sumber pendidikan karakter. ”Dalam agama kita diajari attitude yang baik,” ungkapnya.

Pandangan Terhadap Pendidikan

Alumnus ilmu filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) itu memiliki perhatian dan pandangan yang mendalam terkait pendidikan. Menurut dia, pendidikan merupakan suatu yang hakiki dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan mampu berkembang secara optimal dalam menjalani kehidupan.

”Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang lemah fisik. Kekuatan manusia terletak pada akal (kemampuan berpikir)-nya. Namun, tanpa pendidikan, kemampuan berpikir tak akan berkembang optimal,” terangnya. Proses pendidikan itu sendiri berlangsung di keluarga, di masyarakat, dan di sekolah. Masing-masing tempat proses memiliki penekanan tersendiri.

Pendidikan yang diperoleh dalam lingkungan keluarga tidak seperti yang didapatkan dalam lingkungan sekolah atau di masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, seorang individu lebih banyak belajar tentang karakter. Seorang individu mendapat pelajaran dari orang tua mulai dari hal-hal yang praktis hingga nilai-nilai yang dianut dan diyakini keluarga.

”Keluarga menjadi lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi setiap anak, sebab di situlah anak-anak untuk pertama kalinya memperoleh pengetahuan dan pendidikan terkait nilai-nilai,” jelasnya.

Sementara itu, pendidikan yang diperoleh dalam masyarakat lebih menekankan pada nilai dan norma dalam berinteraksi di lingkungan sosialnya. Seorang individu dituntut belajar dan mengikuti nilai dan norma yang berlaku agar bisa diterima di masyarakatnya. ”Nilai dan norma tersebut terus ditanamkan ke setiap generasi baru agar mereka memahami bagaimana harus bersikap dan bertindak di lingkungan sosialnya,” jelas pria kelahiran 19 Mei 1960 itu.

Selanjutnya, seorang individu mendapat pendidikan di sekolah. Dalam lembaga pendidikan sekolah, pendidikannya lebih terstruktur dan terencana. Sebab, pendidikan di sekolah memang dirancang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan.

”Dalam lembaga pendidikan di sekolah, yang lebih banyak dikembangkan adalah kemampuan knowledge dan skill seorang individu,” terangnya. Secara umum, menurut Warsono, pendidikan memiliki arti penting bagi tiga aspek, yaitu bagi anak itu sendiri, bagi keluarga atau masyarakat, serta bagi bangsa dan negara.

Demikian pentingnya sebuah pendidikan dalam kehidupan seorang manusia, Warsono berharap agar konsep pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan potensi peserta didik dan mempersiapkan tugasnya di masa depan, tetapi juga harus ditujukan untuk kehidupan itu sendiri.

”Pendidikan harus diorientasikan pada pembentukan manusia-manusia yang bisa mengemban tugas sebagai khalifatullah fil ardhi. Pendidikan harus diorientasikan untuk memanusiakan manusia,” jelas dia sembari mengutip pendapat Dick Hartoko.

Pendidikan dan Ramadhan

Warsono menjelaskan, dalam melihat Ramadhan, kita harus bisa memisahkan apakah kita akan melihat bulan Ramadhannya atau melihat dari sisi perintahnya di bulan Ramadhan. Jika melihat dari sisi bulannya, maka sebenarnya Ramadhan tidak memiliki hal yang istimewa, bagai rutinitas semata yang selalu dijalani setiap tahun. ”Bulan itu tidak ada esensinya,” tegasnya.

Akan tetapi, jika Ramadhan dilihat dari sisi perintahnya (baca: puasa), maka Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam bulan Ramadhan seorang manusia diberi ruang untuk merenungkan kembali kehidupan dirinya. ”Kita diberi cermin untuk mengetahui siapa dirinya,” tutur guru besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya itu.

Di bulan Ramadhan, seorang manusia dapat mengukur dirinya sendiri. Di bulan suci ini, seorang muslim diuji komitmen pribadinya. ”Dalam berpuasa, sebenarnya seseorang berjanji kepada Allah dan kepada dirinya sendiri,” katanya.

Seseorang, tambah dia, tidak akan ada yang tahu apakah dia berpuasa atau tidak. Yang tahu hanya dirinya sendiri dan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah sendiri yang akan menilai orang yang berpuasa.

Selain itu, yang paling penting juga di bulan Ramadhan adalah proses pembiasaan. Setiap muslim dibiasakan untuk selalu bertingkah laku dan bertutur kata yang baik. Setiap muslim dibiasakan untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Menurut Warsono, pembiasaan ini merupakan contoh model pembelajaran dari sebuah proses pendidikan yang diberikan oleh Islam. Semestinya, waktu satu bulan sudah cukup untuk membangun sebuah kebiasaan diri sehingga, kebiasaan berbuat baik akan terus dilakukan meskipun bulan Ramadhan telah usai.

”Bagi orang yang memang sudah biasa melakukan amal baik, kehadiran bulan Ramadhan tentu tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan biasa. Misalnya, sudah biasa melakukan salat malam dan salat-salat sunah yang lain, tentu kedatangan bulan Ramadhan tidak akan jauh memberikan perubahan. Berbeda dengan orang yang tidak terbiasa,” tuturnya.


Ramadhan juga mengajarkan banyak nilai moral. Misalnya, kita turut merasakan kusulitan yang dialami orang-orang berkekurangan dari sisi ekonomi. Karena itu, kata Warsono, Unesa akan memberikan keringanan biaya bagi kalangan mahasiswa yang mengalami kesulitan di bidang ekonomi. ”Unesa akan menerapkan beasiswa Bidik Misi. Bila perlu, kuota penerimaan Bidik Misi ditambah,” ujar bapak dua anak itu. 


Penulis: Syaiful Rahman
Editor  : Eko Prasetyo


*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Juli 2015