Saya lupa entah kapan
tepatnya, suatu saat saya ditugaskan untuk mewawancarai salah seorang dosen
dari fakultas saya. Karena saya dibebaskan memilih dosen yang mana saja, saya
memilih Hendry Cahyono, S.E., M.M. Beliau sangat dekat dengan mahasiswa dan
beliau juga berdarah Madura, satu tanah air dengan diri saya sendiri.
Wawancara yang kami
lakukan adalah seputar pembangunan kampus saya tercinta, Universitas Negeri
Surabaya (Unesa). Saat saya tanya, menurut pandangan beliau, apa modal utama
Unesa untuk bisa bersaing di kancah nasional hingga internasional? Dengan tegas
beliau menjawab: MAHASISWA.
Beliau menjelaskan
bahwa mahasiswa merupakan modal utama terhadap perkembangan kampus ke depan.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga akan menjadi orang yang ada di garda terdepan
untuk memperbaiki bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sebagai lembaga
pendidikan, Unesa dituntut untuk mengoptimalkan penggunaan modal tersebut
(mahasiswa) sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Tanpa mahasiswa, sebuah
kampus bagai presiden tanpa rakyat. Begitu juga, meskipun sebuah kampus
memiliki mahasiswa yang banyak namun tidak berkualitas maka sama dengan singa
ompong. Dari sana kemudian dapat dipahami betapa pentingnya peran mahasiswa
sebagai modal utama sebuah kampus.
Namun demikian, ketika
membicarakan mahasiswa sebagai modal maka akan berlaku teori ekonomi. Meskipun
tidak selamanya, akan tetapi sudah umum dipahami, kualitas input menentukan kualitas output.
Artinya, agar sebuah kampus tersebut berkualitas tentu saja, bukan hanya
fokus pada jumlah mahasiswa yang diterima melainkan juga kualitas mahasiswa
yang diterima oleh kampus tersebut.
Berbicara tentang input tentu saja tidak bisa lepas dari
seleksi masuk. Bagi perguruan tinggi negeri, seleksi masuk, sedikitnya, terdiri
dari tiga macam. Yaitu, seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM
PTN), seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN), dan seleksi
mandiri.
Bila ditinjau dari
pengalaman yang terjadi, SNM PTN selalu mengalami ironi. Tak sedikit siswa yang
memiliki kemampuan tinggi harus menggigit jari karena tidak bisa lolos SNM PTN.
Seleksi ini memusatkan pada hasil rapor dan track
record prestasi non-akademik, seperti sertifikat-sertifikat lomba dan lain
sebagainya. Anehnya, khususnya di sekolah saya dahulu, siswa yang terkenal
pandai di sekolah tidak bisa lolos SNM PTN. Sementara siswa yang prestasinya
biasa-biasa saja atau bahkan tidak memiliki prestasi mengagumkan dapat lolos
dengan mulus.
Terlepas dari spekulasi
takdir, dapat diperhatikan bahwa seleksi jalur SNM PTN seringkali meleset dari
yang diharapkan. Saya ambil contoh seorang sahabat saya di MAN Sumenep dahulu.
Dia bernama Fatimatul Fatmariyah. Mengenai kepandaiannya, khususnya di bidang
mata pelajaran akuntansi sudah cukup teruji. Saat mengikuti kompetisi akuntasi
di perguruan tinggi negeri di Jember, dia meraih juara I se-Jawa Timur. Dengan
sangat bahagia, dia juga mendapat piala bupati.
Melalui prestasi yang
membanggakan itu, dia pun bisa optimis untuk lolos SNM PTN di perguruan tinggi
negeri di Jember tempat dia mengikuti kompetisi tersebut. Namun, apa yang
terjadi? Dia harus menggigit jari karena dia ditolak di perguruan tinggi
tersebut. Bahkan, dia melanjutkan ke tes jalur SBM PTN dengan salah satu
pilihan perguruan tinggi yang dituju adalah perguruan tinggi di Jember itu.
Akan tetapi, lagi-lagi dia tidak lolos.
Alhasil, agar tidak
menganggur, dia memilih salah satu perguruan tinggi swasta di Sumenep. Dia
kuliah selama satu tahun di perguruan tinggi tersebut. Tahun berikutnya, dia
ikut tes lagi dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Madura.
Saat itu, dia benar-benar mengalami depresi karena merasa kecewa.
Apakah hal yang sama
juga berlaku ke tes jalur SBM PTN yang notebene tes tulis? Saya tidak bisa
memastikan. Akan tetapi, saat melihat kondisi riil di lapangan maka tidak akan
jauh berbeda dengan tes jalur SNM PTN. Keduanya hampir memiliki sifat
untung-untungan, kalau tidak mau dikatakan menurut takdirnya. Bahkan hal
tersebut terjadi kepada diri saya sendiri. Secara logika, saya tidak pantas
lolos di tes SBM PTN, namun faktanya, saya bisa lolos.
Berbeda dengan seleksi
mandiri. Seleksi yang dilakukan oleh masing-masing kampus ini mungkin memang
lebih tersaring. Setidaknya, hal ini karena selain tes tulis juga diikuti
dengan tes wawancara antara pihak kampus dengan calon mahasiswa. Sehingga,
pihak kampus dapat melihat calon mahasiswa secara langsung sebelum menerima
mahasiswa tersebut.
Meskipun, tak dapat
dimungkiri jika seleksi mandiri ini sangat rawan praktik sogok-menyogok. Dan
yang lebih mengherankan, saat mahasiswa dari berbagai jalur tersebut diterima,
ternyata mahasiswa tersebut tidak jauh berbeda, atau bahkan tidak berbeda sama
sekali. Artinya, ketiga jalur seleksi tersebut tidak memberikan cermin tingkat
kualitas mahasiswa yang diterima sama sekali.
Jangan dianggap
mahasiswa yang diterima lewat seleksi mandiri lebih rendah kualitasnya dari
mahasiswa yang diterima lewat seleksi SNM PTN atau SBM PTN. Sebab seperti
diurai di atas, pelaksanaan SNM PTN dan SBM PTN sama-sama sering mengalami
salah sasaran. Akibatnya, tiga macam jalur seleksi tersebut tidak memberikan
jaminan yang kuat dan jelas terhadap kualitas mahasiswa.
Lantas,
bila mahasiswa yang merupakan input tersebut
sudah tidak memiliki jaminan kualitas yang tinggi, bagaimana sebuah kampus
dapat mengharapkan output yang
berkualitas? Tentu saya tidak bisa memberikan pandangan yang psimis. Namun,
tetap perlu disadari bahwa dengan melihat kondisi yang demikian maka tugas
kampus menjadi sangat berat. Kampus sebagai tempat berproses harus benar-benar
memberikan dukungan penuh kepada mahasiswanya. Harapannya, meskipun input-nya tak begitu bagus, melalui
proses yang bagus, maka output-nya
bisa bagus. Bagaimana dengan kampus kita? Salam.
Surabaya,
30 Maret 2015