Tak sedikit orang yang
senang melihat sesuatu hanya bungkusnya. Termasuk peristiwa yang pernah saya
alami waktu masih duduk di kelas tiga MAN. Siapapun tahu kalau Jogja adalah
kota pendidikan nomor satu. Dari sana bermunculan banyak cendikiawan dan juga
penulis-penulis andal. Tak heran bila melihat koran dihiasi oleh
penulis-penulis yang berasal dari Jogja. Saya juga sangat menyadari hal itu.
Saya sangat ingin pergi
ke kota pendidikan tersebut. Saya ingin tahu bagaimana suasana akademik di
sana. Saya pun ingin melanjutkan pendidikan ke sana waktu itu. Namun, orang tua
saya tidak memiliki uang untuk membiayai saya pergi ke sana jika hanya untuk
jalan-jalan. Untuk mengirim saya saja setiap bulan di Ma’had, rasanya orang tua
harus pontang-panting pinjam sana-pinjam sini. Kerja hingga lembur tiap malam.
Saya berpikir keras
mencari dana untuk itu. Saya mencoba untuk mengurangi jajan dan menyisihkan uang
untuk disimpan dengan harapan nanti bisa berangkat ke sana dengan uang sendiri.
Namun, hal itu pun tidak mungkin saya lakukan. Kadangkala, dalam satu bulan
saya hanya diberi uang dua puluh ribu rupiah. Padahal untuk tugas sekolah dan
juga untuk membeli lauk setiap hari sudah sangat mepet.
Namun, saya sangat
bersyukur karena pada suatu hari ada lomba menulis esai pendidikan yang
dilaksanakan oleh UIN Sunan Kalijaga. Itu adalah kampus Kakak kandung saya.
Saya diberitahu oleh seorang teman. Saya memang belum pernah menulis esai.
Sejak SMP hingga MAN saya selalu belajar menulis puisi. Tapi, ini adalah
kesempatan bagi saya. Sebab kalau saya masuk ke dalam tiga besar maka saya akan
diundang ke sana untuk presentasi dan yang lebih menyenangkan adalah biaya
transportasi ditanggung penyelenggara lomba.
Guru bahasa Indonesia
meragukan saya untuk ikut dalam lomba tersebut dengan alasan, Jogja adalah kota
para penulis. Jadi, katanya, saya akan sulit untuk menang. Namun, saya termasuk
orang yang keras kepala. Dengan tegas, saya mengatakan, “Siswa Jogja juga
manusia. Mereka juga makan nasi. Sama dengan saya. Mungkin yang beda hanya lauknya.
Setidaknya, kalau saya ikut maka saya punya harapan, tapi kalau saya tidak ikut
apa yang bisa saya harapkan?”
Selama dua malam, saya
lembur. Saya tidur hingga larut malam untuk mengerjakan esai tersebut. Saya
meminjam laptop ke teman karena waktu itu saya belum memiliki laptop. Saya pun
harus menunggu laptop itu tidak digunakan. Itulah kenapa saya bekerja hingga
larut malam karena menunggu hingga dia tidur. Saya mengerjakan seorang diri di
depan tempat pengimaman, masjid Ar-Rosidi.
Dengan harap-harap
cemas, saya mengirimkan esai saya. Waktu itu, sahabat saya yang sudah pernah
menang dalam lomba menulis esai tingkat Jawa Timur juga mengirimkan tulisannya.
Sebenarnya, melihat dia juga mengirimkan karyanya, saya merasa minder namun
saya tetap nekad. Dengan penuh kesabaran saya menunggu pengumuman yang katanya
akan dihubungi lewat sms.
Pada Jumat, setelah
salat Jumat, saya membuka hp yang ada di lemari. Senang bercampur tidak percaya
karena ternyata tulisan saya masuk dalam tiga besar. Segera saya hubungi Bapak
untuk menyiapkan ongkos berangkat ke Jogja. Tentu saja Bapak tidak keberatan
karena ini merupakan proses akademik pula. Bapak menyanggupi. Saya juga
menghadap ke wakil kepala sekolah untuk meminta izin tidak masuk sekolah. Saya
juga diberi uang transportasi ke sana. “Apakah butuh guru pendamping?” tanya
wakil kepala sekolah bidang kesiswaan waktu itu. Tapi saya jawab, “Tidak. Di
sana sudah ada Kakak saya.” Sebenarnya, alasan saya tidak meminta guru
pendamping karena saya ingin jalan-jalan di Jogja. Kalau didampingi tentu saya
tidak bebas di sana.
Akhirnya, impian saya
untuk pergi ke Jogja pun tercapai. Sebagian hadiahnya saya gunakan untuk
membeli buku dan sebagian lagi saya berikan kepada orang tua. Saya harap kedua
orang tua saya senang dan dengan uang tersebut dapat mengurangi sedikit
hutangnya. Salah satu juri mengatakan bahwa alasan tulisan saya diterima karena
judulnya yang menarik dan tulisannya ringan. Judul esai saya adalah “Galau:
Mengintip Dunia Pendidikan Indonesia”.
Dalam presentasi tersebut,
saya adalah orang yang paling sederhana. Kalau finalis lain memakai proyektor
maka saya hanya duduk di kursi tanpa memakai peralatan apa pun kecuali kertas
yang berisi karya saya dan sebuah bolpoin pilot. Kalau finalis lain didampingi
oleh guru dan teman-temannya di ruangan itu, justru saya seorang diri karena
Kakak saya tidak ikut masuk ke ruangan. Dia menunggu di lantai satu.
Saya presentasi apa
adanya dan menjawab semua pertanyaan dewan juri berdasarkan apa yang saya
ketahui. Kebetulan landasan utama tulisan saya adalah UUD 1945 jadi semua
pertanyaan saya larikan ke sana. Saya juga tidak menggunakan teori para filsuf
sebagaimana yang dipakai oleh peserta yang lain. Itulah kenapa saya sempat
minder kalau saya kalah dan tidak mendapat juara satu. Namun, ternyata setelah
pengumuman, saya dinobatkan sebagai juara pertama.
Dari situlah saya
kemudian mengambil pelajaran bahwa semestinya kita tidak perlu melihat dari
mana dia berasal. Sebab siapa pun memiliki kesempatan yang sama. Tinggal
bagaimana setiap orang mau berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan. Tidak
semua yang ada di Jogja benar-benar pandai dan tidak semua yang ada di pelosok
benar-benar terbelakang. Di mana pun ada kegelapan di situ pasti ada setitik
cahaya. Begitu sebaliknya, di mana pun ada cahaya di situ pasti ada setitik
gelap. Wallahu a’lam!
Surabaya, 26
Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar