Label

Senin, 03 Agustus 2015

Saya Pun Pernah Diragukan

Tak sedikit orang yang senang melihat sesuatu hanya bungkusnya. Termasuk peristiwa yang pernah saya alami waktu masih duduk di kelas tiga MAN. Siapapun tahu kalau Jogja adalah kota pendidikan nomor satu. Dari sana bermunculan banyak cendikiawan dan juga penulis-penulis andal. Tak heran bila melihat koran dihiasi oleh penulis-penulis yang berasal dari Jogja. Saya juga sangat menyadari hal itu.

Saya sangat ingin pergi ke kota pendidikan tersebut. Saya ingin tahu bagaimana suasana akademik di sana. Saya pun ingin melanjutkan pendidikan ke sana waktu itu. Namun, orang tua saya tidak memiliki uang untuk membiayai saya pergi ke sana jika hanya untuk jalan-jalan. Untuk mengirim saya saja setiap bulan di Ma’had, rasanya orang tua harus pontang-panting pinjam sana-pinjam sini. Kerja hingga lembur tiap malam.

Saya berpikir keras mencari dana untuk itu. Saya mencoba untuk mengurangi jajan dan menyisihkan uang untuk disimpan dengan harapan nanti bisa berangkat ke sana dengan uang sendiri. Namun, hal itu pun tidak mungkin saya lakukan. Kadangkala, dalam satu bulan saya hanya diberi uang dua puluh ribu rupiah. Padahal untuk tugas sekolah dan juga untuk membeli lauk setiap hari sudah sangat mepet.

Namun, saya sangat bersyukur karena pada suatu hari ada lomba menulis esai pendidikan yang dilaksanakan oleh UIN Sunan Kalijaga. Itu adalah kampus Kakak kandung saya. Saya diberitahu oleh seorang teman. Saya memang belum pernah menulis esai. Sejak SMP hingga MAN saya selalu belajar menulis puisi. Tapi, ini adalah kesempatan bagi saya. Sebab kalau saya masuk ke dalam tiga besar maka saya akan diundang ke sana untuk presentasi dan yang lebih menyenangkan adalah biaya transportasi ditanggung penyelenggara lomba.

Guru bahasa Indonesia meragukan saya untuk ikut dalam lomba tersebut dengan alasan, Jogja adalah kota para penulis. Jadi, katanya, saya akan sulit untuk menang. Namun, saya termasuk orang yang keras kepala. Dengan tegas, saya mengatakan, “Siswa Jogja juga manusia. Mereka juga makan nasi. Sama dengan saya. Mungkin yang beda hanya lauknya. Setidaknya, kalau saya ikut maka saya punya harapan, tapi kalau saya tidak ikut apa yang bisa saya harapkan?”

Selama dua malam, saya lembur. Saya tidur hingga larut malam untuk mengerjakan esai tersebut. Saya meminjam laptop ke teman karena waktu itu saya belum memiliki laptop. Saya pun harus menunggu laptop itu tidak digunakan. Itulah kenapa saya bekerja hingga larut malam karena menunggu hingga dia tidur. Saya mengerjakan seorang diri di depan tempat pengimaman, masjid Ar-Rosidi.

Dengan harap-harap cemas, saya mengirimkan esai saya. Waktu itu, sahabat saya yang sudah pernah menang dalam lomba menulis esai tingkat Jawa Timur juga mengirimkan tulisannya. Sebenarnya, melihat dia juga mengirimkan karyanya, saya merasa minder namun saya tetap nekad. Dengan penuh kesabaran saya menunggu pengumuman yang katanya akan dihubungi lewat sms.

Pada Jumat, setelah salat Jumat, saya membuka hp yang ada di lemari. Senang bercampur tidak percaya karena ternyata tulisan saya masuk dalam tiga besar. Segera saya hubungi Bapak untuk menyiapkan ongkos berangkat ke Jogja. Tentu saja Bapak tidak keberatan karena ini merupakan proses akademik pula. Bapak menyanggupi. Saya juga menghadap ke wakil kepala sekolah untuk meminta izin tidak masuk sekolah. Saya juga diberi uang transportasi ke sana. “Apakah butuh guru pendamping?” tanya wakil kepala sekolah bidang kesiswaan waktu itu. Tapi saya jawab, “Tidak. Di sana sudah ada Kakak saya.” Sebenarnya, alasan saya tidak meminta guru pendamping karena saya ingin jalan-jalan di Jogja. Kalau didampingi tentu saya tidak bebas di sana.

Akhirnya, impian saya untuk pergi ke Jogja pun tercapai. Sebagian hadiahnya saya gunakan untuk membeli buku dan sebagian lagi saya berikan kepada orang tua. Saya harap kedua orang tua saya senang dan dengan uang tersebut dapat mengurangi sedikit hutangnya. Salah satu juri mengatakan bahwa alasan tulisan saya diterima karena judulnya yang menarik dan tulisannya ringan. Judul esai saya adalah “Galau: Mengintip Dunia Pendidikan Indonesia”.

Dalam presentasi tersebut, saya adalah orang yang paling sederhana. Kalau finalis lain memakai proyektor maka saya hanya duduk di kursi tanpa memakai peralatan apa pun kecuali kertas yang berisi karya saya dan sebuah bolpoin pilot. Kalau finalis lain didampingi oleh guru dan teman-temannya di ruangan itu, justru saya seorang diri karena Kakak saya tidak ikut masuk ke ruangan. Dia menunggu di lantai satu.

Saya presentasi apa adanya dan menjawab semua pertanyaan dewan juri berdasarkan apa yang saya ketahui. Kebetulan landasan utama tulisan saya adalah UUD 1945 jadi semua pertanyaan saya larikan ke sana. Saya juga tidak menggunakan teori para filsuf sebagaimana yang dipakai oleh peserta yang lain. Itulah kenapa saya sempat minder kalau saya kalah dan tidak mendapat juara satu. Namun, ternyata setelah pengumuman, saya dinobatkan sebagai juara pertama.

Dari situlah saya kemudian mengambil pelajaran bahwa semestinya kita tidak perlu melihat dari mana dia berasal. Sebab siapa pun memiliki kesempatan yang sama. Tinggal bagaimana setiap orang mau berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan. Tidak semua yang ada di Jogja benar-benar pandai dan tidak semua yang ada di pelosok benar-benar terbelakang. Di mana pun ada kegelapan di situ pasti ada setitik cahaya. Begitu sebaliknya, di mana pun ada cahaya di situ pasti ada setitik gelap. Wallahu a’lam!


Surabaya, 26 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar