Label

Selasa, 04 Agustus 2015

Mengedepankan Keinginan bukan Kehebatan

Mencermati pelajaran keenam tentang menulis dari Dr. Suyatno, M.Pd. membuat otak berpikir lebih mendalam. Beliau menuturkan, “Menulis hebat bukan dari kehebatan tetapi dari keinginan menuangkan tulisan yang sudah ada dalam pikiran.” Secara sederhana, dengan pernyataan tersebut, kita diajak lebih banyak bertindak daripada mengangungkan kehebatan dalam pikiran.

Sudah mafhum, banyak sekali orang yang pandai dan hebat dalam melontarkan ide-idenya secara verbal namun tidak dapat melontarkan ide-idenya melalui tulisan. Ada pula sebaliknya, dapat menuliskan ide-idenya yang sederhana namun tidak dapat mem-verbal-kan idenya. Sungguh luar biasa jika seseorang memiliki kemampuan di keduanya.

Akan tetapi, pembicaraan kita di sini tidak akan membahas mengenai kehebatan ide yang dicurahkan secara verbal. Di sini kita akan membahas bagaimana menuliskan ide-ide hebat yang kita miliki sesuai dengan pernyataan di atas. Jadi, seberapa hebat pun ide yang kita miliki jika tidak dituliskan maka ide tersebut akan sia-sia belaka.

Pemikiran besar yang tidak ditulis akan lenyap ditelan masa namun pemikiran yang (meskipun dapat dibilang) kecil jika dituliskan maka akan abadi. Hal ini sesuai dengan ucapan Pramoedya Ananta Toer (novelis), “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Oleh karena itu, melalui pembahasan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat untuk menuliskan ide-ide yang kita miliki.

Menulis hebat sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Suyatno, M.Pd. di atas menekankan pada hasil tulisan yang hidup sepanjang masa. Dapat dengan mudah kita jumpai tulisan-tulisan hebat yang tidak habis ditelan masa hingga sekarang. Salah satunya adalah novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang hingga kini masih menghiasi toko buku-toko buku Gramedia, Toga Mas, dan lain-lain. Padahal kalau melihat waktu penulisannya sudah sangat lama.

Atau tulisan yang jauh lebih tua lagi adalah kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Gazali yang hingga kini masih digandrungi di pesantren-pesantren. Kitab tersebut bahkan dijadikan pertimbangan hukum dalam penetapan hukum Islam. Padahal Imam al-Gazali sendiri sudah wafat berabad-abad yang lalu. Kedua contoh ini menunjukkan suatu eksistensi ide yang dituliskan.

Namun demikian, lahirnya tulisan yang hebat tersebut tentu tidak serta merta lahir tanpa melalui proses. Sang penulis yang menghasilkan tulisan hebat tentunya melalui proses panjang. Berlatih secara konsisten untuk dapat mengungkapkan ide-idenya ke dalam bentuk tulisan yang hebat.

Inilah yang dimaksud oleh Dr. Suyatno, M.Pd. dalam pernyataannya. Menulis hebat itu bukan karena kehebatannya melainkan karena keinginannya untuk menuliskan pemikirannya. Sebab tanpa dituliskan pemikirannya, sekalipun hebat orang tersebut maka akan hilang sia-sia. Artinya, tulisan yang hebat itu bukanlah karena pemikiran yang dimiliki itu hebat tapi karena pemikiran itu dituliskan.

Di lain kesempatan, Pramoedya Ananta Toer juga pernah mengatakan: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Pernyataan tersebut  secara jelas menunjukkan bahwa betapa pentingnya menuliskan ide-ide yang kita miliki.

Kembali pada pernyataan Dr. Suyatno, M.Pd., keinginan untuk menuliskan ide merupakan hal utama yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Apabila keinginan itu sudah muncul dalam benak kemudian merealisasikan keinginan tersebut, maka penulis tersebut telah melakukan dua hal besar sekaligus. Dua hal besar yang tidak dilakukan oleh semua orang.

Pertama, penulis telah mau berpikir. Ya, berpikir merupakan hal besar yang wajib dilakukan oleh manusia. Tak jarang kita temukan di akhir ayat dalam Al-Quran kalimat afalaa ta’qiluun, afalaa tadzakkaruun, dan lain sebagainya. Semuanya mempertanyakan kepada manusia apakah kamu tidak berpikir. Kalimat tanya yang rasanya tidak memerlukan jawaban melainkan memerlukan refleksi.

Selain itu, dengan berpikir maka seseorang sudah menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan binatang. Bukankah di dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa manusia adalah binatang yang berpikir? Kalau demikian adanya, berarti ada proses sistemik penciptaan makhluk sebagaimana yang dijelaskan Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Mulanya Allah menciptakan makhluk yang tidak bergerak dan juga tidak berpikir. Misalnya batu dan tumbuhan.

Kemudian Allah menciptakan makhluk yang dapat begerak namun belum berpikir, yakni binatang-binatang. Binatang memiliki komponen yang dimiliki oleh makhluk pertama dan ditambah dengan kemampuan begerak secara aktif. Selanjutnya, binatang tersebut ditambah lagi dengan kemampuan berpikir. Yaitu makhluk yang diberi nama manusia.

Oleh karena itu, tak heran jika manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna, sebab dalam diri manusia sudah memiliki kompleksitas atau kemampuan yang lebih baik dibanding dengan makhluk lain. Untuk itulah, yang membedakan antara manusia dengan binatang hanyalah terletak pada berpikir. Jika manusia tidak mau berpikir maka dapatlah disebut bahwa ia tak ubahnya binatang.

Berikutnya adalah kemauan untuk menuliskan hasil pemikirannya. Ini adalah nilai tambah yang dimiliki oleh seorang penulis daripada manusia pada umumnya. Sebab dengan menuliskan pemikiran yang dimiliki maka tidak hanya pemikiran itu akan abadi melainkan juga hasil pemikiran itu dapat menginspirasi pembaca. Setidaknya, pembaca dapat belajar melalui tulisan-tulisan yang berisi pemikiran kita.

Coba kita bayangkan, seandainya Gadjah Mada menuliskan perjalanannya dan juga berbagai pemikirannya yang ingin menyatukan Nusantara, tentu tulisan itu akan sangat hebat. Sayangnya, meskipun Gadjah Mada merupakan orang yang sangat hebat pada masanya, ia tidak menuliskan hasil pemikirannya sama sekali. Yang ditemukan hanyalah Sumpah Pallapa yang itupun bukan tulisannya sendiri. Kini yang ada hanya tulisan-tulisan para sejarawan tentangnya. Namun, bagaimana detailnya sehingga Gadjah Mada memiliki keinginan kuat untuk menyatukan Nusantara tak dapat kita temukan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang penulis untuk menumbuhkan keinginan dan kemauan yang kuat untuk menuliskan hasil-hasil pemikirannya. Sebab dengan keinginan yang kuat itulah, pemikiran hebat dapat dituliskan. Meskipun memiliki pemikiran yang hebat jika tidak memiliki keinginan untuk menuliskannya tentu akan hilang percuma. Sebaliknya, meskipun pemikiran kecil namun memiliki keinginan yang kuat untuk menuliskannya maka tak urung pemikiran tersebut akan abadi. Semoga!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar