Mencermati pelajaran keenam tentang
menulis dari Dr. Suyatno, M.Pd. membuat otak berpikir lebih mendalam. Beliau
menuturkan, “Menulis hebat bukan dari kehebatan tetapi dari keinginan
menuangkan tulisan yang sudah ada dalam pikiran.” Secara sederhana, dengan
pernyataan tersebut, kita diajak lebih banyak bertindak daripada mengangungkan
kehebatan dalam pikiran.
Sudah mafhum, banyak sekali orang yang
pandai dan hebat dalam melontarkan ide-idenya secara verbal namun tidak dapat
melontarkan ide-idenya melalui tulisan. Ada pula sebaliknya, dapat menuliskan
ide-idenya yang sederhana namun tidak dapat mem-verbal-kan idenya. Sungguh luar
biasa jika seseorang memiliki kemampuan di keduanya.
Akan tetapi, pembicaraan kita di sini
tidak akan membahas mengenai kehebatan ide yang dicurahkan secara verbal. Di
sini kita akan membahas bagaimana menuliskan ide-ide hebat yang kita miliki
sesuai dengan pernyataan di atas. Jadi, seberapa hebat pun ide yang kita miliki
jika tidak dituliskan maka ide tersebut akan sia-sia belaka.
Pemikiran besar yang tidak ditulis akan
lenyap ditelan masa namun pemikiran yang (meskipun dapat dibilang) kecil jika
dituliskan maka akan abadi. Hal ini sesuai dengan ucapan Pramoedya Ananta Toer
(novelis), “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Oleh karena itu,
melalui pembahasan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat untuk menuliskan
ide-ide yang kita miliki.
Menulis hebat sebagaimana yang
diungkapkan oleh Dr. Suyatno, M.Pd. di atas menekankan pada hasil tulisan yang
hidup sepanjang masa. Dapat dengan mudah kita jumpai tulisan-tulisan hebat yang
tidak habis ditelan masa hingga sekarang. Salah satunya adalah novel-novel
Pramoedya Ananta Toer yang hingga kini masih menghiasi toko buku-toko buku
Gramedia, Toga Mas, dan lain-lain. Padahal kalau melihat waktu penulisannya
sudah sangat lama.
Atau tulisan yang jauh lebih tua lagi
adalah kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Gazali yang hingga
kini masih digandrungi di pesantren-pesantren. Kitab tersebut bahkan dijadikan
pertimbangan hukum dalam penetapan hukum Islam. Padahal Imam al-Gazali sendiri
sudah wafat berabad-abad yang lalu. Kedua contoh ini menunjukkan suatu
eksistensi ide yang dituliskan.
Namun demikian, lahirnya tulisan yang
hebat tersebut tentu tidak serta merta lahir tanpa melalui proses. Sang penulis
yang menghasilkan tulisan hebat tentunya melalui proses panjang. Berlatih
secara konsisten untuk dapat mengungkapkan ide-idenya ke dalam bentuk tulisan
yang hebat.
Inilah yang dimaksud oleh Dr. Suyatno,
M.Pd. dalam pernyataannya. Menulis hebat itu bukan karena kehebatannya
melainkan karena keinginannya untuk menuliskan pemikirannya. Sebab tanpa
dituliskan pemikirannya, sekalipun hebat orang tersebut maka akan hilang
sia-sia. Artinya, tulisan yang hebat itu bukanlah karena pemikiran yang
dimiliki itu hebat tapi karena pemikiran itu dituliskan.
Di lain kesempatan, Pramoedya Ananta
Toer juga pernah mengatakan: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa
pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai
jauh, jauh di kemudian hari.” Pernyataan tersebut secara jelas menunjukkan
bahwa betapa pentingnya menuliskan ide-ide yang kita miliki.
Kembali pada pernyataan Dr. Suyatno,
M.Pd., keinginan untuk menuliskan ide merupakan hal utama yang harus dimiliki
oleh seorang penulis. Apabila keinginan itu sudah muncul dalam benak kemudian
merealisasikan keinginan tersebut, maka penulis tersebut telah melakukan dua
hal besar sekaligus. Dua hal besar yang tidak dilakukan oleh semua orang.
Pertama, penulis telah mau berpikir. Ya,
berpikir merupakan hal besar yang wajib dilakukan oleh manusia. Tak jarang kita
temukan di akhir ayat dalam Al-Quran kalimat afalaa ta’qiluun, afalaa
tadzakkaruun, dan lain sebagainya. Semuanya mempertanyakan kepada
manusia apakah kamu tidak berpikir. Kalimat tanya yang rasanya tidak memerlukan
jawaban melainkan memerlukan refleksi.
Selain itu, dengan berpikir maka
seseorang sudah menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan binatang. Bukankah di
dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa manusia adalah binatang yang berpikir?
Kalau demikian adanya, berarti ada proses sistemik penciptaan makhluk
sebagaimana yang dijelaskan Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Mulanya Allah
menciptakan makhluk yang tidak bergerak dan juga tidak berpikir. Misalnya batu
dan tumbuhan.
Kemudian Allah menciptakan makhluk yang
dapat begerak namun belum berpikir, yakni binatang-binatang. Binatang memiliki
komponen yang dimiliki oleh makhluk pertama dan ditambah dengan kemampuan
begerak secara aktif. Selanjutnya, binatang tersebut ditambah lagi dengan
kemampuan berpikir. Yaitu makhluk yang diberi nama manusia.
Oleh karena itu, tak heran jika manusia
disebut sebagai makhluk yang paling sempurna, sebab dalam diri manusia sudah
memiliki kompleksitas atau kemampuan yang lebih baik dibanding dengan makhluk
lain. Untuk itulah, yang membedakan antara manusia dengan binatang hanyalah
terletak pada berpikir. Jika manusia tidak mau berpikir maka dapatlah disebut
bahwa ia tak ubahnya binatang.
Berikutnya adalah kemauan untuk
menuliskan hasil pemikirannya. Ini adalah nilai tambah yang dimiliki oleh
seorang penulis daripada manusia pada umumnya. Sebab dengan menuliskan
pemikiran yang dimiliki maka tidak hanya pemikiran itu akan abadi melainkan
juga hasil pemikiran itu dapat menginspirasi pembaca. Setidaknya, pembaca dapat
belajar melalui tulisan-tulisan yang berisi pemikiran kita.
Coba kita bayangkan, seandainya Gadjah
Mada menuliskan perjalanannya dan juga berbagai pemikirannya yang ingin
menyatukan Nusantara, tentu tulisan itu akan sangat hebat. Sayangnya, meskipun
Gadjah Mada merupakan orang yang sangat hebat pada masanya, ia tidak menuliskan
hasil pemikirannya sama sekali. Yang ditemukan hanyalah Sumpah Pallapa yang
itupun bukan tulisannya sendiri. Kini yang ada hanya tulisan-tulisan para
sejarawan tentangnya. Namun, bagaimana detailnya sehingga Gadjah Mada memiliki
keinginan kuat untuk menyatukan Nusantara tak dapat kita temukan.
Oleh karena itu, sangat penting bagi
seorang penulis untuk menumbuhkan keinginan dan kemauan yang kuat untuk
menuliskan hasil-hasil pemikirannya. Sebab dengan keinginan yang kuat itulah,
pemikiran hebat dapat dituliskan. Meskipun memiliki pemikiran yang hebat jika
tidak memiliki keinginan untuk menuliskannya tentu akan hilang percuma.
Sebaliknya, meskipun pemikiran kecil namun memiliki keinginan yang kuat untuk
menuliskannya maka tak urung pemikiran tersebut akan abadi. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar