Dulu, waktu saya masih kecil dan masih
suka bermain layang-layang, kelereng, petak umpet, dan lain-lain, guru-guru
saya sering mengatakan bahwa jika seseorang itu ingin harum maka bertemanlah
dengan pedagang minyak, dan sebaliknya, bila ingin bau maka bertemanlah dengan
pengangkut kotoran.
Saking seringnya kalimat itu dilontarkan
oleh guru bahkan juga oleh sesepuh, kalimat itu akhirnya dapat saya ingat di
luar kepala. Waktu itu saya belum berpikir lebih dari kalimat itu. Saya rasa
itu hal yang biasa-biasa saja. Saking biasanya, tampaknya kalimat itu pun tidak
membekas sama sekali. Kata orang zaman dahulu, masuk telinga kanan dan keluar
telinga kiri.
Kemudian, saat saya masih ngaji di
langgar bersama teman-teman, guru ngaji saya mengajar kitab Ta’lim
al-Muta’allim. Kalau tidak salah itu karya Imam az-Zarnuji. Kitab itu
banyak memberikan pelajaran yang berkaitan dengan orang-orang yang mencari ilmu
atau tholabul ‘ilmi. Salah satu yang masih membekas mengenai
pelajaran dalam kitab itu, yang berkaitan dengan kalimat di atas, adalah
sebagai seorang pencari ilmu maka seyogyanya mencari guru dan teman yang baik.
Ya, lagi-lagi guru saya harus mengaitkan
bab dalam kitab itu dengan kalimat “jika seseorang itu ingin harum maka
bertemanlah dengan pedagang minyak, dan sebaliknya, bila ingin bau maka
bertemanlah dengan pengangkut kotoran.” Sehingga, lama-kelamaan saya pun bisa
menangkap maksud kalimat tersebut.
Tentu saja sangat sederhana, bahwa
perkembangan manusia itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
Senakal-nakalnya orang yang tinggal di lingkungan pesantren pasti dia salat dan
mengaji. Senakal-nakalnya orang yang hidup di lingkungan pendidikan tentulah
dia masih sekolah.
Jadi, istilah pedagang minyak dan
pengangkut kotoran hanyalah metafor dari lingkungan kehidupan. Pedagang minyak
merupakan metafor dari lingkungan yang baik, baik berupa teman, guru, maupun
budaya. Sementara pengangkut kotoran merupakan metafor dari lingkungan yang
buruk.
Pernyataan di atas tampaknya
sangat relevan jika dikaitkan dengan pelajaran kesepuluh tentang menulis
dari Dr. Suyatno, M.Pd. Dalam edisi kesepuluh beliau menjelaskan:
“Bersahabatlah dengan para penulis karena niscaya Anda akan dapat menjadi
penulis. Ikuti cara mereka menulis. Dalami penggayaan yang penulis lakukan.
Tangkaplah alur tulisannya. Lalu, cobalah dengan menulis menurut diri Anda
sendiri.”
Bila dicermati maka dapatlah ditangkap
bahwa Dr. Suyatno, M.Pd. pun sangat mengamini pentingnya sebuah lingkungan
dalam memengaruhi kehidupan penulis. Dengan berteman seorang penulis,
sedikitnya orang tersebut akan terpanggil atau kalau tidak, merasa terketuk
untuk ikut menulis. Memang ada sebuah kebiasaan yang selalu terjadi yakni,
biasanya seorang pedagang akan memiliki banyak teman yang juga berprofesi
sebagai pedagang, biasanya orang yang senang di bidang IT akan memiliki banyak
teman yang juga senang di bidang IT. Singkatnya, biasanya orang itu akan lebih
suka berteman dengan orang yang memiliki kesenangan yang sama. Maka aneh—kalau
tidak mau dikatakan mustahil—bila orang lebih suka berteman dengan orang yang
berlawanan kesenangan.
Sebab itulah, maka sudah semestinya bila
seorang penulis memiliki teman yang juga penulis. Selain karena memiliki
kesukaan yang sama juga dengan berteman seorang penulis, apalagi penulis yang
sudah senior, maka penulis pemula dapat belajar banyak. Penulis pemula dapat
mengetahui dan meneladani proses kreatif penulis senior yang menjadi temannya
itu.
Dan yang juga menjadi rahasianya adalah
belajar menulis itu mahal harganya. Bila kita lihat para mentor dalam membuka
pelatihan menulis, biayanya ada yang sampai menembus tiga juta rupiah. Wah! Tentu saja itu sangat mahal bagi
mahasiswa apalagi mahasiswa yang sering terkena Kanker (kantong kering) seperti
saya.
Nah, dengan berteman penulis yang sudah
senior maka penulis pemula dapat belajar gratis. Selain dapat belajar gratis
juga dapat belajar lebih leluasa. Yang paling penting juga adalah tidak semua
ilmu disampaikan dalam pelatihan. Oleh karena itu, dengan berteman maka akan
dengan mudah mendapatkan rahasia-rahasia menulis para penulis senior.
Tapi, yang juga perlu diingat bahwa
penulis senior tidak menyampaikan sebagian ilmuanya dalam pelatihan meskipun
peserta sudah membayar mahal bukan berarti penulis itu pelit. Melainkan ada
beberapa hal yang biasanya penulis itu tidak menyampaikan. Pertama, penulis
senior membutuhkan pertanyaan dari audien. Kenapa harus ditanyakan? Sebab
menulis adalah praktik atau proses kreatif. Menulis bukan sekadar teori tapi
lebih menekankan pada praktik.
Kedua, ada kalanya materi yang harus
disampaikan oleh pemateri menuntut kesesuaian dengan tema pelatihan. Sehingga
beberapa hal yang ada di luar meskipun itu penting tidak dapat disampaikan
sebab tidak sesuai dengan tema. Misalnya tema penulisan artikel ilmiah,
meskipun gaya menulis fiksi sebenarnya juga bermanfaat dalam penulisan artikel
ilmiah namun itu tidak disampaikan dalam pelatihan.
Oleh karena itu, tidak berlebihan bila
pernyataan Dr. Suyatno, M.Pd. di atas dijadikan sebagai rekomendasi berharga
untuk pengembangan diri penulis pemula khususnya. Dengan berteman dengan
penulis senior maka penulis pemula dapat meneliti gaya menulis penulis senior.
Tapi bukan berarti plagiat sebab sebagaimana yang dikatakan Dr. Suyatno, M.Pd.
di atas, ketika menulis tetap menggunakan gaya menulis diri sendiri. Penulis
pemula hanya mengikuti dan melihat cara menulisnya. Semoga bermanfaat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar