Label

Kamis, 13 Agustus 2015

Perhatikan Modal Utama Kampus!

Saya lupa entah kapan tepatnya, suatu saat saya ditugaskan untuk mewawancarai salah seorang dosen dari fakultas saya. Karena saya dibebaskan memilih dosen yang mana saja, saya memilih Hendry Cahyono, S.E., M.M. Beliau sangat dekat dengan mahasiswa dan beliau juga berdarah Madura, satu tanah air dengan diri saya sendiri.

Wawancara yang kami lakukan adalah seputar pembangunan kampus saya tercinta, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Saat saya tanya, menurut pandangan beliau, apa modal utama Unesa untuk bisa bersaing di kancah nasional hingga internasional? Dengan tegas beliau menjawab: MAHASISWA.

Beliau menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan modal utama terhadap perkembangan kampus ke depan. Tidak hanya itu, mahasiswa juga akan menjadi orang yang ada di garda terdepan untuk memperbaiki bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sebagai lembaga pendidikan, Unesa dituntut untuk mengoptimalkan penggunaan modal tersebut (mahasiswa) sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Tanpa mahasiswa, sebuah kampus bagai presiden tanpa rakyat. Begitu juga, meskipun sebuah kampus memiliki mahasiswa yang banyak namun tidak berkualitas maka sama dengan singa ompong. Dari sana kemudian dapat dipahami betapa pentingnya peran mahasiswa sebagai modal utama sebuah kampus.

Namun demikian, ketika membicarakan mahasiswa sebagai modal maka akan berlaku teori ekonomi. Meskipun tidak selamanya, akan tetapi sudah umum dipahami, kualitas input menentukan kualitas output. Artinya, agar sebuah kampus tersebut berkualitas tentu saja, bukan hanya fokus pada jumlah mahasiswa yang diterima melainkan juga kualitas mahasiswa yang diterima oleh kampus tersebut.

Berbicara tentang input tentu saja tidak bisa lepas dari seleksi masuk. Bagi perguruan tinggi negeri, seleksi masuk, sedikitnya, terdiri dari tiga macam. Yaitu, seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN), seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN), dan seleksi mandiri.

Bila ditinjau dari pengalaman yang terjadi, SNM PTN selalu mengalami ironi. Tak sedikit siswa yang memiliki kemampuan tinggi harus menggigit jari karena tidak bisa lolos SNM PTN. Seleksi ini memusatkan pada hasil rapor dan track record prestasi non-akademik, seperti sertifikat-sertifikat lomba dan lain sebagainya. Anehnya, khususnya di sekolah saya dahulu, siswa yang terkenal pandai di sekolah tidak bisa lolos SNM PTN. Sementara siswa yang prestasinya biasa-biasa saja atau bahkan tidak memiliki prestasi mengagumkan dapat lolos dengan mulus.

Terlepas dari spekulasi takdir, dapat diperhatikan bahwa seleksi jalur SNM PTN seringkali meleset dari yang diharapkan. Saya ambil contoh seorang sahabat saya di MAN Sumenep dahulu. Dia bernama Fatimatul Fatmariyah. Mengenai kepandaiannya, khususnya di bidang mata pelajaran akuntansi sudah cukup teruji. Saat mengikuti kompetisi akuntasi di perguruan tinggi negeri di Jember, dia meraih juara I se-Jawa Timur. Dengan sangat bahagia, dia juga mendapat piala bupati.

Melalui prestasi yang membanggakan itu, dia pun bisa optimis untuk lolos SNM PTN di perguruan tinggi negeri di Jember tempat dia mengikuti kompetisi tersebut. Namun, apa yang terjadi? Dia harus menggigit jari karena dia ditolak di perguruan tinggi tersebut. Bahkan, dia melanjutkan ke tes jalur SBM PTN dengan salah satu pilihan perguruan tinggi yang dituju adalah perguruan tinggi di Jember itu. Akan tetapi, lagi-lagi dia tidak lolos.

Alhasil, agar tidak menganggur, dia memilih salah satu perguruan tinggi swasta di Sumenep. Dia kuliah selama satu tahun di perguruan tinggi tersebut. Tahun berikutnya, dia ikut tes lagi dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Madura. Saat itu, dia benar-benar mengalami depresi karena merasa kecewa.

Apakah hal yang sama juga berlaku ke tes jalur SBM PTN yang notebene tes tulis? Saya tidak bisa memastikan. Akan tetapi, saat melihat kondisi riil di lapangan maka tidak akan jauh berbeda dengan tes jalur SNM PTN. Keduanya hampir memiliki sifat untung-untungan, kalau tidak mau dikatakan menurut takdirnya. Bahkan hal tersebut terjadi kepada diri saya sendiri. Secara logika, saya tidak pantas lolos di tes SBM PTN, namun faktanya, saya bisa lolos.

Berbeda dengan seleksi mandiri. Seleksi yang dilakukan oleh masing-masing kampus ini mungkin memang lebih tersaring. Setidaknya, hal ini karena selain tes tulis juga diikuti dengan tes wawancara antara pihak kampus dengan calon mahasiswa. Sehingga, pihak kampus dapat melihat calon mahasiswa secara langsung sebelum menerima mahasiswa tersebut.

Meskipun, tak dapat dimungkiri jika seleksi mandiri ini sangat rawan praktik sogok-menyogok. Dan yang lebih mengherankan, saat mahasiswa dari berbagai jalur tersebut diterima, ternyata mahasiswa tersebut tidak jauh berbeda, atau bahkan tidak berbeda sama sekali. Artinya, ketiga jalur seleksi tersebut tidak memberikan cermin tingkat kualitas mahasiswa yang diterima sama sekali.

Jangan dianggap mahasiswa yang diterima lewat seleksi mandiri lebih rendah kualitasnya dari mahasiswa yang diterima lewat seleksi SNM PTN atau SBM PTN. Sebab seperti diurai di atas, pelaksanaan SNM PTN dan SBM PTN sama-sama sering mengalami salah sasaran. Akibatnya, tiga macam jalur seleksi tersebut tidak memberikan jaminan yang kuat dan jelas terhadap kualitas mahasiswa.
Lantas, bila mahasiswa yang merupakan input tersebut sudah tidak memiliki jaminan kualitas yang tinggi, bagaimana sebuah kampus dapat mengharapkan output yang berkualitas? Tentu saya tidak bisa memberikan pandangan yang psimis. Namun, tetap perlu disadari bahwa dengan melihat kondisi yang demikian maka tugas kampus menjadi sangat berat. Kampus sebagai tempat berproses harus benar-benar memberikan dukungan penuh kepada mahasiswanya. Harapannya, meskipun input­­-nya tak begitu bagus, melalui proses yang bagus, maka output-nya bisa bagus. Bagaimana dengan kampus kita? Salam.


Surabaya, 30 Maret 2015

Sabtu, 08 Agustus 2015

Manfaatkan Liburan dengan Belajar Alquran

Warniatin (kanan) dan suaminya, Abdul Yahman (kiri) di Aula Nurul Falah Surabaya, 26 Juni 2015.
Kesenangannya dalam belajar dan mengajar Alquran sudah tumbuh sejak dini. Itulah gambaran sosok perempuan bernama Warniatin ini. Ibu satu anak tersebut sudah mengajarkan Alquran bagi anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA.

Ia menegaskan bahwa membaca Alquran merupakan salah satu amalan yang sangat mulia. Allah SWT melimpahkan pahalanya dalam setiap huruf yang dibaca. Selain itu, menurut Warniatin, membaca Alquran membuat dirinya merasa dekat dengan Sang Maha Pencipta. “Membuat diri kita merasa lega. Seperti curhat kepada Allah,” tutur perempuan kelahiran Riau, 9 Juni 1979, itu.

Untuk itu, perempuan yang kini tinggal di Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ini tidak mau menyia-nyiakan waktu liburannya. Ia bersama suaminya, Abdul Yahman, menyempatkan diri untuk belajar Alquran di Pesantren Alquran Nurul Falah Surabaya selama dua minggu.

“Sebenarnya kami mau liburan ke rumah saya di Nganjuk. Tapi, kami sengaja menyempatkan diri untuk memperdalam ilmu Alquran dulu di sini selama dua minggu. Meskipun rasanya masih kurang, namun waktu tidak memungkinkan. Kami sudah ditunggu keluarga,” jelas Abdul Yahman, yang merupakan asli Nganjuk, Jawa Timur.

Ada dua alasan Warniatin dan Abdul Yahman masih ingin menimba ilmu Alquran meskipun sudah memiliki satu anak. Pertama, Warniatin merasa bahwa pelafalan makhorijul huruf yang dimiliki masih banyak kekurangan. Kedua, dia ingin menerapkan ilmu membaca Alquran di TPQ Babussalam, tempat dirinya mengajar.

Sejak kecil, Warniatin seringkali berpindah-pindah tempat belajar mengaji. Hal ini karena Warniatin kecil ikut orang tuanya bekerja. Terakhir, Warniatin ikut orang tuanya transmigrasi dari Riau ke Kalimantan Utara. Kondisi inilah yang sebenarnya menyebabkan Warniatin kecil tidak bisa belajar mengaji hanya pada satu orang guru sehingga memengaruhi pola pelafalannya juga.

Meskipun Warniatin tidak memiliki latar belakang santri, namun bukan berarti tidak bisa mengajarkan Alquran kepada orang lain. Warniatin mengaku bahwa dirinya telah mengajar Alquran kepada anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA. Dia merasa terpanggil setelah melihat anak-anak yang bermain dan tidak bisa mengaji. “Daripada hanya bermain, saya panggil mereka ke rumah untuk diajari mengaji,” paparnya.

Hingga kini, setiap pagi Warniatin harus mengajar di TK dan saat sore hari dia mengajar di TPQ Babussalam. Meskipun sibuk, namun hal ini tidak menyurutkan dirinya untuk mengaji sendiri bersama keluarga di rumah. Sembari menunggu anak-anak yang ingin belajar mengaji setelah maghrib, Warniatin mengaji sendiri.

“Jadi, anak-anak yang tidak bisa datang ke TPQ waktu sore hari, mereka datang ke rumah untuk belajar. Sambil menunggu itu, saya mengaji sendiri,” ungkap ibu dari Angger Satrio Wicaksono tersebut.

Sebenarnya, Taman Pendidikan Alquran (TPA/TPQ) Babussalam itu sendiri merupakan hasil inisiasi Abdul Yahman, suami Warniatin. Abdul merasa perlu didirikan TPQ agar anak-anak di Desa Sabanar Baru, tempat dia dengan keluarga tinggal, khususnya bisa membaca Alquran.

Abdul melihat, banyak anak-anak di sekitarnya yang belum bisa mengaji. Padahal, menurutnya, tahu mengaji merupakan hal yang sangat penting bagi diri anak. “Setidaknya untuk bisa mendoakan orang tuanya,” tegasnya.

Setelah Abdul diangkat menjadi pengurus di masjid yang baru berdiri di dekat kediamannya, Abdul langsung mengusulkan untuk didirikan TPQ. Seiring izin Allah SWT, semua pengurus setuju. Maka, berdirilah TPQ Babussalam pada September 2013 dengan salah satu pengurusnya Abdul sendiri.

Langkah yang dilakukan untuk menghidupkan TPQ itu adalah menarik guru-guru ngaji yang biasa mengajar di rumahnya masing-masing, seperti Warniatin. Termasuk menyebarkan surat edaran kepada warga sekitar sebagai bentuk promosi. “Sekarang santrinya sudah mencapai 78 orang,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya mengundang perwakilan dari Nurul Falah ke tempatnya untuk melatih guru-guru dalam mengajar Alquran. “Metode tilawati ini cocok untuk anak-anak. Dengan cara selalu diulang-ulang, anak-anak akan mudah ingat. Apalagi dilagukan, sehingga anak-anak suka dan tidak bosan,” tambah Warniatin.

Abdul Yahman, suami Warniatin, berprofesi sebagai swasta di bidang kontraktor. Karena kesibukan yang dimilikinya, pria kelahiran Nganjuk, 15 Juli 1977, tersebut harus pandai membagi waktu. Waktu pagi hingga sore dia gunakan untuk bekerja. Setelah itu, baru dirinya mengurus TPQ.

Selain itu, Abdul dan Warniatin memiliki harapan tersendiri untuk anaknya, Angger. Mereka berharap, kelak anak tunggalnya itu bisa menjadi hafiz. Karena itu, Angger selalu diajak ikut saat mereka belajar mengaji ,bahkan saat mereka belajar di Nurul Falah pada 15—27 Juni 2015.

“Rencana memang mau diikutkan belajar mengaji bersama teman-teman sebayanya di sini (Nurul Falah Surabaya, Red). Tapi, kebetulan sedang liburan. Jadi, ya ikut kami saja saat belajar,” papar Abdul saat diwawancarai di musala Nurul Falah Surabaya. 


Penulis: Syaiful Rahman
Editor  : Eko Prasetyo


*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Agustus 2015

Ramadhan, Cara Islam Mengajari dengan Pembiasaan

Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono, M.S. (kanan) bersama saya (kiri) di ruangan rektor, 19 Juni 2015.
Dikenal sebagai sosok yang ramah dan egaliter, Prof. Dr. Warsono, M.S. menjadi salah satu guru besar favorit di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kalangan para mahasiswa. Pada Agustus 2014, pria kelahiran Boyolali tersebut dikukuhkan sebagai rektor Unesa masa bakti 2014-2018 dan dilantik oleh Mendikbud Moh. Nuh. Majalah Nurul Falah berhasil mewawancarai Prof. Warsono yang berbagi inspirasi.

******

Selain dikenal concern terhadap dunia pendidikan, Warsono memiliki kepedulian terhadap pentingnya spiritualitas. Dia menegaskan bahwa agama adalah salah satu sumber pendidikan karakter. ”Dalam agama kita diajari attitude yang baik,” ungkapnya.

Pandangan Terhadap Pendidikan

Alumnus ilmu filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) itu memiliki perhatian dan pandangan yang mendalam terkait pendidikan. Menurut dia, pendidikan merupakan suatu yang hakiki dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan mampu berkembang secara optimal dalam menjalani kehidupan.

”Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang lemah fisik. Kekuatan manusia terletak pada akal (kemampuan berpikir)-nya. Namun, tanpa pendidikan, kemampuan berpikir tak akan berkembang optimal,” terangnya. Proses pendidikan itu sendiri berlangsung di keluarga, di masyarakat, dan di sekolah. Masing-masing tempat proses memiliki penekanan tersendiri.

Pendidikan yang diperoleh dalam lingkungan keluarga tidak seperti yang didapatkan dalam lingkungan sekolah atau di masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, seorang individu lebih banyak belajar tentang karakter. Seorang individu mendapat pelajaran dari orang tua mulai dari hal-hal yang praktis hingga nilai-nilai yang dianut dan diyakini keluarga.

”Keluarga menjadi lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi setiap anak, sebab di situlah anak-anak untuk pertama kalinya memperoleh pengetahuan dan pendidikan terkait nilai-nilai,” jelasnya.

Sementara itu, pendidikan yang diperoleh dalam masyarakat lebih menekankan pada nilai dan norma dalam berinteraksi di lingkungan sosialnya. Seorang individu dituntut belajar dan mengikuti nilai dan norma yang berlaku agar bisa diterima di masyarakatnya. ”Nilai dan norma tersebut terus ditanamkan ke setiap generasi baru agar mereka memahami bagaimana harus bersikap dan bertindak di lingkungan sosialnya,” jelas pria kelahiran 19 Mei 1960 itu.

Selanjutnya, seorang individu mendapat pendidikan di sekolah. Dalam lembaga pendidikan sekolah, pendidikannya lebih terstruktur dan terencana. Sebab, pendidikan di sekolah memang dirancang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan.

”Dalam lembaga pendidikan di sekolah, yang lebih banyak dikembangkan adalah kemampuan knowledge dan skill seorang individu,” terangnya. Secara umum, menurut Warsono, pendidikan memiliki arti penting bagi tiga aspek, yaitu bagi anak itu sendiri, bagi keluarga atau masyarakat, serta bagi bangsa dan negara.

Demikian pentingnya sebuah pendidikan dalam kehidupan seorang manusia, Warsono berharap agar konsep pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan potensi peserta didik dan mempersiapkan tugasnya di masa depan, tetapi juga harus ditujukan untuk kehidupan itu sendiri.

”Pendidikan harus diorientasikan pada pembentukan manusia-manusia yang bisa mengemban tugas sebagai khalifatullah fil ardhi. Pendidikan harus diorientasikan untuk memanusiakan manusia,” jelas dia sembari mengutip pendapat Dick Hartoko.

Pendidikan dan Ramadhan

Warsono menjelaskan, dalam melihat Ramadhan, kita harus bisa memisahkan apakah kita akan melihat bulan Ramadhannya atau melihat dari sisi perintahnya di bulan Ramadhan. Jika melihat dari sisi bulannya, maka sebenarnya Ramadhan tidak memiliki hal yang istimewa, bagai rutinitas semata yang selalu dijalani setiap tahun. ”Bulan itu tidak ada esensinya,” tegasnya.

Akan tetapi, jika Ramadhan dilihat dari sisi perintahnya (baca: puasa), maka Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam bulan Ramadhan seorang manusia diberi ruang untuk merenungkan kembali kehidupan dirinya. ”Kita diberi cermin untuk mengetahui siapa dirinya,” tutur guru besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya itu.

Di bulan Ramadhan, seorang manusia dapat mengukur dirinya sendiri. Di bulan suci ini, seorang muslim diuji komitmen pribadinya. ”Dalam berpuasa, sebenarnya seseorang berjanji kepada Allah dan kepada dirinya sendiri,” katanya.

Seseorang, tambah dia, tidak akan ada yang tahu apakah dia berpuasa atau tidak. Yang tahu hanya dirinya sendiri dan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah sendiri yang akan menilai orang yang berpuasa.

Selain itu, yang paling penting juga di bulan Ramadhan adalah proses pembiasaan. Setiap muslim dibiasakan untuk selalu bertingkah laku dan bertutur kata yang baik. Setiap muslim dibiasakan untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Menurut Warsono, pembiasaan ini merupakan contoh model pembelajaran dari sebuah proses pendidikan yang diberikan oleh Islam. Semestinya, waktu satu bulan sudah cukup untuk membangun sebuah kebiasaan diri sehingga, kebiasaan berbuat baik akan terus dilakukan meskipun bulan Ramadhan telah usai.

”Bagi orang yang memang sudah biasa melakukan amal baik, kehadiran bulan Ramadhan tentu tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan biasa. Misalnya, sudah biasa melakukan salat malam dan salat-salat sunah yang lain, tentu kedatangan bulan Ramadhan tidak akan jauh memberikan perubahan. Berbeda dengan orang yang tidak terbiasa,” tuturnya.


Ramadhan juga mengajarkan banyak nilai moral. Misalnya, kita turut merasakan kusulitan yang dialami orang-orang berkekurangan dari sisi ekonomi. Karena itu, kata Warsono, Unesa akan memberikan keringanan biaya bagi kalangan mahasiswa yang mengalami kesulitan di bidang ekonomi. ”Unesa akan menerapkan beasiswa Bidik Misi. Bila perlu, kuota penerimaan Bidik Misi ditambah,” ujar bapak dua anak itu. 


Penulis: Syaiful Rahman
Editor  : Eko Prasetyo


*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Juli 2015

Rabu, 05 Agustus 2015

Wisuda Unesa: Refleksi Puisi Sitor Sitomorang

Pelaksanaan wisuda ke-82 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengalami pengunduran dari jadwal sebelumnya. Mulanya dijadwalkan pada 7 Maret 2015 namun karena beberapa hal, pelaksanaan wisuda tersebut diundur hingga Minggu, 29 Maret 2015. Pengunduran jadwal pelaksanaan tersebut sebenarnya tidak mengurangi kehikmatan acara wisuda. Sama sekali. Namun, ada hal unik yang cukup mengelitik dalam pikiran saya saat mengikuti pelaksanaan wisuda tersebut. Saya menyebutnya: refleksi puisi Sitor Sitomorang.

Acara seremonial wisuda dilaksanakan di gedung DBL jalan A. Yani 88 Surabaya. Tepatnya, di lantai dua. Sementara di lantai satu ditempati stand Humas, bagian konsumsi, dan keluarga wisudawan yang tidak berhak masuk ke ruang wisuda (sebab undangan hanya khusus untuk dua orang tua mahasiswa). Untuk keluarga mahasiswa yang tidak boleh masuk tersebut, disediakan dua buah TV dengan ukuran yang cukup besar dan sejumlah kursi tentunya. Mereka bisa melihat aktivitas wisuda melalui kedua TV tersebut.

Sekitar seratus orang yang mendapatkan kursi dapat menikmati tayangan TV dengan seksama. Mereka dapat melihat bagaimana prosesi wisuda melalui layar TV yang disediakan. Sedangkan anak-anak kecil yang sengaja dibiarkan bermain, berlarian di tengah-tengah halaman lantai satu tersebut dengan cukup leluasa. Sebagian keluarga mahasiswa yang tidak mendapat kursi dan juga tidak bisa melihat tayangan TV tersebut duduk di lesehan. Aktivitas mereka yang duduk di lesehan inilah yang kemudian mengelitik pikiran saya.

Yang duduk di lesehan tak lagi pandang buluh. Meskipun pakaian mereka (mungkin) sudah disiapkan sebaik-baiknya, namun karena kondisi yang memaksa, ada yang duduk melingkar, ada pula yang tidur tanpa alas di lantai. Kalau-kalau ada perempuan yang mau berdiri karena (mungkin) gengsi untuk duduk di lantai sebab pakaiannya yang masih bagus.

Sebagian di antara mereka masih pemuda dan anak-anak, tapi sebagian lagi sudah paruh baya. Untuk yang anak-anak, mereka dapat bermain sambil jumpalitan. Bagi pemuda-pemuda, seperti biasa, mereka dapat membentuk lingkaran dan bercengkrama ke sana-kemari. Mereka seolah-olah tak peduli terhadap kondisinya yang memaksanya duduk di lesehan. Barangkali, sebagaimana pada umumnya, mereka sudah terbiasa cangkrukan di warung kopi sehingga hal-hal seperti itu dapat dianggap biasa.

Akan tetapi, kondisinya sangat berbeda ketika yang saya lihat adalah ibu-ibu yang sudah memakai kosmetik lengkap. Harapannya, mereka bisa melihat keponakan, cucu, atau entah apanya yang sedang diwisuda. Dari desa mereka sudah menyiapkan diri dengan penampilan yang dianggap sudah maksimal demi mendampingi wisudawannya. Namun, apa boleh buat, mereka harus duduk di lesehan tanpa alas karena tidak mendapatkan kursi. Bahkan mereka pun tidak bisa melihat tayangan di TV seperti yang lain.

Di antara mereka ada yang sambil memangku anak kecil. Mereka duduk bersandar ke dinding dengan penampilan wajah yang tampaknya sedang melayang. Beberapa orang bahkan memilih untuk merebahkan tubuhnya (tidur) di samping pintu. Tentu saja mereka juga tanpa alas sama sekali. Tubuh mereka dapat merasakan dinginnya lantai dan belaian angin.

Memang kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Unesa. Di perguruan-perguruan tinggi lain pun mengalami hal yang sama. Saya ingat betul saat mendampingi kakak saya yang hendak diwisuda. Yang bisa masuk ke ruangan hanya Ibu saya dan paman saya (sebagai pengganti Allahummaghfirlahu Bapak saya). Sementara saya dan kakak sepupu bersama tunangannya harus duduk di lesehan, di emperan depan pos satpam.

Kali itu, saya juga tidak dapat melihat tayangan wisuda di TV karena saya tidak tahu kalau di samping timur gedung tempat pelaksanaan wisuda tersebut disediakan satu TV. Ya, hanya satu TV. Kalau di Unesa masih dua TV. Namun, duduk menunggu acara wisuda tersebut tentunya memberikan kesan tersendiri. Aktivitas menunggu saja sudah merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan apalagi kondisi tempat menunggu yang sangat tidak nyaman, tentu sangat membosankan.
Dari situlah kemudian saya ingat puisi pendek karya Sitor Sitomorang. Begini puisinya:

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

Ya, puisi ini sangat mudah dihafal sebab hanya terdiri dari satu judul dan satu isi. Namun, puisi tersebut membawa pembaca untuk memikirkan maknanya. Dulu, seorang guru saya mengatakan bahwa ada banyak kemungkinan dalam memberikan makna terhadap puisi tersebut. Salah satunya adalah ada kemungkinan puisi tersebut ingin mengisaratkan bahwa di satu sisi ada kebahagiaan namun di sisi lain ada kesedihan yang digambarkan dengan kuburan.

Saya sepakat untuk mengambil terjemahan demikian saja untuk menggambarkan kondisi yang saya lihat saat itu. Acara seremonial wisuda di lantai dua memang sangat menyenangkan karena itu merupakan waktu yang dinanti-nati oleh para wisudawan. Mereka sudah lama berjuang untuk bisa menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah. Setelah mereka diwisuda maka berarti mereka telah menyelesaikan perjuangannya. Tinggal melanjutkan perjuangan ke kehidupan selanjutnya.

Namun, di sisi lain, di lantai satu, banyak anggota keluarga mereka yang harus bertarung dengan rasa bosan, malas, dan tidak menyenangkan demi menunggu para wisudawan keluar. Mereka harus bisa bersabar menikmati lesehan tanpa alas sama sekali. Kondisi yang duduk di lantai satu ini saya gambarkan sebagai kuburan atau kondisi yang mengalami kesedihan, ketidakenakan. Saya merasakan bahwa kondisi demikian merupakan gambaran lengkap dari puisi almarhum Sitor Sitomorang.

Demikian, tulisan ini hanyalah sepotong curahan hati setelah mengikuti pelaksanaan wisuda ke-82 Unesa. Terlepas dari semuanya, semoga para wisudawan dapat terus berjuang untuk meraih kesuksesannya. Sebab, wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjuangan namun hanya sebuah pintu memasuki dunia nyata. Dunia yang tidak menanyakan nilai berupa angka lagi melainkan bagaimana mereka mampu berkonstribusi di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya. Semoga sukses!


Surabaya, 29 Maret 2015

Manakah Yang Harus Didahulukan: Membaca, Bediskusi, atau Menulis?

Sore tadi seorang kandidat ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) Jurusan Pendidikan Ekonomi bersama seorang pendukungnya datang ke saya. Dia ingin mendiskusikan mengenai visi dan misi yang akan diusung dalam kepemimpinannya ke depan. Meskipun saya mahasiswa dari jurusan Pendidikan Ekonomi, namun saya tetap berupaya tidak terlalu masuk ke dalam ranah perpolitikan tersebut. Saya mengerti bahwa ranah politik adalah ranah sensitif yang mudah menimbulkan perpecahan. Pengalaman sebelumnya telah terjadi pada teman sekelas saya. Mereka terpecah hanya karena perbedaan pandangan dalam politik.

Saat dia meminta pertimbangan atau lebih tepatnya bertanya apa visi dan misi yang harus diusung, maka dengan tegas saya katakan: “Berpikirlah sederhana, kamu maju untuk menjadi calon karena apa? Bagaimana kamu melihat kondisi mahasiswa di jurusan kita dan apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi ketua Hima?”

Beberapa penjelasan dia paparkan dengan tegas. Di antaranya, lemahnya mahasiswa dalam membaca, menulis, dan berdiskusi. Aktivitas di selingkup jurusan Pendidikan Ekonomi lebih disibukkan dengan kegiatan politik. Politik selalu menjadi perbincangan yang hangat namun saat diajak untuk berdiskusi dengan landasan yang logis berdasarkan keilmuan, mayoritas mundur. Atau kalau tidak yang muncul hanyalah asumsi-asumsi yang faktanya tidak valid. Kalimat kata bapak ini atau bapak itu, atau dosen ini dan dosen itu, atau di desa saya biasanya, menjadi argumen yang sudah biasa muncul dari mereka.
Jika saya perhatikan, hal itu disebabkan oleh lemahnya budaya membaca yang ada di jurusan saya. 

Kondisi demikian memang perlu mendapat perhatian lebih dari seluruh komponen yang sadar akan pentingnya membaca, menulis, dan berdiskusi. Itulah yang mendorong saya pada periode 2013-2014 kemarin untuk masuk menjadi salah satu fungsionaris Hima. Saya membuat sebuah buletin bernama MICRO untuk menjadi wadah dan media bagi teman-teman. Namun, sayang sekali karena buletin tersebut tidak mendapat respon baik dari pembacanya.

Dari situlah kemudian saya mencoba merefleksi diri manakah yang harus didahulukan antara membaca, berdiskusi, dan menulis. Saya mencoba memikirkan yang manakah yang perlu menjadi pendorong awal untuk meningkatkan tiga budaya tersebut atau dalam istilah saat ini budaya literasi?
Akhirnya, saya ingat bagaimana budaya diskusi yang berkembang cukup baik di kampus-kampus di Jogja. Beberapa kali saya pergi ke sana untuk menikmati suasana pendidikan yang ada di sana. 

Bahkan, pada saat wisuda kakak saya kemarin, saya sempat ikut kelompok diskusi di UIN Sunan Kalijaga. Satu hal yang dapat saya belajari terkait dengan diskusi itu: kemauan untuk tahu. Dalam kelompok diskusi yang saya ikuti tersebut, ternyata semua pesertanya adalah orang Madura. Mereka tidak memiliki kemampuan yang tinggi, namun mereka tak kalah akal. Meskipun mereka sama-sama tidak tahu, mereka mendatangkan salah satu senior yang lebih tahu untuk nanti meluruskan diskusi.

Saat senior tersebut menyampaikan sejumlah informasi yang mendukung terhadap diskusi akhirnya, muncullah keinginan yang berlipat ganda dari para peserta untuk bertanya dan mencari jawabannya. Ya, dari pertanyaan dan keinginan mencari jawaban inilah yang kemudian mendorong para peserta untuk membaca lebih banyak lagi. Bahkan mereka berlomba-lomba untuk membaca banyak buku. Kalau dilihat kosnya tidak ada buku sama sekali maka sudah alamat mahasiswa tersebut akan menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Namun, apakah kondisi mahasiswa di Jogja tersebut dapat langsung saya adopsi dan dipindah ke Surabaya dengan mentah-mentah? Ternyata tidak mudah. Jurusan Pendidikan Ekonomi memiliki sebuah komunitas diskusi yang bernama Economic Research and Discussion Association (ERDA). Dalam komunitas tersebut mahasiswa berkumpul setiap Jumat sore untuk mengadakan diskusi terkait isu-isu perekonomian nasional terkini. Bagi saya ini adalah kabar bahagia meskipun pesertanya sangat sedikit. Biasanya tidak sampai sepuluh.

Walaupun sudah diinstruksikan kepada semua teman-teman untuk mencari informasi sebelum mengikuti diskusi sesuai dengan topik yang telah ditetapkan, tapi ternyata itu tidak mampu menggugah teman-teman. Alhasil, setiap kali diskusi digelar, argumen selalu diajukan dengan asumsi-asumsi kosong yang tak berlandaskan data valid dan seringkali kurang logis. Sehingga mereka merasa heran, gagap bak ketemu malaikat saat ditunjukkan data-data atau fakta-fakta yang valid. Bahkan suatu ketika ada seorang teman BBM ke saya di malam harinya: “Wah, bagaimana sih Kakak bisa tahu tentang informasi-informasi yang tadi Kakak utarakan?”

Begitu polosnya pertanyaan tersebut, padahal apa yang didiskusikan sebenarnya sudah banyak dibahas di media massa. Sudah banyak buku-buku yang membahas. Misalnya, saat itu membahas terkait Inflation Targetting Framework (ITF), di mana kalau diperhatikan, inflasi sudah dijelaskan di mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro saat semester I. Serta kabar Pemerintah Joko Widodo bersama Bank Indonesia berupaya menekan inflasi sampai 4 persen sudah gencar dikabarkan media. Ini, menurut saya, karena minimnya budaya membaca.

Saya juga pernah membayangkan agar suatu saat organisasi mahasiswa tidak hanya menggelar ekspo kewirausahaan yang di setiap stannya hanya menjual makanan atau pakaian. Tapi, ada saatnya juga bekerja sama dengan penerbit-penerbit dalam rangka menggelar book fair di jurusan. Harapannya, dengan mendekatkan buku ke mahasiswa dengan harga murah dan banyak pilihan maka sedikit demi sedikit akan mendorong mahasiswa untuk gemar membaca.

Setelah agak lama saya merenung, saya memutuskan kepada kandidat ketua Hima yang datang kepada saya tersebut untuk mendahulukan budaya membaca. Hima harus mendukung dan berupaya agar mahasiswa mau membaca, apapun itu. Setelah mahasiswa sudah mau membaca maka siapkan wadah untuk berdiskusi agar saat adu argumen mereka saling melengkapi. Tentunya dengan harapan nanti akan mendorong mahasiswa untuk membaca, membaca, dan terus membaca.

Sementara untuk membudayakan menulis, saya menyampaikan kepada kandidat ketua Hima tersebut untuk membangun kembali buletin. Saya juga mengusulkan agar yang menjadi pemateri dalam diskusi ERDA harus bergantian tanpa memandang angkatan atau prodi. Setiap pemateri wajib menulis artikel yang dibagikan kepada seluruh peserta. Dari artikel tersebut, saya mengusulkan nanti akan dikumpulkan dan dibukukan. Harapannya, bermula dari situlah akan muncul dan benar-benar berkembang budaya literasi. Semoga sesuai harapan!


Surabaya, 28 Maret 2015

Resensator Buku Tiga Serangkai (1)

 Pagi itu saya diajak ngopi oleh guru menulis saya yang sangat inspiratif. Seperti biasa, kami memilih food court Unesa sebagai tempat yang nyaman untuk mengobrol bebas. Beliau, orangnya sangat fleksibel. Entah apakah karena beliau termasuk jebolan surat kabar nasional sehingga diperlukan fleksibelitas yang tinggi atau memang karena beliau tidak berasal dari instansi tertentu, saya kurang begitu paham. Yang jelas, beliau adalah penulis andal yang telah menulis lebih dari 32 buku.

Cong atau Kacong, demikian saya biasa dipanggil oleh beliau. Sementara saya biasa memanggil beliau dengan sebutan Bos atau Mas. “Cong, di mana? Ayo ngopi. Kutunggu di food court,” begitu beliau menghubungi saya.

Hampir saya tidak pernah menolak saat diajak ngopi oleh beliau. Bukan karena saya tidak sibuk, tapi pertemuan saya dengan beliau terasa sangat penting. Meskipun terkadang obrolan kami ngalur ngidul tidak jelas, namun dari keleluasaan dan fleksibelitas beliaulah saya banyak belajar. Bukan hanya belajar menulis tapi yang lebih penting saya banyak belajar kehidupan kepada beliau, belajar bagaimana menyukuri nikmat Allah, dan belajar bagaimana membahagiakan orang-orang di sekitar kita.

Sebagai seorang mahasiswa yang hidup seorang diri di Kota Surabaya yang hanya hidup dengan beasiswa bidik misi dan kadang sejumlah rezeki ajaib dari Allah, saya harus pintar mengatur sirkulasi keuangan. Kebetulan saat itu saya sedang dilanda kepepet. Honor dari menulis belum cair dan bidik misi juga belum cair. Hal itu cukup membuat saya tersandera penyakit Kanker (kantong kering).

“Bos,” kata saya hendak mengisahkan kondisi saya kepada sang guru. “Saya lapar (maksud saya bukan lapar dalam arti belum makan tapi tidak punya uang).”

Setelah basa-basi, beliau menyampaikan satu trik untuk membuka jalan bagi saya. “Ada banyak cara untuk mendapatkan pundi-pundi uang. Jadilah perensensi buku salah satu penerbit. Penerbit yang biasa memberi honor uang itu adalah Penerbit Tiga Serangkai dan Penerbit Erlangga,” jelasnya.

“Bagaimana caranya?” seperti biasa, setiap kali beliau berbicara serius saya selalu memandang beliau tanpa berkedip karena takut terlewat ilmu yang hendak diberikan.

“Belilah buku terbitan Penerbit Tiga Serangkai. Kemudian kamu resensi dan terbitkan di media cetak. Setelah itu kirimkan bukti cetaknya ke penerbit itu dan bilang bahwa kamu mau jadi peresensi buku-buku terbitan penerbit tersebut.”

Kemudian beliau menyodorkan uang lima puluh ribuan ke saya untuk dijadikan modal membeli buku terbitan Penerbit Tiga Serangkai. “Sekarang belilah buku. Jadikan uang ini sebagai modal untuk menghasilkan uang yang lebih banyak,” katanya memberi semangat kepada saya.

Tak menunggu lama, setelah kami menyelesaikan ngopi, saya langsung minta bantuan teman untuk diantar ke toko buku Togamas. Namun, di sana saya tidak menemukan buku terbitan Tiga Serangkai terbaru. Sebab pesan beliau juga, saya harus mencari buku diterbitkan pada bulan Januari. Saya pusing mencarinya tapi tak kunjung ketemu dan teman saya juga ingin segera pulang karena ada kepentingan di jurusannya.

Tak ada cara lain, saya meminta untuk diantar ke Royal Plaza. Saya ingin mencari buku di sana dengan konsekuensi saya harus pulang jalan kaki sebab teman saya pulang terlebih dahulu. Sayangnya, saya tidak menemukan terbitan Januari. Saya pun menghubungi guru saya. Akhirnya, setelah mendapat persetujuan, saya membeli buku terbitan Agustus 2014. Judulnya “Pelecehan Anak, Kenali, dan Tangani! Menjaga Buah Hati dari Sindrom” yang diterbitkan oleh Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai. Buku itu saya resensi dan dimuat di koran Duta Masyarakat pada Minggu, 8 Februari 2015 dengan judul resensi “Tanggung Jawab Orang Tua dalam Menyelamatkan Anak.”

Saya mengirimkan bukti resensi tersebut ke alamat e-mail Penerbit Tiga Serangkai. Sama sekali saya tidak mendapat balasan dari penerbit. Padahal, menurut guru saya, biasanya balasan dari penerbit itu cepat. Namun, saya menunggu hingga satu minggu tetap tak mendapat respons sama sekali. Saya pun putus asa dan melupakan apa yang telah saya usahakan. Saya fokus untuk berkarya lagi daripada menunggu yang tak pasti.

Tapi, apa yang terjadi saat saya sudah melupakan dan mengikhlaskan apa yang telah saya lakukan? Senin, 2 Maret 2015, saya ditelepon oleh Pak Qik, salah seorang pegawai TU kantor Pusat Unesa yang biasa menerima surat. Saya mendapat kiriman. Syukur alhamdulillah tiada batas saya panjatkan kepada Allah SWT. Saya mendapat kiriman dua buah buku dari Penerbit Tiga Serangkai. Jangan bertanya honor, saya tidak menerima honor berupa uang, hanya dua buah buku berjudul “Super Father” dan “Penyelamatan Negeri Peri” yang saya peroleh.

Segera saya hubungi guru saya untuk memberitahukan mengenai kabar gembira tersebut. Entah apakah beliau dari rumahnya atau memang kebetulan ada di sekitar Ketintang, saya kurang tahu. Yang pasti beliau langsung mengajak ketemuan dengan saya. Beliau mengajak saya ngopi di tempat biasa.

Satu ucapan yang muncul dari beliau yang kemudian membekas dalam hati saya hingga saat ini. Setelah saya bercerita tentang keputusasaan saya dalam menunggu kabar, beliau mengatakan, “Jangan mudah putus asa! Kamu masih baru belajar.”

Kemudian saya mengonsultasikan apa yang harus saya lakukan terhadap dua buku tersebut. Akhirnya, saya memutuskan untuk meresensi kedua buku tersebut meski saya tidak mendapat e-mail balasan dari penerbit dan juga tidak mendapat honor berupa uang. Saya berusaha untuk bersyukur, setidaknya saya tidak perlu membeli buku karena sudah dikirimi oleh penerbit.

Saya sangat berhutang budi kepada guru saya itu. Beliau adalah Mas Eko Prasetyo. Seorang guru yang sangat menginspirasi perjalanan kepenulisan dan juga hidup saya. Semoga bermanfaat!


Surabaya, 22 Maret 2015

Selasa, 04 Agustus 2015

Menikmati Rutinitas Menulis dalam Diri

Mengapa anak kecil lebih suka bermain? Mereka tidak peduli betapa mangkel-nya orangtua saat mereka disuruh berhenti bermain tapi mereka tidak mau berhenti. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana masa-masa sekolah dasar (SD) tampak begitu menyenangkan. Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas empat. Di tahun gencar-gencarnya Piala Dunia dan film-film fantasi. Banyak anak-anak yang suka bermain sepak bola dan juga perang-perangan. Sebenarnya masih banyak permainan anak-anak yang juga tren pada saat itu, namun saya hanya ingin mengupas dua permainan itu. Sebab dua permainan itu yang lumayan enak untuk dibicarakan dalam tulisan kali ini.

Setiap hari, setiap jam istirahat, anak-anak suka bermain sepak bola di lapangan. Kebetulan sekolah saya memang sangat dekat dengan lapangan sepak bola kecamatan. Selalu ada kompetisi antara kelas empat dan kelas tiga. Kompetisi itu memang tidak dilakukan secara formal. Tidak ada wasit maupun guru yang mendampingi. Teman-teman bermain dan bertanding sesukanya. Hal yang menarik dari pertandingan itu adalah rasa tidak peduli panas dan terik matahari. Bayangkan, sedikitnya mereka bermain dua kali sehari. Yakni pukul sepuluh pagi dan sekitar pukul dua belas siang.

Sebagaimana kita ketahui, apalagi di Madura, waktu-waktu itu adalah waktu di mana terik matahari sangat menyengat. Tapi bagaimana mereka tidak pernah memedulikan sengatan matahari itu dan tetap bermain sepak bola dengan seragam sekolah di lapangan terbuka? Tentunya hal itu tidak akan dilakukan jika anak-anak itu mau berpikir logis. Toh ketika menang mereka tidak mendapat apa-apa kecuali rasa capek yang mau masuk ke kelas dan dimarahi oleh orangtua karena seragamnya kotor.

Berikutnya, teman-teman suka bermain perang-perangan. Dengan berbagai gaya, dengan bayangan sudah seperti pendekar yang diidolakan di tv-tv, mereka memakai berbagai jurus. Teman-teman dapat memukul, menangkis, menendang, hingga berguling-guling di tanah karena terkena pukulan. Biasanya teman-teman bermain perang-perangan di tempat lompat jauh. Di mana di lapangan itu penuh dengan pasir. Sehingga tak heran bila seragam mereka penuh pasir dan kotor setelah bermain bahkan tak jarang pula uang mereka hilang karena jatuh di pasir.

Sama seperti anak-anak yang bermain sepak bola di terik matahari. Mereka pun tidak bisa lepas dari kemarahan orangtuanya. Bahkan lebih dari itu, mereka harus menahan lapar karena uang sakunya hilang. Tapi, apakah mereka berhenti karena itu? Tentu saja tidak. Mereka malah menjadikan aktivitas itu sebagai rutinitas sehari-hari.

Apa yang bisa kita ambil dari dua kisah di atas? Satu yang mungkin dapat kita ambil sebagai pelajaran adalah kesenangan. Anak-anak itu melakukan itu dengan dasar senang sehingga mereka pun merasakan kenikmatan meskipun menurut pikiran sehat itu tindakan yang kurang baik. Mereka tetap merasa senang meskipun tubuhnya disengat oleh teriknya matahari sebab kesenangan bermain bola. Mereka tetap merasa senang bermain perang-perangan meskipun harus kehilangan uang sakunya.

Ya, menyenangi apa yang kita lakukan sebenarnya tidak hanya berlaku pada permainan tapi juga pekerjaan-pekerjaan lain, misalnya menulis. Dalam pelajaran yang kesebelas, Dr. Suyatno, M.Pd. mengajarkan bahwa untuk menjadi penulis maka harus dapat menyenangi kegiatan menulis. Beliau menyampaikan: “Jadikan menulis sebagai kesegaran, kenikmatan, dan kebahagiaan seperti si kecil bermain boneka, si penggembala menaiki kerbaunya, si pemain seruling meniup lubang suara, si penjual pecel tersenyum dengan pembelinya, dan si mahasiswa dengan berdiskusinya.”

Dengan merasa senang terhadap kegiatan menulis maka sudah secara otomatis dan dijamin akan menjadi penulis. Sebab belajar menulis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan belajar bahasa. Yakni learning to do. Seberapa banyak pun kita belajar tata bahasa suatu bahasa tapi tidak pernah mempraktikkan maka tentu saja tidak akan pernah bisa ngomong bahasa tersebut. Begitu pun menulis, seberapa banyak kita belajar teori tapi tidak pernah menulis maka tidak akan pernah bisa menulis.

Dan yang juga harus diperhatikan bahwa kefasihan atau kelihaian menulis juga ditentukan oleh seberapa sering kita menulis. Enid Blyton misalnya, konon mampu menulis sebanyak 10.000 kata per hari. Berarti dalam waktu empat hari saja ia sudah dapat menghasilkan tulisan sebanyak 40.000 kata. Itu adalah jumlah minimal dalam sebuah novel. Ya, sekitar 150 halaman. Dapat dibayangkan bila dalam satu bulan, sudah berapa novel yang dapat dia hasilkan?

Bagaimana hal itu dapat ia lakukan? Tentu saja jawabannya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak di atas. Enid Blyton mampu melakukan itu juga karena tidak lain dan tidak bukan sebab kesenangan. Enid benar-benar merasa senang dan nikmat dalam menulis. Sehingga tak heran bila karya-karyanya abadi sepanjang masa. Karya-karyanya menjadi karya yang selalu dibaca dan dikenang oleh orang-orang di seluruh dunia.

Dengan demikian, pelajaran dari Dr. Suyatno, M.Pd. di atas tidak berlebihan bila dijadikan sebagai sumber penyemangat dalam berproses menjadi penulis. Untuk menjadi penulis sudah bukan barang baru lagi bila kita harus merasakan kesenangan dan kenikmatan dalam menulis. Jika hal itu tidak ada dalam diri kita maka jangan pernah bermimpi untuk menjadi penulis. Bagaimanapun, suatu aktivitas yang dilakukan tanpa didasari rasa senang dan nikmat tentu akan muncul perasaan yang berlawanan, yaitu rasa bosan, malas, dan celakanya tidak mau menulis lagi. Maka cintailah menulis niscaya kamu akan menjadi penulis. Semoga!


Bertemanlah dengan Penulis maka Kamu akan Jadi Penulis

Dulu, waktu saya masih kecil dan masih suka bermain layang-layang, kelereng, petak umpet, dan lain-lain, guru-guru saya sering mengatakan bahwa jika seseorang itu ingin harum maka bertemanlah dengan pedagang minyak, dan sebaliknya, bila ingin bau maka bertemanlah dengan pengangkut kotoran.

Saking seringnya kalimat itu dilontarkan oleh guru bahkan juga oleh sesepuh, kalimat itu akhirnya dapat saya ingat di luar kepala. Waktu itu saya belum berpikir lebih dari kalimat itu. Saya rasa itu hal yang biasa-biasa saja. Saking biasanya, tampaknya kalimat itu pun tidak membekas sama sekali. Kata orang zaman dahulu, masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Kemudian, saat saya masih ngaji di langgar bersama teman-teman, guru ngaji saya mengajar kitab Ta’lim al-Muta’allim. Kalau tidak salah itu karya Imam az-Zarnuji. Kitab itu banyak memberikan pelajaran yang berkaitan dengan orang-orang yang mencari ilmu atau tholabul ‘ilmi. Salah satu yang masih membekas mengenai pelajaran dalam kitab itu, yang berkaitan dengan kalimat di atas, adalah sebagai seorang pencari ilmu maka seyogyanya mencari guru dan teman yang baik.

Ya, lagi-lagi guru saya harus mengaitkan bab dalam kitab itu dengan kalimat “jika seseorang itu ingin harum maka bertemanlah dengan pedagang minyak, dan sebaliknya, bila ingin bau maka bertemanlah dengan pengangkut kotoran.” Sehingga, lama-kelamaan saya pun bisa menangkap maksud kalimat tersebut.

Tentu saja sangat sederhana, bahwa perkembangan manusia itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Senakal-nakalnya orang yang tinggal di lingkungan pesantren pasti dia salat dan mengaji. Senakal-nakalnya orang yang hidup di lingkungan pendidikan tentulah dia masih sekolah.
Jadi, istilah pedagang minyak dan pengangkut kotoran hanyalah metafor dari lingkungan kehidupan. Pedagang minyak merupakan metafor dari lingkungan yang baik, baik berupa teman, guru, maupun budaya. Sementara pengangkut kotoran merupakan metafor dari lingkungan yang buruk.

Pernyataan di atas tampaknya sangat  relevan jika dikaitkan dengan pelajaran kesepuluh tentang menulis dari Dr. Suyatno, M.Pd. Dalam edisi kesepuluh beliau menjelaskan: “Bersahabatlah dengan para penulis karena niscaya Anda akan dapat menjadi penulis. Ikuti cara mereka menulis. Dalami penggayaan yang penulis lakukan. Tangkaplah alur tulisannya. Lalu, cobalah dengan menulis menurut diri Anda sendiri.”

Bila dicermati maka dapatlah ditangkap bahwa Dr. Suyatno, M.Pd. pun sangat mengamini pentingnya sebuah lingkungan dalam memengaruhi kehidupan penulis. Dengan berteman seorang penulis, sedikitnya orang tersebut akan terpanggil atau kalau tidak, merasa terketuk untuk ikut menulis. Memang ada sebuah kebiasaan yang selalu terjadi yakni, biasanya seorang pedagang akan memiliki banyak teman yang juga berprofesi sebagai pedagang, biasanya orang yang senang di bidang IT akan memiliki banyak teman yang juga senang di bidang IT. Singkatnya, biasanya orang itu akan lebih suka berteman dengan orang yang memiliki kesenangan yang sama. Maka aneh—kalau tidak mau dikatakan mustahil—bila orang lebih suka berteman dengan orang yang berlawanan kesenangan.

Sebab itulah, maka sudah semestinya bila seorang penulis memiliki teman yang juga penulis. Selain karena memiliki kesukaan yang sama juga dengan berteman seorang penulis, apalagi penulis yang sudah senior, maka penulis pemula dapat belajar banyak. Penulis pemula dapat mengetahui dan meneladani proses kreatif penulis senior yang menjadi temannya itu.

Dan yang juga menjadi rahasianya adalah belajar menulis itu mahal harganya. Bila kita lihat para mentor dalam membuka pelatihan menulis, biayanya ada yang sampai menembus tiga juta rupiah. Wah! Tentu saja itu sangat mahal bagi mahasiswa apalagi mahasiswa yang sering terkena Kanker (kantong kering) seperti saya.

Nah, dengan berteman penulis yang sudah senior maka penulis pemula dapat belajar gratis. Selain dapat belajar gratis juga dapat belajar lebih leluasa. Yang paling penting juga adalah tidak semua ilmu disampaikan dalam pelatihan. Oleh karena itu, dengan berteman maka akan dengan mudah mendapatkan rahasia-rahasia menulis para penulis senior.

Tapi, yang juga perlu diingat bahwa penulis senior tidak menyampaikan sebagian ilmuanya dalam pelatihan meskipun peserta sudah membayar mahal bukan berarti penulis itu pelit. Melainkan ada beberapa hal yang biasanya penulis itu tidak menyampaikan. Pertama, penulis senior membutuhkan pertanyaan dari audien. Kenapa harus ditanyakan? Sebab menulis adalah praktik atau proses kreatif. Menulis bukan sekadar teori tapi lebih menekankan pada praktik.

Kedua, ada kalanya materi yang harus disampaikan oleh pemateri menuntut kesesuaian dengan tema pelatihan. Sehingga beberapa hal yang ada di luar meskipun itu penting tidak dapat disampaikan sebab tidak sesuai dengan tema. Misalnya tema penulisan artikel ilmiah, meskipun gaya menulis fiksi sebenarnya juga bermanfaat dalam penulisan artikel ilmiah namun itu tidak disampaikan dalam pelatihan.

Oleh karena itu, tidak berlebihan bila pernyataan Dr. Suyatno, M.Pd. di atas dijadikan sebagai rekomendasi berharga untuk pengembangan diri penulis pemula khususnya. Dengan berteman dengan penulis senior maka penulis pemula dapat meneliti gaya menulis penulis senior. Tapi bukan berarti plagiat sebab sebagaimana yang dikatakan Dr. Suyatno, M.Pd. di atas, ketika menulis tetap menggunakan gaya menulis diri sendiri. Penulis pemula hanya mengikuti dan melihat cara menulisnya. Semoga bermanfaat!