Sebenarnya saya malas
yang mau meliput acara dialog khusus di TVRI. Kala itu, acara sengaja diadakan
untuk menjaring aspirasi masyarakat terhadap Unesa. Sebab di usianya yang sudah
mencapai lima puluh tahun, Unesa berharap akan lebih baik dan lebih maju. Tapi,
saya waktu itu dipaksa oleh Humas untuk meliput bersama teman saya, Sandi.
Akhirnya, saya singkirkan dulu rasa capek yang sudah meliliti saya, saya
bersama Sandi berangkat ke kantor TVRI Jawa Timur.
Setelah acara selesai,
kami bersama semua jajaran birokrasi kampus yang menjadi narasumber dialog
tersebut diajak makan malam di sebuah restoran, saya lupa namanya. Saya sangat
bahagia karena itulah kali pertama saya bisa makan bersama dengan jajaran
pejabat tinggi Unesa dan juga kali pertama makan di restoran. Sesekali salah
seorang penyabat nyeletuk mengejek
saya. “Di Madura gak ada tempat
seperti ini ya?!” ucapnya bercanda.
Di tengah canda tawa
kebersamaan tersebut, kepala Humas mempromosikan saya. Beliau berdiri di
belakang saya sambil memegang pundak saya. “Ini mahasiswa yang salah jurusan.
Dia masuk Fakultas Ekonomi padahal suka menulis sastra,” katanya sembari
tersenyum.
Semua orang diam dan
melihat ke arah saya. Tak lama Pembantu Rektor I pun nyeletuk, “Saya sudah baca tulisanmu yang ada di buku dan juga yang
ada di Radar Surabaya.” Sementara rektor hanya mengangguk-ngangguk kemudian
berkata singkat, “Bagus itu! Lanjutkan!”
Apakah benar saya salah
jurusan? Entahlah saya juga tidak paham. Yang pasti awal mula saya memilih
jurusan Pendidikan Ekonomi karena ada satu alasan. Yaitu, saya percaya bahwa
kehidupan dunia ini akan sangat ditentukan oleh tiga hal: agama, politik, dan
ekonomi. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dalam percaturan kehidupan sosial
masyarakat.
Sebab agama, masyarakat
Sampang saling membunuh. Sebab politik, negara ini selalu dikorupsi. Sebab
ekonomi, banyak tindakan-tindakan kriminal. Ketiganya merupakan komponen
kehidupan yang sangat sensitif. Jadi, saat saya mau memilih jurusan di perguruan
tinggi, saya ingin mendalami ekonomi. Mengenai kesukaan saya terhadap sastra,
saya percaya bahwa menulis itu bisa dilakukan oleh jurusan apa saja. Yang
penting adalah membangun kemauan.
Dengan sok gagah saya berani berkata, “Biarkan
saya menjadi penulis yang ekonom.” Ya, meskipun hingga saat ini saya masih
tidak menulis tentang ekonomi. Bagaimanapun saya masih merasa terlalu dini
untuk menulis hal itu. Ilmu saya terhadap ekonomi masih sangat dangkal. Tapi,
setidaknya keinginan itu sudah terpancang dengan baik.
Selain itu, saya juga
memiliki kepercayaan bahwa seorang penulis itu akan mampu menguasai banyak
bidang ilmu. Baiklah secara profesionalitas, sang penulis berlatar belakang
dokter tapi bukan berarti dia tidak bisa menulis tentang politik. Juga
tulisannya tentang politik bukan berarti dangkal sebab tidak berlatar belakang
ilmu politik. Lihatlah bagaimana Taufik Ismail dan WS Rendra begitu getol
membicarakan politik dalam puisi-puisinya. Padahal Taufik Ismail berlatar
belakang dokter hewan dan WS Rendra berlatar belakang Sastra Inggris.
Menurut saya, penulis
adalah profesi yang mampu melampaui segala ilmu. Sebab dalam dunia penulis ada
sisi kelebihan yang tidak dimiliki oleh ilmu-ilmu lain. Misalnya, seorang
novelis, untuk membuat novel yang baik tentu tidak hanya membaca novel.
Melainkan dia juga harus mempelajari sisi sosial, psikologi, hingga budaya di
mana latar novel itu akan dibuat. Jangan sampai orang Surabaya yang tidak tahu
Madura kemudian menulis novel berlatar Madura. Nanti malah jadi novel Madura
rasa Surabaya.
Oleh karena itu, hingga
sekarang saya tetap tidak merasa kesasar dalam memilih jurusan dan apabila
Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang S-2 kelak, saya juga tidak
akan berpindah jurusan ke sastra. Saya masih ingin mendalami ilmu ekonomi. Saya
pun optimis bisa mengembangkan kemampuan menulis saya meskipun berlatar
belakang ekonomi.
Di luar kuliah, saya
belajar pada penulis-penulis hebat. Sebab saya berharap kelak saya juga bisa
menjadi orang hebat. Setidaknya capaian yang saya miliki melebihi apa yang
pernah saya bayangkan. Itu semua berada di tangan Allah Sang Penguasa Alam. Wallahu a’lam.
Surabaya, 19
Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar