Label

Minggu, 02 Agustus 2015

Saya Kesasar

Sebenarnya saya malas yang mau meliput acara dialog khusus di TVRI. Kala itu, acara sengaja diadakan untuk menjaring aspirasi masyarakat terhadap Unesa. Sebab di usianya yang sudah mencapai lima puluh tahun, Unesa berharap akan lebih baik dan lebih maju. Tapi, saya waktu itu dipaksa oleh Humas untuk meliput bersama teman saya, Sandi. Akhirnya, saya singkirkan dulu rasa capek yang sudah meliliti saya, saya bersama Sandi berangkat ke kantor TVRI Jawa Timur.

Setelah acara selesai, kami bersama semua jajaran birokrasi kampus yang menjadi narasumber dialog tersebut diajak makan malam di sebuah restoran, saya lupa namanya. Saya sangat bahagia karena itulah kali pertama saya bisa makan bersama dengan jajaran pejabat tinggi Unesa dan juga kali pertama makan di restoran. Sesekali salah seorang penyabat nyeletuk mengejek saya. “Di Madura gak ada tempat seperti ini ya?!” ucapnya bercanda.

Di tengah canda tawa kebersamaan tersebut, kepala Humas mempromosikan saya. Beliau berdiri di belakang saya sambil memegang pundak saya. “Ini mahasiswa yang salah jurusan. Dia masuk Fakultas Ekonomi padahal suka menulis sastra,” katanya sembari tersenyum.

Semua orang diam dan melihat ke arah saya. Tak lama Pembantu Rektor I pun nyeletuk, “Saya sudah baca tulisanmu yang ada di buku dan juga yang ada di Radar Surabaya.” Sementara rektor hanya mengangguk-ngangguk kemudian berkata singkat, “Bagus itu! Lanjutkan!”

Apakah benar saya salah jurusan? Entahlah saya juga tidak paham. Yang pasti awal mula saya memilih jurusan Pendidikan Ekonomi karena ada satu alasan. Yaitu, saya percaya bahwa kehidupan dunia ini akan sangat ditentukan oleh tiga hal: agama, politik, dan ekonomi. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dalam percaturan kehidupan sosial masyarakat.

Sebab agama, masyarakat Sampang saling membunuh. Sebab politik, negara ini selalu dikorupsi. Sebab ekonomi, banyak tindakan-tindakan kriminal. Ketiganya merupakan komponen kehidupan yang sangat sensitif. Jadi, saat saya mau memilih jurusan di perguruan tinggi, saya ingin mendalami ekonomi. Mengenai kesukaan saya terhadap sastra, saya percaya bahwa menulis itu bisa dilakukan oleh jurusan apa saja. Yang penting adalah membangun kemauan.

Dengan sok gagah saya berani berkata, “Biarkan saya menjadi penulis yang ekonom.” Ya, meskipun hingga saat ini saya masih tidak menulis tentang ekonomi. Bagaimanapun saya masih merasa terlalu dini untuk menulis hal itu. Ilmu saya terhadap ekonomi masih sangat dangkal. Tapi, setidaknya keinginan itu sudah terpancang dengan baik.

Selain itu, saya juga memiliki kepercayaan bahwa seorang penulis itu akan mampu menguasai banyak bidang ilmu. Baiklah secara profesionalitas, sang penulis berlatar belakang dokter tapi bukan berarti dia tidak bisa menulis tentang politik. Juga tulisannya tentang politik bukan berarti dangkal sebab tidak berlatar belakang ilmu politik. Lihatlah bagaimana Taufik Ismail dan WS Rendra begitu getol membicarakan politik dalam puisi-puisinya. Padahal Taufik Ismail berlatar belakang dokter hewan dan WS Rendra berlatar belakang Sastra Inggris.

Menurut saya, penulis adalah profesi yang mampu melampaui segala ilmu. Sebab dalam dunia penulis ada sisi kelebihan yang tidak dimiliki oleh ilmu-ilmu lain. Misalnya, seorang novelis, untuk membuat novel yang baik tentu tidak hanya membaca novel. Melainkan dia juga harus mempelajari sisi sosial, psikologi, hingga budaya di mana latar novel itu akan dibuat. Jangan sampai orang Surabaya yang tidak tahu Madura kemudian menulis novel berlatar Madura. Nanti malah jadi novel Madura rasa Surabaya.

Oleh karena itu, hingga sekarang saya tetap tidak merasa kesasar dalam memilih jurusan dan apabila Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang S-2 kelak, saya juga tidak akan berpindah jurusan ke sastra. Saya masih ingin mendalami ilmu ekonomi. Saya pun optimis bisa mengembangkan kemampuan menulis saya meskipun berlatar belakang ekonomi.

Di luar kuliah, saya belajar pada penulis-penulis hebat. Sebab saya berharap kelak saya juga bisa menjadi orang hebat. Setidaknya capaian yang saya miliki melebihi apa yang pernah saya bayangkan. Itu semua berada di tangan Allah Sang Penguasa Alam. Wallahu a’lam.


Surabaya, 19 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar