Label

Senin, 03 Agustus 2015

Tulisan Saya Ketelisut

Saya lebih awal menulis di majalah Unesa daripada teman-teman seangkatan. Karena pada sebuah edisi, Mas Gilang tidak bisa melaksanakan tugasnya sehingga dilemparkan ke saya. Rasa bahagia karena bisa menulis di majalah berlipat-lipat. Saya ditugasi mewawancarai sejumlah pejabat tinggi fakultas saya dan juga beberapa mahasiswa. Saya mewawancarai ketua jurusan saya sendiri.

Sebenarnya, saya masih gugup saat mewawancarai beliau. Bagaimanapun saya masih baru dan jiwa minder masih kuat tertanam dalam diri saya. Saya membawa tema tentang pendidikan berbasis lokalitas. Dalam pertemuan saya dengan beliau, beliau juga tidak lupa menyampaikan bahwa fakultas saya jarang dimasukkan ke majalah. Untuk itu, saya menyampaikan bahwa nanti fakultas saya akan saya angkat pula ke majalah agar sama dengan fakultas-fakultas lain.

Setelah melakukan wawancara, saya berusaha menulis hasilnya sebaik-baiknya. Senior-senior saya (dalam keyakinan saya) pasti bisa menulis dengan bagus sedangkan saya masih pemula. Tapi, saya harus berusaha untuk tidak kalah dengan mereka. Saya juga harus bisa menulis dengan bagus sesuai yang diinginkan oleh redaktur majalah.

Saya mengirimkan tulisan saya ke email yang sudah ditunjuk. Harapan saya, tulisan itu akan diterbitkan sehingga ketua jurusan tidak kecewa terhadap ucapan saya. Cilokonyo, setelah majalah tersebut selesai dicetak ternyata tulisan saya tidak ada. Wah, ini membuat saya malu. Saya harus sering tutup wajah ketika di kampus.

Aha! Dugaan saya benar. Suatu saat saya bertemu dengan beliau di depan gedung G5. Beliau bertanya atau menyindir saya, tidak tahu. “Tidak masuk kan?!” ucapnya dingin. Saya hanya bisa diam dan meminta maaf. Kemudian saya menyampaikan ke penjaga gawang website waktu itu. Dia pun hanya terkejut dan berkata, “Masa?!” sembari tersenyum.

Tapi, seperti biasa, dialah yang selalu membesarkan hati saya. Saya tetap didorong untuk terus menulis dan terus optimis. Saya juga diminta untuk mewawancarainya lagi. Meskipun saya tidak berani karena takut mengecewakan yang keduakalinya. Saya memilih narasumber lain untuk diwawancarai.

Berselang waktu, saya berusaha untuk menanamkan prasangka baik. “Barangkali tulisan saya ketelisut,” pikir saya. Kemudian saya berusaha untuk membangun rasa optimis lagi sehingga proses saya untuk bisa menjadi penulis tidak terhambat.

Selain itu, tulisan-tulisan lain yang sudah saya kirim ternyata di majalah itu tidak ada nama saya sama sekali. Bahkan ada yang memakai nama orang lain. Sebenarnya saya ingin komplain kepada redaktur tapi saya masih merasa sungkan. Baru setelah akrab beberapa bulan kemudian saya menyampaikan tentang hal itu. Tapi, lagi-lagi saya harus berpikir positif. Mungkin karena waktu itu saya masih belum resmi menjadi reporter Humas sehingga nama saya tidak bisa dicantumkan.

Setidaknya ada tiga pengalaman yang kurang enak pada saat saya kali pertama menulis di majalah Unesa itu. Pengalaman terakhir adalah saat saya mewawancarai dua orang mahasiswa untuk kolom Speak Up! Seperti yang diperintahkan, selain wawancara saya juga diminta untuk memotret mahasiswa yang menjadi narasumber. Waktu itu, saya mengambil narasumber dari aktivis organisasi dan juga akademik.

Saya mengambil ketua BEM FE dan juga mahasiswa berprestasi yang memenangkan lomba debat bahasa Inggris dan dikirim ke Thailand. Ketika hendak diambil gambarnya, mereka berpenampilan baik agar nanti ketika dimuat di majalah tidak mengecewakan.

Saya memotretnya dengan baik pula. Sebagai reporter baru, rasa takut salah dan canggung masih selalu bercokol di benak saya. Tak lama setelah hasil wawancara selesai saya tuliskan, saya kirimkan bersama fotonya. Sebenarnya, ini adalah salah satu upaya saya untuk mengangkat fakultas saya agar juga dikenal seperti fakultas-fakultas lain.

Namun, lagi-lagi saya harus menggigit jari. Foto-foto mahasiswa yang menjadi narasumber saya tersebut tidak dimuat. Padahal mereka sudah berupaya berpenampilan baik agar terlihat tidak mengecewakan.

Tiga pengalaman yang kurang mengenakkan itu sempat membuat saya psimis. Saya psimis dan selalu khawatir bila tulisan saya tidak dimuat di majalah. Sebab ini tidak hanya berkaitan dengan saya tapi juga kedekatan saya dengan narasumber ke depannya. Bukankah narasumber ketika diwawancarai sudah berusaha memberikan yang terbaik agar bisa dimuat? Bukankah narasumber sangat bahagia ketika dirinya dimuat di majalah?

Itu adalah pengalaman saya di awal-awal. Berbeda dengan sekarang. Kalau sekarang semua reporter yang menyetorkan tulisan pasti dimuat. Sebab penugasan yang diberikan sudah sangat jelas. Kecuali reporter yang terlambat menyetorkan tulisannya.
Dari pengalaman itu, saya berusaha mengambil sisi positifnya saja. Barangkali pada tahap awal itu adalah peng-gembleng­-an. Sehingga kebelakang nanti saya bisa lebih tahan banting. Saya bisa mengelola kekurangan saya sebagai kekuatan untuk bangkit. Semoga saja ini tidak hanya menjadi harapan belaka tapi benar-benar terealisasi. Tak perlu kecewa bila tulisan tidak dimuat. Tapi kecewalah bila tidak mau berproses.


Surabaya, 19 Februari 2015 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar