Saya lebih awal menulis
di majalah Unesa daripada teman-teman seangkatan. Karena pada sebuah edisi, Mas
Gilang tidak bisa melaksanakan tugasnya sehingga dilemparkan ke saya. Rasa
bahagia karena bisa menulis di majalah berlipat-lipat. Saya ditugasi
mewawancarai sejumlah pejabat tinggi fakultas saya dan juga beberapa mahasiswa.
Saya mewawancarai ketua jurusan saya sendiri.
Sebenarnya, saya masih
gugup saat mewawancarai beliau. Bagaimanapun saya masih baru dan jiwa minder masih kuat tertanam dalam diri
saya. Saya membawa tema tentang pendidikan berbasis lokalitas. Dalam pertemuan
saya dengan beliau, beliau juga tidak lupa menyampaikan bahwa fakultas saya
jarang dimasukkan ke majalah. Untuk itu, saya menyampaikan bahwa nanti fakultas
saya akan saya angkat pula ke majalah agar sama dengan fakultas-fakultas lain.
Setelah melakukan
wawancara, saya berusaha menulis hasilnya sebaik-baiknya. Senior-senior saya
(dalam keyakinan saya) pasti bisa menulis dengan bagus sedangkan saya masih
pemula. Tapi, saya harus berusaha untuk tidak kalah dengan mereka. Saya juga
harus bisa menulis dengan bagus sesuai yang diinginkan oleh redaktur majalah.
Saya mengirimkan
tulisan saya ke email yang sudah ditunjuk. Harapan saya, tulisan itu akan
diterbitkan sehingga ketua jurusan tidak kecewa terhadap ucapan saya. Cilokonyo, setelah majalah tersebut
selesai dicetak ternyata tulisan saya tidak ada. Wah, ini membuat saya malu.
Saya harus sering tutup wajah ketika di kampus.
Aha! Dugaan saya benar.
Suatu saat saya bertemu dengan beliau di depan gedung G5. Beliau bertanya atau
menyindir saya, tidak tahu. “Tidak masuk kan?!” ucapnya dingin. Saya hanya bisa
diam dan meminta maaf. Kemudian saya menyampaikan ke penjaga gawang website waktu itu. Dia pun hanya
terkejut dan berkata, “Masa?!” sembari tersenyum.
Tapi, seperti biasa,
dialah yang selalu membesarkan hati saya. Saya tetap didorong untuk terus
menulis dan terus optimis. Saya juga diminta untuk mewawancarainya lagi.
Meskipun saya tidak berani karena takut mengecewakan yang keduakalinya. Saya
memilih narasumber lain untuk diwawancarai.
Berselang waktu, saya
berusaha untuk menanamkan prasangka baik. “Barangkali tulisan saya ketelisut,” pikir saya. Kemudian saya
berusaha untuk membangun rasa optimis lagi sehingga proses saya untuk bisa
menjadi penulis tidak terhambat.
Selain itu,
tulisan-tulisan lain yang sudah saya kirim ternyata di majalah itu tidak ada
nama saya sama sekali. Bahkan ada yang memakai nama orang lain. Sebenarnya saya
ingin komplain kepada redaktur tapi saya masih merasa sungkan. Baru setelah
akrab beberapa bulan kemudian saya menyampaikan tentang hal itu. Tapi,
lagi-lagi saya harus berpikir positif. Mungkin karena waktu itu saya masih
belum resmi menjadi reporter Humas sehingga nama saya tidak bisa dicantumkan.
Setidaknya ada tiga
pengalaman yang kurang enak pada saat saya kali pertama menulis di majalah
Unesa itu. Pengalaman terakhir adalah saat saya mewawancarai dua orang
mahasiswa untuk kolom Speak Up! Seperti
yang diperintahkan, selain wawancara saya juga diminta untuk memotret mahasiswa
yang menjadi narasumber. Waktu itu, saya mengambil narasumber dari aktivis
organisasi dan juga akademik.
Saya mengambil ketua
BEM FE dan juga mahasiswa berprestasi yang memenangkan lomba debat bahasa
Inggris dan dikirim ke Thailand. Ketika hendak diambil gambarnya, mereka
berpenampilan baik agar nanti ketika dimuat di majalah tidak mengecewakan.
Saya memotretnya dengan
baik pula. Sebagai reporter baru, rasa takut salah dan canggung masih selalu
bercokol di benak saya. Tak lama setelah hasil wawancara selesai saya tuliskan,
saya kirimkan bersama fotonya. Sebenarnya, ini adalah salah satu upaya saya
untuk mengangkat fakultas saya agar juga dikenal seperti fakultas-fakultas
lain.
Namun, lagi-lagi saya
harus menggigit jari. Foto-foto mahasiswa yang menjadi narasumber saya tersebut
tidak dimuat. Padahal mereka sudah berupaya berpenampilan baik agar terlihat
tidak mengecewakan.
Tiga pengalaman yang
kurang mengenakkan itu sempat membuat saya psimis. Saya psimis dan selalu
khawatir bila tulisan saya tidak dimuat di majalah. Sebab ini tidak hanya
berkaitan dengan saya tapi juga kedekatan saya dengan narasumber ke depannya.
Bukankah narasumber ketika diwawancarai sudah berusaha memberikan yang terbaik
agar bisa dimuat? Bukankah narasumber sangat bahagia ketika dirinya dimuat di
majalah?
Itu adalah pengalaman
saya di awal-awal. Berbeda dengan sekarang. Kalau sekarang semua reporter yang
menyetorkan tulisan pasti dimuat. Sebab penugasan yang diberikan sudah sangat
jelas. Kecuali reporter yang terlambat menyetorkan tulisannya.
Dari
pengalaman itu, saya berusaha mengambil sisi positifnya saja. Barangkali pada
tahap awal itu adalah peng-gembleng-an.
Sehingga kebelakang nanti saya bisa lebih tahan banting. Saya bisa mengelola
kekurangan saya sebagai kekuatan untuk bangkit. Semoga saja ini tidak hanya
menjadi harapan belaka tapi benar-benar terealisasi. Tak perlu kecewa bila
tulisan tidak dimuat. Tapi kecewalah bila tidak mau berproses.
Surabaya,
19 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar