Label

Selasa, 04 Agustus 2015

Jangan Takut Salah!

Kebenaran adalah kesalahan yang diulang-ulang. Ingat kalimat itu? Tentu saja masih ingat kalimat yang pernah dilontarkan oleh seorang pemimpin spektakuler Nazi, yaitu Aldof Hitler. Sepintas pikiran ini tidak mau menerima pernyataan tersebut sebab antara kebenaran dan kesalahan sebenarnya begitu jelas. Sehingga secara simultan otak ini akan menolak jika kesalahan dibenarkan. Tapi, mari kita kembali pada sejarah para filsuf Yunani kuno. Masih ingatkah bagaimana Galileo Galilie atau Hypatia yang dihukum mati sebab membuat sebuah pernyataan yang (dianggap) salah oleh Vatikan?

Mereka harus menerima maut yang dipaksakan hadir pada dirinya sebab menyatakan bahwa bumi yang mengelilingi matahari, bukan sebaliknya. Padahal pernyataan tersebut tidak sesuai dengan doktrin Vatikan. Namun, siapa yang dapat memungkiri bahwa bersamaan dengan zaman, pernyataan tersebut dapat dibuktikan. Doktrin yang salah selama bertahun-tahun pun akhirnya terbongkar oleh suatu ilmu pengetahuan yang ilmiah.

Berkaca pada kisah tersebut maka rasanya kita tidak perlu takut atau khawatir salah dalam melakukan sesuatu. Namun, saya tidak hendak mengajak pembaca untuk melakukan kesalahan. Maksud saya adalah agar ketika ingin melakukan sesuatu maka tidak perlu takut salah sepanjang kita sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik dengan benar (sesuai kemampuan kita). Dari kesalahan itulah nantinya kita akan menemukan kebenaran. Bukankah makhluk diciptakan memang secara berlawanan? Bukankah malam diciptakan agar kita mengetahui siang?

Berangkat dari pernyataan di atas, saya ingin mengajak pembaca untuk kembali melanjutkan pelajaran menulis dari Dr. Suyatno, M.Pd. Kenapa saya berangkat dari pernyataan tersebut? Karena dalam pelajaran kali ini, Dr. Suyatno, M.Pd. menyatakan “Hambatan terbesar menulis adalah rasa takut salah.” Umumnya masalah ini dirasakan oleh penulis pemula. Saya sering mendapati teman-teman yang ingin belajar menulis selalu mengatakan: “Saya takut salah. Tulisan saya takut jelek.”
Itu adalah alasan umum yang membuat penulis pemula tidak dapat menulis. Padahal bagaimanapun kita mengakui bahwa tak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Kebenaran mutlak hanya milik Allah. Dan bahkan dalam al-Quran pun secara terang-terangan dinyatakan bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Tapi, kenapa itu justru dijadikan alasan?

Bahkan sebenarnya kesalahan itu sering pula menghasilkan manfaat yang besar. Dari kesalahan itu justru ditemukan berbagai penemuan yang tak terduga. Salah satu contoh penemuan yang dilakukan secara tidak sengaja adalah penemuan antibiotik oleh Alexander Fleming pada tahun 1929. Peristiwa penemuan Fleming ini didapat secara tidak sengaja. Saat itu ia liburan dua minggu dan meninggalkan bakteri Staphylococcus di piringan kultur. Ketika Fleming kembali, ia melihat adanya jamur aneh pada piringan kultur (culture plate), jamur tersebut telah mematikan bakteri di sekitarnya. (http://www.kaskus.co.id/).

Kembali pada pelajaran menulis, rasa takut salah sebenarnya muncul karena penulis terlalu berpikir perfeksionis. Seorang penulis ingin menulis sebaik mungkin namun tidak pernah menuliskan satu huruf pun. Sebab yang ditanamkan dalam benaknya hanyalah tulisan yang sempurna. Bukankah mustahil menghasilkan tulisan yang bagus jika belum menulis satu huruf pun?

Oleh karena itu, rasa takut salah sebaiknya dibuang jauh-jauh ketika hendak menulis. Singkirkan! Sebab tanpa menulis maka mustahil kita akan menemukan kesalahan atau kebenaran terhadap tulisan kita. Intinya, yang utama dalam menuliskan ide bukanlah terletak pada kesalahan atau kebenaran dalam menulis tapi bagaimana agar ide tersebut dituliskan hingga tuntas.Ari Kinoysan Wulandari (penulis) mengatakan, kalau rasa perfeksionis muncul dalam benak  kita ketika hendak menulis maka bangunlah keyakinan dalam diri kita bahwa kita menulis yang terbaik.

Dalam setiap pelatihan menulis pun selalu saya temukan salah satu pelatih mengatakan bahwa memang tidak ada penulis yang sempurna. Wartawan senior sekalipun tulisannya tetap diedit atau bahkan dirombak habis-habisan oleh redaktur. Apalagi pemula yang baru mau menginjakkan kakinya di dunia tulis-menulis. Namun, hal itu bukanlah hambatan. Seorang penulis yang baik adalah penulis yang terbuka, yang mau belajar, menerima kritik, dan saran terhadap tulisannya. Sebab hanya demikian seorang penulis dapat meningkatkan kemampuan menulisnya.

Bahkan Dewi “Dee” Lestari, seorang novelis yang sudah sangat terkenal itu juga selalu berkonsultasi mengenai tulisannya kepada Hermawan Aksan. Dalam bukunya, Hermawan Aksan menyatakan bahwa perbedaan Dee dengan penulis lainnya adalah kecepatan Dee dalam belajar. Ketika tulisannya dikritik atau ditegur maka dengan cepat Dee mengubah dan tidak mengulanginya lagi.

Setidaknya itu sudah menunjukkan suatu keterbukaan diri seorang penulis. Penulis-penulis hebat sekalipun masih tidak bisa lepas dari kesalahan. Namun, bukan berarti hal itu dijadikan hambatan dalam menulis. Penulis-penulis hebat tetap menulis sambil belajar. Mereka menulis kemudian mengonsultasikan hasil tulisannya dengan orang lain. Inilah hal penting yang harus dilakukan oleh seorang penulis.

Ada pula hal baik yang mungkin dapat ditiru agar secara bertahap tulisan kita menjadi lebih baik. Selain berkonsultasi kepada ahlinya mengenai karya kita, kita juga perlu memberikan karya kita kepada orang yang tidak tahu menulis. Mintalah dia membaca karya kita. Dengarkan saja apa komentarnya setelah membaca tulisan kita. Tanyakan apa yang dia tangkap dari tulisan kita. Apakah gagasan kita sudah dipahami olehnya. Kalau ternyata tidak berarti kita perlu melakukan evaluasi terhadap bahasa dan struktur yang kita gunakan dalam tulisan. Bisa saja ketidakpahaman pembaca kita karena tulisan kita memang terlalu mbulet atau bisa juga karena sang pembaca memang tidak mencapai terhadap keilmuan tulisan kita. Namun, umumnya, tulisan yang bagus selalu identik dengan tulisan yang dapat diterima oleh semua kalangan.

Untuk itulah, sekali lagi saya tegaskan bahwa jangan pernah takut salah ketika hendak menulis. Tuliskan saja apa yang ada dalam pikiran. Kemudian edit. Kesalahan adalah proses menuju dan menemukan kebenaran. Kesalahan adalah rahmat untuk dapat membandingkan dengan kebenaran. Semoga!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar