Kebenaran adalah kesalahan yang
diulang-ulang. Ingat kalimat itu? Tentu saja masih ingat kalimat yang pernah
dilontarkan oleh seorang pemimpin spektakuler Nazi, yaitu Aldof Hitler.
Sepintas pikiran ini tidak mau menerima pernyataan tersebut sebab antara kebenaran
dan kesalahan sebenarnya begitu jelas. Sehingga secara simultan otak ini akan
menolak jika kesalahan dibenarkan. Tapi, mari kita kembali pada sejarah para
filsuf Yunani kuno. Masih ingatkah bagaimana Galileo Galilie atau Hypatia yang
dihukum mati sebab membuat sebuah pernyataan yang (dianggap) salah oleh
Vatikan?
Mereka harus menerima maut yang
dipaksakan hadir pada dirinya sebab menyatakan bahwa bumi yang mengelilingi
matahari, bukan sebaliknya. Padahal pernyataan tersebut tidak sesuai dengan
doktrin Vatikan. Namun, siapa yang dapat memungkiri bahwa bersamaan dengan
zaman, pernyataan tersebut dapat dibuktikan. Doktrin yang salah selama
bertahun-tahun pun akhirnya terbongkar oleh suatu ilmu pengetahuan yang ilmiah.
Berkaca pada kisah tersebut maka rasanya
kita tidak perlu takut atau khawatir salah dalam melakukan sesuatu. Namun, saya
tidak hendak mengajak pembaca untuk melakukan kesalahan. Maksud saya adalah
agar ketika ingin melakukan sesuatu maka tidak perlu takut salah sepanjang kita
sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik dengan benar (sesuai kemampuan
kita). Dari kesalahan itulah nantinya kita akan menemukan kebenaran. Bukankah
makhluk diciptakan memang secara berlawanan? Bukankah malam diciptakan agar
kita mengetahui siang?
Berangkat dari pernyataan di atas, saya
ingin mengajak pembaca untuk kembali melanjutkan pelajaran menulis dari Dr.
Suyatno, M.Pd. Kenapa saya berangkat dari pernyataan tersebut? Karena dalam
pelajaran kali ini, Dr. Suyatno, M.Pd. menyatakan “Hambatan terbesar menulis
adalah rasa takut salah.” Umumnya masalah ini dirasakan oleh penulis pemula.
Saya sering mendapati teman-teman yang ingin belajar menulis selalu mengatakan:
“Saya takut salah. Tulisan saya takut jelek.”
Itu adalah alasan umum yang membuat
penulis pemula tidak dapat menulis. Padahal bagaimanapun kita mengakui bahwa
tak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Kebenaran mutlak hanya milik Allah. Dan
bahkan dalam al-Quran pun secara terang-terangan dinyatakan bahwa manusia
adalah tempat salah dan lupa. Tapi, kenapa itu justru dijadikan alasan?
Bahkan sebenarnya kesalahan itu sering
pula menghasilkan manfaat yang besar. Dari kesalahan itu justru ditemukan
berbagai penemuan yang tak terduga. Salah satu contoh penemuan yang dilakukan
secara tidak sengaja adalah penemuan antibiotik oleh Alexander Fleming pada
tahun 1929. Peristiwa penemuan Fleming ini didapat secara tidak
sengaja. Saat itu ia liburan dua minggu dan meninggalkan
bakteri Staphylococcus di piringan kultur. Ketika Fleming
kembali, ia melihat adanya jamur aneh pada piringan kultur (culture
plate), jamur tersebut telah mematikan bakteri di sekitarnya.
(http://www.kaskus.co.id/).
Kembali pada pelajaran menulis, rasa
takut salah sebenarnya muncul karena penulis terlalu berpikir perfeksionis.
Seorang penulis ingin menulis sebaik mungkin namun tidak pernah menuliskan satu
huruf pun. Sebab yang ditanamkan dalam benaknya hanyalah tulisan yang sempurna.
Bukankah mustahil menghasilkan tulisan yang bagus jika belum menulis satu huruf
pun?
Oleh karena itu, rasa takut salah sebaiknya
dibuang jauh-jauh ketika hendak menulis. Singkirkan! Sebab tanpa menulis maka
mustahil kita akan menemukan kesalahan atau kebenaran terhadap tulisan kita.
Intinya, yang utama dalam menuliskan ide bukanlah terletak pada kesalahan atau
kebenaran dalam menulis tapi bagaimana agar ide tersebut dituliskan hingga
tuntas.Ari Kinoysan Wulandari (penulis) mengatakan, kalau rasa perfeksionis
muncul dalam benak kita ketika hendak menulis maka bangunlah
keyakinan dalam diri kita bahwa kita menulis yang terbaik.
Dalam setiap pelatihan menulis pun
selalu saya temukan salah satu pelatih mengatakan bahwa memang tidak ada
penulis yang sempurna. Wartawan senior sekalipun tulisannya tetap diedit atau
bahkan dirombak habis-habisan oleh redaktur. Apalagi pemula yang baru mau menginjakkan
kakinya di dunia tulis-menulis. Namun, hal itu bukanlah hambatan. Seorang
penulis yang baik adalah penulis yang terbuka, yang mau belajar, menerima
kritik, dan saran terhadap tulisannya. Sebab hanya demikian seorang penulis
dapat meningkatkan kemampuan menulisnya.
Bahkan Dewi “Dee” Lestari, seorang
novelis yang sudah sangat terkenal itu juga selalu berkonsultasi mengenai
tulisannya kepada Hermawan Aksan. Dalam bukunya, Hermawan Aksan menyatakan
bahwa perbedaan Dee dengan penulis lainnya adalah kecepatan Dee dalam belajar.
Ketika tulisannya dikritik atau ditegur maka dengan cepat Dee mengubah dan
tidak mengulanginya lagi.
Setidaknya itu sudah menunjukkan suatu
keterbukaan diri seorang penulis. Penulis-penulis hebat sekalipun masih tidak
bisa lepas dari kesalahan. Namun, bukan berarti hal itu dijadikan hambatan
dalam menulis. Penulis-penulis hebat tetap menulis sambil belajar. Mereka
menulis kemudian mengonsultasikan hasil tulisannya dengan orang lain. Inilah
hal penting yang harus dilakukan oleh seorang penulis.
Ada pula hal baik yang mungkin dapat
ditiru agar secara bertahap tulisan kita menjadi lebih baik. Selain
berkonsultasi kepada ahlinya mengenai karya kita, kita juga perlu memberikan
karya kita kepada orang yang tidak tahu menulis. Mintalah dia membaca karya
kita. Dengarkan saja apa komentarnya setelah membaca tulisan kita. Tanyakan apa
yang dia tangkap dari tulisan kita. Apakah gagasan kita sudah dipahami olehnya.
Kalau ternyata tidak berarti kita perlu melakukan evaluasi terhadap bahasa dan
struktur yang kita gunakan dalam tulisan. Bisa saja ketidakpahaman pembaca kita
karena tulisan kita memang terlalu mbulet
atau bisa juga karena sang pembaca memang tidak mencapai terhadap keilmuan
tulisan kita. Namun, umumnya, tulisan yang bagus selalu identik dengan tulisan
yang dapat diterima oleh semua kalangan.
Untuk itulah, sekali lagi saya tegaskan
bahwa jangan pernah takut salah ketika hendak menulis. Tuliskan saja apa yang
ada dalam pikiran. Kemudian edit. Kesalahan adalah proses menuju dan menemukan
kebenaran. Kesalahan adalah rahmat untuk dapat membandingkan dengan kebenaran.
Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar