Kalau ditanya, mana yang lebih dahulu
antara telur dan ayam tentu jawabnya bingung. Padahal itu hanyalah
tebak-tebakan yang sengaja dibuat mengecoh. Yang jelas lebih dahulu telur
karena yang disebut lebih awal telur bukannya ayam. Tapi, kalau ditanya mana yang
lebih dulu antara pengklasifikasian dengan objek yang diklasifikasi? Tentu
dengan tangkas jawabannya adalah objek yang diklasifikasikan. Kenapa?
Ah, jelas itu tak perlu saya jawab lagi
alasannya. Tapi, saya ingin mengajak pembaca untuk masuk ke dalam pelajaran
menulis, khususnya dalam masalah klasifikasi atau pengelompokan tulisan. Saya
pernah bertemu dengan seorang penulis yang suka menulis di mana saja. Di mana
ada kesempatan maka ia menulis. Tapi, ada pula yang menentukan waktu khusus
untuk menulis.
Dr. Suyatno, M.Pd. adalah salah satu
contoh penulis yang dapat menulis kapan saja. Kemarin, bulan Desember, dalam
waktu yang bersamaan, beliau diminta empat tulisan sekaligus. Yakni, tiga
tulisan untuk majalah dan satu tulisan lagi untuk Jurnal Dies Natalis.
Masing-masing tulisan temanya berbeda-beda. Beberapa saat beliau diam kemudian
masuk ke ruang kerjanya beberapa menit. Dan setelah keluar, beliau sudah
membawa tulisan yang saya minta.
Nah, penulis yang memiliki jadwal khusus
untuk menulis salah satunya adalah Drs. Much. Khoiri, M.Si. Bukan berarti
beliau tidak bisa melakukan seperti halnya yang dilakukan Dr. Suyatno, M.Pd.,
namun beliau memiliki jadwal tersendiri untuk menulis, yaitu sebelum waktu
subuh. Untuk membuktikannya, dapat dilihat tulisan-tulisannya yang menghiasi
blognya.
Selain itu, ada penulis yang hanya suka
menulis puisi sehingga kelak ia disebut penyair atau sastrawan. Ada yang suka
menulis esai, artikel, dan lain sebagainya. Keduanya sama-sama berusaha untuk
mengungkapkan apa yang ditangkap oleh pikirannya. Dengan kata lain, menuliskan
isi pikirannya.
Itu semua hanyalah cara atau gaya
menulis. Setiap penulis memiliki kesukaannya masing-masing. Kadang suka
mengungkapkan idenya melalui tulisan dalam bentuk puisi. Kadang lebih suka
melalui cerpen. Kadang lebih suka melalui artikel, esai, atau pun status di
dinding facebook. Semua itu bukan hal yang penting dalam
belajar menulis. Inti utama dalam belajar menulis adalah menulis. Tak peduli
mau berbetuk apa.
Kata Dr. Suyatno, M.Pd. dalam pelajaran
kedelapan, “Banyak gaya tulisan dan banyak cara menulis. Itu semua bukan pilihan
tetapi hasil pengelompokan dari pembaca. Jadi, menulislah tanpa harus
memperhatikan gaya tulisan.”
Saya rasa pernyataan itu benar. Mungkin
saja kebiasaan Dr. Suyatno, M.Pd. menulis kapanpun dan di manapun hanyalah
sebuah hal biasa baginya. Begitupun dengan kebiasaan Drs. Much. Khoiri, M.Si.
Namun, saya sebagai orang yang memerhatikan keduanya, akhirnya saya
mengelompokkan keduanya dalam sekat-sekat yang berbeda. Padahal, mungkin saja
hal itu hanyalah kebiasaan yang tidak istimewa bagi mereka.
Dengan dasar itulah saya dapat
membenarkan pernyataan di atas. Lebih baik fokus untuk menuliskan ide-ide yang
kita miliki daripada memikirkan gaya atau cara apa yang akan digunakan untuk
menulis. Mengenai gaya dan cara, biarkan pembaca saja yang menentukan. Dalam
belajar menulis tidak usah dirisihkan oleh hal-hal yang justru menghambat
proses belajar menulis kita.
Coba kita bayangkan seandainya kita
memikirkan gaya penulisan daripada menulis. Dari dulu, sastra dibagi ke dalam
beberapa periode. Ada angkatan balai pustaka (1920—1933), angkatan pujangga
baru (1933—1942), angkatan ’45, angkatan 1950, angkatan 1966, dan angkatan
70-an hingga sekarang. Kalau boleh ditanyakan, apakah waktu itu penulis memang
memosisikan atau memikirkan angkatan-angkatan itu? Ah, saya kira tidak. Hanya
saja di kemudian hari para intelektual mengklasifikasikan demi kemudahan.
Dan mungkin sejak tahun 2012 kemarin,
periodisasi sastra perlu ditambah lagi. Bukankah pada tahun 2012 itu muncul
jenis sastra baru, yaitu puisi esai? Puisi yang cukup membuat kepala saya
pusing. Puisi yang sangat panjang dan wajib memakai catatan kaki segala kayak
karya ilmiah. Tapi, itu sudah muncul dan bahkan dikenal luas.
Kalau ditanya, apakah Deny J.A.
memikirkan jenis atau gaya puisi esai tersebut sehingga ia tak dapat menulis
sebab terlalu bingung mau memakai jenis gaya apa? Lagi-lagi saya rasa tidak.
Kemungkinan Deny J.A. menuliskan saja ide yang muncul di benaknya. Namun,
setelah selesai ternyata ia sadar bahwa tulisannya (dianggap) memiliki keunikan
yang berbeda dengan tulisan-tulisan pada umumnya. Bahasa yang digunakan
sederhana seperti pada umumnya esai, tapi bentuk dan pilihan katanya manis
seperti puisi. Sehingga dinamakanlah puisi esai.
Tahun 2012, Deny J.A. menerbitkan
tulisannya yang diberi nama puisi esai tersebut. Dan bukan main, yang
mengapresiasi terbitnya corak penulisan sastra baru itu pertama dilakukan oleh
Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignes Kleden. Sebagaimana
kita ketahui, ketiganya merupakan tokoh sastra papan atas.
Kembali pada pelajaran kedelapan, tak
mungkin rasanya bagi kita untuk menjadi seorang penulis bila hanya memikirkan
gaya atau cara menulis. Sudah banyak buku-buku teknik menulis yang tersebar di
berbagai toko buku, sudah banyak pelatihan menulis dilaksanakan, namun intinya
sama, untuk menjadi penulis yaitu menulis.
Sudah pinggirkan dulu gaya atau cara
menulis yang pernah dilakukan oleh para penulis terdahulu. Yang terpenting dan
terutama bagi kita adalah menulis. Siapa tahu kalau kita menulis, menulis, dan
terus menulis tanpa kita sadari ternyata tulisan kita memiliki keunikan
sendiri. Wah tentu kita akan dinobatkan sebagai pelopor lahirnya gaya tulisan
baru. Tapi, apakah itu penting? Sekali lagi saya katakan, yang penting hanyalah
menuliskan ide yang ada dalam pikiran. Keep fighting!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar