Label

Selasa, 04 Agustus 2015

Ah, Tulis Saja Apapun Itu!

Kalau ditanya, mana yang lebih dahulu antara telur dan ayam tentu jawabnya bingung. Padahal itu hanyalah tebak-tebakan yang sengaja dibuat mengecoh. Yang jelas lebih dahulu telur karena yang disebut lebih awal telur bukannya ayam. Tapi, kalau ditanya mana yang lebih dulu antara pengklasifikasian dengan objek yang diklasifikasi? Tentu dengan tangkas jawabannya adalah objek yang diklasifikasikan. Kenapa?

Ah, jelas itu tak perlu saya jawab lagi alasannya. Tapi, saya ingin mengajak pembaca untuk masuk ke dalam pelajaran menulis, khususnya dalam masalah klasifikasi atau pengelompokan tulisan. Saya pernah bertemu dengan seorang penulis yang suka menulis di mana saja. Di mana ada kesempatan maka ia menulis. Tapi, ada pula yang menentukan waktu khusus untuk menulis.

Dr. Suyatno, M.Pd. adalah salah satu contoh penulis yang dapat menulis kapan saja. Kemarin, bulan Desember, dalam waktu yang bersamaan, beliau diminta empat tulisan sekaligus. Yakni, tiga tulisan untuk majalah dan satu tulisan lagi untuk Jurnal Dies Natalis. Masing-masing tulisan temanya berbeda-beda. Beberapa saat beliau diam kemudian masuk ke ruang kerjanya beberapa menit. Dan setelah keluar, beliau sudah membawa tulisan yang saya minta.

Nah, penulis yang memiliki jadwal khusus untuk menulis salah satunya adalah Drs. Much. Khoiri, M.Si. Bukan berarti beliau tidak bisa melakukan seperti halnya yang dilakukan Dr. Suyatno, M.Pd., namun beliau memiliki jadwal tersendiri untuk menulis, yaitu sebelum waktu subuh. Untuk membuktikannya, dapat dilihat tulisan-tulisannya yang menghiasi blognya.

Selain itu, ada penulis yang hanya suka menulis puisi sehingga kelak ia disebut penyair atau sastrawan. Ada yang suka menulis esai, artikel, dan lain sebagainya. Keduanya sama-sama berusaha untuk mengungkapkan apa yang ditangkap oleh pikirannya. Dengan kata lain, menuliskan isi pikirannya.

Itu semua hanyalah cara atau gaya menulis. Setiap penulis memiliki kesukaannya masing-masing. Kadang suka mengungkapkan idenya melalui tulisan dalam bentuk puisi. Kadang lebih suka melalui cerpen. Kadang lebih suka melalui artikel, esai, atau pun status di dinding facebook. Semua itu bukan hal yang penting dalam belajar menulis. Inti utama dalam belajar menulis adalah menulis. Tak peduli mau berbetuk apa.

Kata Dr. Suyatno, M.Pd. dalam pelajaran kedelapan, “Banyak gaya tulisan dan banyak cara menulis. Itu semua bukan pilihan tetapi hasil pengelompokan dari pembaca. Jadi, menulislah tanpa harus memperhatikan gaya tulisan.”

Saya rasa pernyataan itu benar. Mungkin saja kebiasaan Dr. Suyatno, M.Pd. menulis kapanpun dan di manapun hanyalah sebuah hal biasa baginya. Begitupun dengan kebiasaan Drs. Much. Khoiri, M.Si. Namun, saya sebagai orang yang memerhatikan keduanya, akhirnya saya mengelompokkan keduanya dalam sekat-sekat yang berbeda. Padahal, mungkin saja hal itu hanyalah kebiasaan yang tidak istimewa bagi mereka.

Dengan dasar itulah saya dapat membenarkan pernyataan di atas. Lebih baik fokus untuk menuliskan ide-ide yang kita miliki daripada memikirkan gaya atau cara apa yang akan digunakan untuk menulis. Mengenai gaya dan cara, biarkan pembaca saja yang menentukan. Dalam belajar menulis tidak usah dirisihkan oleh hal-hal yang justru menghambat proses belajar menulis kita.

Coba kita bayangkan seandainya kita memikirkan gaya penulisan daripada menulis. Dari dulu, sastra dibagi ke dalam beberapa periode. Ada angkatan balai pustaka (1920—1933), angkatan pujangga baru (1933—1942), angkatan ’45, angkatan 1950, angkatan 1966, dan angkatan 70-an hingga sekarang. Kalau boleh ditanyakan, apakah waktu itu penulis memang memosisikan atau memikirkan angkatan-angkatan itu? Ah, saya kira tidak. Hanya saja di kemudian hari para intelektual mengklasifikasikan demi kemudahan.

Dan mungkin sejak tahun 2012 kemarin, periodisasi sastra perlu ditambah lagi. Bukankah pada tahun 2012 itu muncul jenis sastra baru, yaitu puisi esai? Puisi yang cukup membuat kepala saya pusing. Puisi yang sangat panjang dan wajib memakai catatan kaki segala kayak karya ilmiah. Tapi, itu sudah muncul dan bahkan dikenal luas.

Kalau ditanya, apakah Deny J.A. memikirkan jenis atau gaya puisi esai tersebut sehingga ia tak dapat menulis sebab terlalu bingung mau memakai jenis gaya apa? Lagi-lagi saya rasa tidak. Kemungkinan Deny J.A. menuliskan saja ide yang muncul di benaknya. Namun, setelah selesai ternyata ia sadar bahwa tulisannya (dianggap) memiliki keunikan yang berbeda dengan tulisan-tulisan pada umumnya. Bahasa yang digunakan sederhana seperti pada umumnya esai, tapi bentuk dan pilihan katanya manis seperti puisi. Sehingga dinamakanlah puisi esai.

Tahun 2012, Deny J.A. menerbitkan tulisannya yang diberi nama puisi esai tersebut. Dan bukan main, yang mengapresiasi terbitnya corak penulisan sastra baru itu pertama dilakukan oleh Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignes Kleden. Sebagaimana kita ketahui, ketiganya merupakan tokoh sastra papan atas.

Kembali pada pelajaran kedelapan, tak mungkin rasanya bagi kita untuk menjadi seorang penulis bila hanya memikirkan gaya atau cara menulis. Sudah banyak buku-buku teknik menulis yang tersebar di berbagai toko buku, sudah banyak pelatihan menulis dilaksanakan, namun intinya sama, untuk menjadi penulis yaitu menulis.

Sudah pinggirkan dulu gaya atau cara menulis yang pernah dilakukan oleh para penulis terdahulu. Yang terpenting dan terutama bagi kita adalah menulis. Siapa tahu kalau kita menulis, menulis, dan terus menulis tanpa kita sadari ternyata tulisan kita memiliki keunikan sendiri. Wah tentu kita akan dinobatkan sebagai pelopor lahirnya gaya tulisan baru. Tapi, apakah itu penting? Sekali lagi saya katakan, yang penting hanyalah menuliskan ide yang ada dalam pikiran. Keep fighting!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar