Label

Selasa, 04 Agustus 2015

Jual Saja Kelalaian dengan Memulai

Kalau membaca surat Al-Ma’un rasanya tubuh ini merinding. Terutama dalam ayat yang kurang lebih artinya seperti ini: “Celakalah bagi orang-orang yang salat. Yaitu orang-orang yang lalai dalam salatnya.” Bayangkan, orang yang salat saja celaka apalagi yang tidak?

Tapi, saya lebih kaget lagi ketika mendengar penuturan dari seorang guru yang mengatakan bahwa kata “lalai” dalam kalimat tersebut bukan hanya berarti orang yang tidak salat tapi juga orang yang suka menunda-nunda waktu salatnya. Tentu saja masalah ini sering terjadi. Rasanya masih ada waktu sehingga dengan santai mengatakan, “Tunggu sebentar lagi!” Tapi, rasanya juga berat bagi saya untuk menghindari masalah ini. Mungkin karena saya nakal ya?

Namun, ada satu hal yang menurut saya cukup unik dari kata “lalai” tersebut. Kata ini ternyata tidak hanya berlaku pada orang yang salat, bahkan berlaku pula bagi aktivitas lain. Salah satunya menulis. Kenapa dengan menulis? Nah, inilah yang akan saya bahas di sini. Ini merupakan pelajaran menulis kesembilan dari Dr. Suyatno, M.Pd. Beliau menuturkan, “Kalau sekarang belum dapat menulis belum tentu besok juga belum dapat menulis asalkan berani memulai.”

Apa yang dikatakan oleh Dr. Suyatno, M.Pd. di atas memang tidak jauh berbeda dengan ungkapan “Memulai sesuatu adalah bagian tersulit.” Itulah salah satu penyebab kenapa banyak orang memilih menjadi pengikut(passanger) daripada pengawal atau pengendali (driver). Itu pula kenapa banyak orang lebih memilih bekerja pada orang lain dengan penghasilan tetap daripada memulai usaha sendiri.

Kenapa demikian? Sebenarnya saya bukan ahli untuk membahas mengenai hal ini. Hanya orang-orang psikologi yang lebih paham mengenai konstruksi jiwa terkait hal ini. Tapi, saya hanya ingin menjelaskan apa yang dialami saya sehingga selalu takut untuk memulai sesuatu.

Ketika ada sebuah ide, keinginan untuk mengaplikasikan ide tersebut ke dalam tindakan nyata memang ada. Namun, yang pertama kali muncul dalam benak adalah kata “bagaimana”. Misalnya, bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau nanti saya rugi? Bagaimana kalau jelek? Dan bagaimana-bagaimana yang lain.

Akhirnya, karena terlalu banyak memikirkan jawaban “bagaimana”, ide tersebut hanya menjadi bayangan saja. Tak pernah muncul dalam dunia nyata. Kemudian, mulailah muncul berbagai alibi untuk membenarkan ketidakmampuan untuk memulai tersebut.

Alasan lain adalah suka menunda. Ya, sama dengan penjelasan guru saya mengenai arti kata “lalai”. Menunda adalah sebuah kebiasaan yang sudah melekat dalam diri seseorang. Menunda disebabkan apa yang dilakukan saat ini merasa lebih nyaman daripada apa yang akan dilakukan. Atau menunda disebabkan karena pikiran ini berpikir bahwa jika tindakan tersebut dilakukan nanti maka hasilnya akan lebih baik. Padahal, pada kenyataannya hal itu juga belum tentu.

Karena saat ini masih dalam masa-masa UAS di kampus saya, barangkali kebiasaan saya dalam mengerjakan soal dapat dibagikan di sini. Saya bukan orang pintar yang memiliki IPK tinggi. Mungkin karena saya tidak suka berlama-lama di depan soal. Males!

Oleh karena itu, saya lebih suka mengerjakan tugas dengan lebih cepat, khususnya terhadap soal-soal yang bukan eksakta. Untuk soal-soal yang membutuhkan deskripsi, apalagi pendapat, saya lebih cepat mengerjakan. Sekali lagi bukan karena saya pintar. Tapi, saya berpikir begini, ditunggu atau pun tidak sama-sama tidak tahu. Jadi, lebih baik segera kerjakan kemudian keluar biar pikiran cepat plong.

Dengan begitu, saya dapat memikirkan hal-hal lain untuk mengisi waktu luang. Daripada menunggu tidak tahu, tidak menunggu tetap tidak tahu, ya lebih baik kerjakan saja. Artinya, kalau memang tidak tahu tentu akan tetap tidak tahu sebelum belajar. Bukankah di bawah buku tulis merek Sinar Dunia ada istilah “You will never know until you have tried”? (Kamu tidak akan pernah tahu sebelum kamu mencoba?)

Begitu pula dalam hal menulis. Jika seseorang hanya menunggu atau lalai untuk menuliskan isi pikirannya tentu saja tulisan itu tak akan pernah jadi. Memang kesulitan untuk memulai sebuah tulisan itu pasti ada. Tapi, apakah dengan menunggu kemudian secara tiba-tiba kesulitan itu hilang? Belum tentu juga, kan?

Karena baik ditunggu maupun tidak tentu sama saja, rasa kesulitan itu pasti ada. Maka lebih baik mulai saja. Bagaimanapun untuk memulai menulis hanya dengan menuliskan. Kesulitan-kesulitan itu akan hilang dengan sendirinya ketika menulis sudah menjadi kebiasaan.

Kembali pada pelajaran Dr. Suyatno, M.Pd. di atas, kata kunci untuk menulis adalah memulai. Kalau sekarang belum dapat memulai belum tentu besok juga dapat memulai, kuncinya adalah memulai. Seperti yang sudah dibahas pada pelajaran-pelajaran sebelumnya, menulis adalah keterampilan. Kata Thomas Edison, kesuksesan itu diperoleh dari satu persen bakat dan sembilan puluh persen kerja keras.

Yang biasa menjadi kesulitan untuk memulai menulis adalah ketika hendak menuliskan kalimat pertama. Satu ilmu yang saya dapatkan (waktu masih di MAN Sumenep dulu) dari seorang cerpenis. Avan Fathurrahman namanya. Dulu ketika pelatihan menulis, beliau menjanjikan kepada seluruh peserta, sebelum keluar dari ruangan seluruh peserta sudah dijamin bisa menulis.

Ternyata benar, semua peserta dapat menulis sebelum keluar dari ruangan, bahkan hampir tidak bisa berhenti untuk terus menulis. Bagaimana metodenya? Pak Avan–demikian panggilan akrabnya–memerintahkan seluruh peserta untuk menulis. Menulis apapun yang ada dipikirannya. Bahkan ketika ada peserta yang berkata, “Saya bingung, Pak.” Pak Avan segera menjawab, “Tulis saja, ‘Saya bingung’. Kalau masih bingung, tulis lagi, ‘Saya masih bingung apa yang akan saya tulis’. Hingga jadilah tulisan tersebut beberapa paragraf,” jelasnya.

Tentu saja dengan cepat para peserta dapat menulis berparagraf-paragraf. Bahkan ketika waktunya sudah habis pun, para peserta masih saja menulis dan bilang bahwa tulisannya belum selesai. Berkali-kali Pak Avan memperpanjang waktunya namun peserta belum juga mau berhenti menulis. Mereka terus menulis, menulis, dan menulis.

Itulah intinya dalam menulis sebagaimana pelajaran menulis kesembilan yang disampaikan oleh Dr. Suyatno, M.Pd. Mulailah menulis niscaya jadilah tulisan. Jangan menunggu hari esok sebab hari esok belum tentu juga dapat menulis. Bisa jadi hari esok akan muncul penundaan lagi. Dan menunggu adalah bagian dari kelalaian. Maka jual saja kelalaian itu dengan memulai sekarang. Keep fighting!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar