Kalau membaca surat Al-Ma’un rasanya
tubuh ini merinding. Terutama dalam ayat yang kurang lebih artinya seperti ini:
“Celakalah bagi orang-orang yang salat. Yaitu orang-orang yang lalai dalam
salatnya.” Bayangkan, orang yang salat saja celaka apalagi yang tidak?
Tapi, saya lebih kaget lagi ketika
mendengar penuturan dari seorang guru yang mengatakan bahwa kata “lalai” dalam
kalimat tersebut bukan hanya berarti orang yang tidak salat tapi juga orang
yang suka menunda-nunda waktu salatnya. Tentu saja masalah ini sering terjadi.
Rasanya masih ada waktu sehingga dengan santai mengatakan, “Tunggu sebentar
lagi!” Tapi, rasanya juga berat bagi saya untuk menghindari masalah ini.
Mungkin karena saya nakal ya?
Namun, ada satu hal yang menurut saya
cukup unik dari kata “lalai” tersebut. Kata ini ternyata tidak hanya berlaku
pada orang yang salat, bahkan berlaku pula bagi aktivitas lain. Salah satunya
menulis. Kenapa dengan menulis? Nah, inilah yang akan saya bahas di sini. Ini
merupakan pelajaran menulis kesembilan dari Dr. Suyatno, M.Pd. Beliau
menuturkan, “Kalau sekarang belum dapat menulis belum tentu besok juga belum
dapat menulis asalkan berani memulai.”
Apa yang dikatakan oleh Dr. Suyatno,
M.Pd. di atas memang tidak jauh berbeda dengan ungkapan “Memulai sesuatu adalah
bagian tersulit.” Itulah salah satu penyebab kenapa banyak orang memilih
menjadi pengikut(passanger) daripada pengawal atau pengendali (driver). Itu
pula kenapa banyak orang lebih memilih bekerja pada orang lain dengan
penghasilan tetap daripada memulai usaha sendiri.
Kenapa demikian? Sebenarnya saya bukan
ahli untuk membahas mengenai hal ini. Hanya orang-orang psikologi yang lebih
paham mengenai konstruksi jiwa terkait hal ini. Tapi, saya hanya ingin
menjelaskan apa yang dialami saya sehingga selalu takut untuk memulai sesuatu.
Ketika ada sebuah ide, keinginan untuk
mengaplikasikan ide tersebut ke dalam tindakan nyata memang ada. Namun, yang
pertama kali muncul dalam benak adalah kata “bagaimana”. Misalnya, bagaimana
kalau gagal? Bagaimana kalau nanti saya rugi? Bagaimana kalau jelek? Dan
bagaimana-bagaimana yang lain.
Akhirnya, karena terlalu banyak
memikirkan jawaban “bagaimana”, ide tersebut hanya menjadi bayangan saja. Tak
pernah muncul dalam dunia nyata. Kemudian, mulailah muncul berbagai alibi untuk
membenarkan ketidakmampuan untuk memulai tersebut.
Alasan lain adalah suka menunda. Ya,
sama dengan penjelasan guru saya mengenai arti kata “lalai”. Menunda adalah
sebuah kebiasaan yang sudah melekat dalam diri seseorang. Menunda disebabkan
apa yang dilakukan saat ini merasa lebih nyaman daripada apa yang akan
dilakukan. Atau menunda disebabkan karena pikiran ini berpikir bahwa jika
tindakan tersebut dilakukan nanti maka hasilnya akan lebih baik. Padahal, pada
kenyataannya hal itu juga belum tentu.
Karena saat ini masih dalam masa-masa
UAS di kampus saya, barangkali kebiasaan saya dalam mengerjakan soal dapat
dibagikan di sini. Saya bukan orang pintar yang memiliki IPK tinggi. Mungkin
karena saya tidak suka berlama-lama di depan soal. Males!
Oleh karena itu, saya lebih suka
mengerjakan tugas dengan lebih cepat, khususnya terhadap soal-soal yang bukan
eksakta. Untuk soal-soal yang membutuhkan deskripsi, apalagi pendapat, saya
lebih cepat mengerjakan. Sekali lagi bukan karena saya pintar. Tapi, saya
berpikir begini, ditunggu atau pun tidak sama-sama tidak tahu. Jadi, lebih baik
segera kerjakan kemudian keluar biar pikiran cepat plong.
Dengan begitu, saya dapat memikirkan
hal-hal lain untuk mengisi waktu luang. Daripada menunggu tidak tahu, tidak
menunggu tetap tidak tahu, ya lebih baik kerjakan saja. Artinya, kalau memang
tidak tahu tentu akan tetap tidak tahu sebelum belajar. Bukankah di bawah buku
tulis merek Sinar Dunia ada istilah “You will never know until you have
tried”? (Kamu tidak akan pernah tahu sebelum kamu mencoba?)
Begitu pula dalam hal menulis. Jika
seseorang hanya menunggu atau lalai untuk menuliskan isi pikirannya tentu saja
tulisan itu tak akan pernah jadi. Memang kesulitan untuk memulai sebuah tulisan
itu pasti ada. Tapi, apakah dengan menunggu kemudian secara tiba-tiba kesulitan
itu hilang? Belum tentu juga, kan?
Karena baik ditunggu maupun tidak tentu
sama saja, rasa kesulitan itu pasti ada. Maka lebih baik mulai saja.
Bagaimanapun untuk memulai menulis hanya dengan menuliskan. Kesulitan-kesulitan
itu akan hilang dengan sendirinya ketika menulis sudah menjadi kebiasaan.
Kembali pada pelajaran Dr. Suyatno, M.Pd.
di atas, kata kunci untuk menulis adalah memulai. Kalau sekarang belum dapat
memulai belum tentu besok juga dapat memulai, kuncinya adalah memulai. Seperti
yang sudah dibahas pada pelajaran-pelajaran sebelumnya, menulis adalah
keterampilan. Kata Thomas Edison, kesuksesan itu diperoleh dari satu persen
bakat dan sembilan puluh persen kerja keras.
Yang biasa menjadi kesulitan untuk
memulai menulis adalah ketika hendak menuliskan kalimat pertama. Satu ilmu yang
saya dapatkan (waktu masih di MAN Sumenep dulu) dari seorang cerpenis. Avan
Fathurrahman namanya. Dulu ketika pelatihan menulis, beliau menjanjikan kepada
seluruh peserta, sebelum keluar dari ruangan seluruh peserta sudah dijamin bisa
menulis.
Ternyata benar, semua peserta dapat
menulis sebelum keluar dari ruangan, bahkan hampir tidak bisa berhenti untuk
terus menulis. Bagaimana metodenya? Pak Avan–demikian panggilan
akrabnya–memerintahkan seluruh peserta untuk menulis. Menulis apapun yang ada
dipikirannya. Bahkan ketika ada peserta yang berkata, “Saya bingung, Pak.” Pak
Avan segera menjawab, “Tulis saja, ‘Saya bingung’. Kalau masih bingung, tulis
lagi, ‘Saya masih bingung apa yang akan saya tulis’. Hingga jadilah tulisan
tersebut beberapa paragraf,” jelasnya.
Tentu saja dengan cepat para peserta
dapat menulis berparagraf-paragraf. Bahkan ketika waktunya sudah habis pun,
para peserta masih saja menulis dan bilang bahwa tulisannya belum selesai.
Berkali-kali Pak Avan memperpanjang waktunya namun peserta belum juga mau
berhenti menulis. Mereka terus menulis, menulis, dan menulis.
Itulah intinya dalam menulis sebagaimana
pelajaran menulis kesembilan yang disampaikan oleh Dr. Suyatno, M.Pd. Mulailah
menulis niscaya jadilah tulisan. Jangan menunggu hari esok sebab hari esok
belum tentu juga dapat menulis. Bisa jadi hari esok akan muncul penundaan lagi.
Dan menunggu adalah bagian dari kelalaian. Maka jual saja kelalaian itu dengan
memulai sekarang. Keep fighting!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar