| Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono, M.S. (kanan) bersama saya (kiri) di ruangan rektor, 19 Juni 2015. |
Dikenal sebagai sosok yang ramah dan
egaliter, Prof. Dr. Warsono, M.S. menjadi salah satu guru besar favorit di
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kalangan para mahasiswa. Pada Agustus
2014, pria kelahiran Boyolali tersebut dikukuhkan sebagai rektor Unesa masa
bakti 2014-2018 dan dilantik oleh Mendikbud Moh. Nuh. Majalah Nurul Falah berhasil mewawancarai Prof.
Warsono yang berbagi inspirasi.
******
Selain dikenal concern terhadap dunia pendidikan, Warsono memiliki kepedulian
terhadap pentingnya spiritualitas. Dia menegaskan bahwa agama adalah salah satu
sumber pendidikan karakter. ”Dalam agama kita diajari attitude yang baik,” ungkapnya.
Pandangan
Terhadap Pendidikan
Alumnus ilmu filsafat Universitas Gadjah
Mada (UGM) itu memiliki perhatian dan pandangan yang mendalam terkait
pendidikan. Menurut dia, pendidikan merupakan suatu yang hakiki dalam kehidupan
manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan mampu berkembang secara optimal
dalam menjalani kehidupan.
”Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang
lemah fisik. Kekuatan manusia terletak pada akal (kemampuan berpikir)-nya.
Namun, tanpa pendidikan, kemampuan berpikir tak akan berkembang optimal,”
terangnya. Proses pendidikan itu sendiri berlangsung di keluarga, di
masyarakat, dan di sekolah. Masing-masing tempat proses memiliki penekanan
tersendiri.
Pendidikan yang diperoleh dalam lingkungan
keluarga tidak seperti yang didapatkan dalam lingkungan sekolah atau di
masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, seorang individu lebih banyak belajar
tentang karakter. Seorang individu mendapat pelajaran dari orang tua mulai dari
hal-hal yang praktis hingga nilai-nilai yang dianut dan diyakini keluarga.
”Keluarga menjadi lembaga pendidikan yang
pertama dan utama bagi setiap anak, sebab di situlah anak-anak untuk pertama
kalinya memperoleh pengetahuan dan pendidikan terkait nilai-nilai,” jelasnya.
Sementara itu, pendidikan yang diperoleh
dalam masyarakat lebih menekankan pada nilai dan norma dalam berinteraksi di lingkungan
sosialnya. Seorang individu dituntut belajar dan mengikuti nilai dan norma yang
berlaku agar bisa diterima di masyarakatnya. ”Nilai dan norma tersebut terus
ditanamkan ke setiap generasi baru agar mereka memahami bagaimana harus
bersikap dan bertindak di lingkungan sosialnya,” jelas pria kelahiran 19 Mei
1960 itu.
Selanjutnya, seorang individu mendapat
pendidikan di sekolah. Dalam lembaga pendidikan sekolah, pendidikannya lebih
terstruktur dan terencana. Sebab, pendidikan di sekolah memang dirancang untuk
mencapai tujuan yang dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan.
”Dalam lembaga pendidikan di sekolah, yang
lebih banyak dikembangkan adalah kemampuan knowledge
dan skill seorang individu,”
terangnya. Secara umum, menurut Warsono, pendidikan memiliki arti penting bagi
tiga aspek, yaitu bagi anak itu sendiri, bagi keluarga atau masyarakat, serta
bagi bangsa dan negara.
Demikian pentingnya sebuah pendidikan dalam
kehidupan seorang manusia, Warsono berharap agar konsep pendidikan tidak hanya
untuk mengembangkan potensi peserta didik dan mempersiapkan tugasnya di masa
depan, tetapi juga harus ditujukan untuk kehidupan itu sendiri.
”Pendidikan harus diorientasikan pada
pembentukan manusia-manusia yang bisa mengemban tugas sebagai khalifatullah fil ardhi. Pendidikan
harus diorientasikan untuk memanusiakan manusia,” jelas dia sembari mengutip
pendapat Dick Hartoko.
Pendidikan
dan Ramadhan
Warsono menjelaskan, dalam melihat Ramadhan,
kita harus bisa memisahkan apakah kita akan melihat bulan Ramadhannya atau
melihat dari sisi perintahnya di bulan Ramadhan. Jika melihat dari sisi
bulannya, maka sebenarnya Ramadhan tidak memiliki hal yang istimewa, bagai
rutinitas semata yang selalu dijalani setiap tahun. ”Bulan itu tidak ada
esensinya,” tegasnya.
Akan tetapi, jika Ramadhan dilihat dari sisi
perintahnya (baca: puasa), maka Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri.
Dalam bulan Ramadhan seorang manusia diberi ruang untuk merenungkan kembali
kehidupan dirinya. ”Kita diberi cermin untuk mengetahui siapa dirinya,” tutur
guru besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya itu.
Di bulan Ramadhan, seorang manusia dapat
mengukur dirinya sendiri. Di bulan suci ini, seorang muslim diuji komitmen
pribadinya. ”Dalam berpuasa, sebenarnya seseorang berjanji kepada Allah dan
kepada dirinya sendiri,” katanya.
Seseorang, tambah dia, tidak akan ada yang
tahu apakah dia berpuasa atau tidak. Yang tahu hanya dirinya sendiri dan Allah
SWT. Oleh karena itu, Allah sendiri yang akan menilai orang yang berpuasa.
Selain itu, yang paling penting juga di
bulan Ramadhan adalah proses pembiasaan. Setiap muslim dibiasakan untuk selalu
bertingkah laku dan bertutur kata yang baik. Setiap muslim dibiasakan untuk
selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Menurut Warsono, pembiasaan ini merupakan
contoh model pembelajaran dari sebuah proses pendidikan yang diberikan oleh
Islam. Semestinya, waktu satu bulan sudah cukup untuk membangun sebuah
kebiasaan diri sehingga, kebiasaan berbuat baik akan terus dilakukan meskipun
bulan Ramadhan telah usai.
”Bagi orang yang memang sudah biasa
melakukan amal baik, kehadiran bulan Ramadhan tentu tidak jauh berbeda dengan
bulan-bulan biasa. Misalnya, sudah biasa melakukan salat malam dan salat-salat
sunah yang lain, tentu kedatangan bulan Ramadhan tidak akan jauh memberikan
perubahan. Berbeda dengan orang yang tidak terbiasa,” tuturnya.
Ramadhan juga mengajarkan banyak nilai
moral. Misalnya, kita turut merasakan kusulitan yang dialami orang-orang
berkekurangan dari sisi ekonomi. Karena itu, kata Warsono, Unesa akan
memberikan keringanan biaya bagi kalangan mahasiswa yang mengalami kesulitan di
bidang ekonomi. ”Unesa akan menerapkan beasiswa Bidik Misi. Bila perlu, kuota
penerimaan Bidik Misi ditambah,” ujar bapak dua anak itu.
Penulis: Syaiful Rahman
Editor : Eko Prasetyo
*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Juli 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar