Label

Sabtu, 08 Agustus 2015

Ramadhan, Cara Islam Mengajari dengan Pembiasaan

Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono, M.S. (kanan) bersama saya (kiri) di ruangan rektor, 19 Juni 2015.
Dikenal sebagai sosok yang ramah dan egaliter, Prof. Dr. Warsono, M.S. menjadi salah satu guru besar favorit di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kalangan para mahasiswa. Pada Agustus 2014, pria kelahiran Boyolali tersebut dikukuhkan sebagai rektor Unesa masa bakti 2014-2018 dan dilantik oleh Mendikbud Moh. Nuh. Majalah Nurul Falah berhasil mewawancarai Prof. Warsono yang berbagi inspirasi.

******

Selain dikenal concern terhadap dunia pendidikan, Warsono memiliki kepedulian terhadap pentingnya spiritualitas. Dia menegaskan bahwa agama adalah salah satu sumber pendidikan karakter. ”Dalam agama kita diajari attitude yang baik,” ungkapnya.

Pandangan Terhadap Pendidikan

Alumnus ilmu filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) itu memiliki perhatian dan pandangan yang mendalam terkait pendidikan. Menurut dia, pendidikan merupakan suatu yang hakiki dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan mampu berkembang secara optimal dalam menjalani kehidupan.

”Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang lemah fisik. Kekuatan manusia terletak pada akal (kemampuan berpikir)-nya. Namun, tanpa pendidikan, kemampuan berpikir tak akan berkembang optimal,” terangnya. Proses pendidikan itu sendiri berlangsung di keluarga, di masyarakat, dan di sekolah. Masing-masing tempat proses memiliki penekanan tersendiri.

Pendidikan yang diperoleh dalam lingkungan keluarga tidak seperti yang didapatkan dalam lingkungan sekolah atau di masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, seorang individu lebih banyak belajar tentang karakter. Seorang individu mendapat pelajaran dari orang tua mulai dari hal-hal yang praktis hingga nilai-nilai yang dianut dan diyakini keluarga.

”Keluarga menjadi lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi setiap anak, sebab di situlah anak-anak untuk pertama kalinya memperoleh pengetahuan dan pendidikan terkait nilai-nilai,” jelasnya.

Sementara itu, pendidikan yang diperoleh dalam masyarakat lebih menekankan pada nilai dan norma dalam berinteraksi di lingkungan sosialnya. Seorang individu dituntut belajar dan mengikuti nilai dan norma yang berlaku agar bisa diterima di masyarakatnya. ”Nilai dan norma tersebut terus ditanamkan ke setiap generasi baru agar mereka memahami bagaimana harus bersikap dan bertindak di lingkungan sosialnya,” jelas pria kelahiran 19 Mei 1960 itu.

Selanjutnya, seorang individu mendapat pendidikan di sekolah. Dalam lembaga pendidikan sekolah, pendidikannya lebih terstruktur dan terencana. Sebab, pendidikan di sekolah memang dirancang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan.

”Dalam lembaga pendidikan di sekolah, yang lebih banyak dikembangkan adalah kemampuan knowledge dan skill seorang individu,” terangnya. Secara umum, menurut Warsono, pendidikan memiliki arti penting bagi tiga aspek, yaitu bagi anak itu sendiri, bagi keluarga atau masyarakat, serta bagi bangsa dan negara.

Demikian pentingnya sebuah pendidikan dalam kehidupan seorang manusia, Warsono berharap agar konsep pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan potensi peserta didik dan mempersiapkan tugasnya di masa depan, tetapi juga harus ditujukan untuk kehidupan itu sendiri.

”Pendidikan harus diorientasikan pada pembentukan manusia-manusia yang bisa mengemban tugas sebagai khalifatullah fil ardhi. Pendidikan harus diorientasikan untuk memanusiakan manusia,” jelas dia sembari mengutip pendapat Dick Hartoko.

Pendidikan dan Ramadhan

Warsono menjelaskan, dalam melihat Ramadhan, kita harus bisa memisahkan apakah kita akan melihat bulan Ramadhannya atau melihat dari sisi perintahnya di bulan Ramadhan. Jika melihat dari sisi bulannya, maka sebenarnya Ramadhan tidak memiliki hal yang istimewa, bagai rutinitas semata yang selalu dijalani setiap tahun. ”Bulan itu tidak ada esensinya,” tegasnya.

Akan tetapi, jika Ramadhan dilihat dari sisi perintahnya (baca: puasa), maka Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam bulan Ramadhan seorang manusia diberi ruang untuk merenungkan kembali kehidupan dirinya. ”Kita diberi cermin untuk mengetahui siapa dirinya,” tutur guru besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya itu.

Di bulan Ramadhan, seorang manusia dapat mengukur dirinya sendiri. Di bulan suci ini, seorang muslim diuji komitmen pribadinya. ”Dalam berpuasa, sebenarnya seseorang berjanji kepada Allah dan kepada dirinya sendiri,” katanya.

Seseorang, tambah dia, tidak akan ada yang tahu apakah dia berpuasa atau tidak. Yang tahu hanya dirinya sendiri dan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah sendiri yang akan menilai orang yang berpuasa.

Selain itu, yang paling penting juga di bulan Ramadhan adalah proses pembiasaan. Setiap muslim dibiasakan untuk selalu bertingkah laku dan bertutur kata yang baik. Setiap muslim dibiasakan untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Menurut Warsono, pembiasaan ini merupakan contoh model pembelajaran dari sebuah proses pendidikan yang diberikan oleh Islam. Semestinya, waktu satu bulan sudah cukup untuk membangun sebuah kebiasaan diri sehingga, kebiasaan berbuat baik akan terus dilakukan meskipun bulan Ramadhan telah usai.

”Bagi orang yang memang sudah biasa melakukan amal baik, kehadiran bulan Ramadhan tentu tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan biasa. Misalnya, sudah biasa melakukan salat malam dan salat-salat sunah yang lain, tentu kedatangan bulan Ramadhan tidak akan jauh memberikan perubahan. Berbeda dengan orang yang tidak terbiasa,” tuturnya.


Ramadhan juga mengajarkan banyak nilai moral. Misalnya, kita turut merasakan kusulitan yang dialami orang-orang berkekurangan dari sisi ekonomi. Karena itu, kata Warsono, Unesa akan memberikan keringanan biaya bagi kalangan mahasiswa yang mengalami kesulitan di bidang ekonomi. ”Unesa akan menerapkan beasiswa Bidik Misi. Bila perlu, kuota penerimaan Bidik Misi ditambah,” ujar bapak dua anak itu. 


Penulis: Syaiful Rahman
Editor  : Eko Prasetyo


*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar