Label

Senin, 03 Agustus 2015

Bagaimana Saya ke Sana?

Rasa manja adalah hantu yang membuat seseorang tidak bisa tumbuh dengan baik. Kebiasaan instan dan ingin segalanya sesuai keinginan tanpa melalui proses sebenarnya hanyalah ada dalam mimpi. Padahal mimpi tidak akan menjadi kenyataan. Ia hanyalah intuisi yang muncul saat tidur. Bagitulah yang selalu menggerogoti saya selama ini.

Saya memang tidak berasal dari keluarga kaya tapi jiwa manja terkadang juga ada. Saya sangat menyadari betapa buruknya sifat itu terutama saat saya merasa lemah hanya karena hal-hal sepele. Misalnya, saya tidak mau diminta untuk wawancara ke suatu tempat dengan alasan tidak memiliki kendaraan.

Apabila jiwa instan dikedepankan maka alasan tersebut sangat mudah untuk diterima. Beda halnya jika mengedepankan sebuah proses. Alasan-alasan semacam itu sebenarnya hanyalah alat untuk menutupi kemalasan belaka. Bukankah sekarang kendaraan sudah berhamburan di sana-sini?

Sebenarnya, sekarang hanya tinggal bagaimana seseorang itu memutuskan. Apakah ia mau membiarkan rasa malas itu hidup berkepanjangan di dalam dirinya atau ia ingin segera membuang kemalasan tersebut.

Terkadang, kalau saya ingat bagaimana seekor anak ayam yang baru beberapa detik keluar dari cangkang telurnya kemudian bisa berlari mencari makan sendiri, maka saya benar-benar merasa malu. Saya adalah manusia yang dianugerahi berjuta-juta kelebihan oleh Allah. Saya diberi akal, pikiran, fisik, dan masih banyak kelebihan lainnya. Namun, rasanya saya belum bisa memanfaatkan segala anugerah tersebut dengan baik sebagai tanda syukur.

Biasanya, kalau saya diminta bertugas ke daerah yang jauh, saya selalu terhambat oleh transportasi. Di Surabaya saya tidak memiliki alat tersebut dan saya juga tidak suka meminjam. Entah kenapa, sebisa mungkin saya berupaya untuk tidak meminjam pada orang lain. Kendati ini sebenarnya menunjukkan jiwa individualisme saya namun saya tetap mempertahankannya. Bagi saya, apabila saya meminjam maka berarti saya akan memiliki tambahan tanggung jawab. Padahal kalau misalnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap barang pinjaman tersebut, saya tidak memiliki uang untuk menggantinya.

Bagaimanapun saya masih lebih senang meminjamkan dan memberi pada orang lain, daripada sebaliknya. Ini berusaha saya tanamkan dalam diri saya karena saya ingat apa yang disabdakan nabi. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Saya sangat berharap bisa selalu menjadi tangan di atas tersebut.

Kembali lagi pada pengalaman saya, alasan tidak memiliki kendaraan itu tidak hanya berakibat pada hal-hal kecil, bahkan juga membuat saya merasa tidak bebas. Saya juga pernah ditawari bekerja di sebuah majalah namun saya menolak karena alasan tersebut. Padahal semestinya dengan bekerja di sebuah majalah maka saya akan lebih mudah lagi untuk berproses. Banyak rencana-rencana menarik ke depan yang dapat saya jalani dengan lebih mudah.

Saya tidak dapat membantah ketika seorang aktivis organisasi berkata kepada saya, “Apakah kamu mau hidup bersama atau hidup sendiri?” Pertanyaan itu membuat saya harus berpikir lama. Secara sederhana, pertanyaan tersebut menyiratkan bahwa banyak teman-teman saya yang memiliki kendaraan yang bisa diajak kerja sama. Saya bisa mengajak mereka untuk wawancara dalam rangka menjalankan tugas atau hanya meminjam kendaraanya. Ketika teman saya bertanya seperti itu, saya tidak bisa menjawab apa-apa. Saya hanya bisa diam karena malu.

“Di dunia ini kita tidak bisa hidup sendiri. Kita harus hidup bersama dan saling tolong-menolong,” demikian dia menambahkan. Saya pun hanya bisa mengangguk membenarkan ucapannya. Bukannya saya tidak mau ditolong tapi saya merasa malu untuk meminta tolong. Dalam diri saya tertanam pikiran untuk tidak merepotkan siapa-siapa. Sebisa mungkin saya akan melakukan sendiri apa yang saya ingin lakukan.

Walaupun dua pemikiran itu sudah muncul dalam benak saya, tapi hingga sekarang saya masih belum bisa menghilangkan kemanjaan itu sepenuhnya. Sesekali masih ada alasan untuk menutupi kemalasan tersebut. Lebih tepatnya, saya tidak ingin tergantung kepada orang lain. Saya ingin hidup mandiri.

Hingga kini, saya masih berjuang untuk melengkapi kebutuhan saya sendiri dan juga mengubah hidup manja menjadi hidup yang mau berjuang dengan gigih. Saya masih ingat bagaimana saya tidak menerima (meskipun secara tidak langsung) untuk membuat sebuah majalah di panti asuhan. Di mana seorang professor yang juga ketua panti asuhan meminta kepada saya untuk membuat majalah panti di sana.

Lagi-lagi dengan alasan kendaraan saya tidak melaksanakannya. Padahal seandainya saya menerima tentu akan ada banyak kenikmatan yang akan saya dapatkan. Setidaknya saya akan merasa senang karena telah membantu mencerdaskan anak-anak bangsa yang memang membutuhkan uluran tangan. Saya juga bisa mengajari adik-adik saya untuk bisa menyiapkan masa depan yang lebih bermanfaat. Saya bisa membangun semangat mereka untuk berjuang meskipun tanpa orang tua. Semoga kelak saya bisa menjadi lebih baik! Amin.


Surabaya, 19 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar