Rasa manja adalah hantu
yang membuat seseorang tidak bisa tumbuh dengan baik. Kebiasaan instan dan
ingin segalanya sesuai keinginan tanpa melalui proses sebenarnya hanyalah ada
dalam mimpi. Padahal mimpi tidak akan menjadi kenyataan. Ia hanyalah intuisi
yang muncul saat tidur. Bagitulah yang selalu menggerogoti saya selama ini.
Saya memang tidak
berasal dari keluarga kaya tapi jiwa manja terkadang juga ada. Saya sangat
menyadari betapa buruknya sifat itu terutama saat saya merasa lemah hanya
karena hal-hal sepele. Misalnya, saya tidak mau diminta untuk wawancara ke
suatu tempat dengan alasan tidak memiliki kendaraan.
Apabila jiwa instan
dikedepankan maka alasan tersebut sangat mudah untuk diterima. Beda halnya jika
mengedepankan sebuah proses. Alasan-alasan semacam itu sebenarnya hanyalah alat
untuk menutupi kemalasan belaka. Bukankah sekarang kendaraan sudah berhamburan
di sana-sini?
Sebenarnya, sekarang
hanya tinggal bagaimana seseorang itu memutuskan. Apakah ia mau membiarkan rasa
malas itu hidup berkepanjangan di dalam dirinya atau ia ingin segera membuang
kemalasan tersebut.
Terkadang, kalau saya
ingat bagaimana seekor anak ayam yang baru beberapa detik keluar dari cangkang
telurnya kemudian bisa berlari mencari makan sendiri, maka saya benar-benar
merasa malu. Saya adalah manusia yang dianugerahi berjuta-juta kelebihan oleh
Allah. Saya diberi akal, pikiran, fisik, dan masih banyak kelebihan lainnya.
Namun, rasanya saya belum bisa memanfaatkan segala anugerah tersebut dengan
baik sebagai tanda syukur.
Biasanya, kalau saya
diminta bertugas ke daerah yang jauh, saya selalu terhambat oleh transportasi.
Di Surabaya saya tidak memiliki alat tersebut dan saya juga tidak suka
meminjam. Entah kenapa, sebisa mungkin saya berupaya untuk tidak meminjam pada
orang lain. Kendati ini sebenarnya menunjukkan jiwa individualisme saya namun
saya tetap mempertahankannya. Bagi saya, apabila saya meminjam maka berarti
saya akan memiliki tambahan tanggung jawab. Padahal kalau misalnya terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan terhadap barang pinjaman tersebut, saya tidak
memiliki uang untuk menggantinya.
Bagaimanapun saya masih
lebih senang meminjamkan dan memberi pada orang lain, daripada sebaliknya. Ini
berusaha saya tanamkan dalam diri saya karena saya ingat apa yang disabdakan
nabi. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Saya sangat
berharap bisa selalu menjadi tangan di atas tersebut.
Kembali lagi pada
pengalaman saya, alasan tidak memiliki kendaraan itu tidak hanya berakibat pada
hal-hal kecil, bahkan juga membuat saya merasa tidak bebas. Saya juga pernah
ditawari bekerja di sebuah majalah namun saya menolak karena alasan tersebut.
Padahal semestinya dengan bekerja di sebuah majalah maka saya akan lebih mudah
lagi untuk berproses. Banyak rencana-rencana menarik ke depan yang dapat saya
jalani dengan lebih mudah.
Saya tidak dapat
membantah ketika seorang aktivis organisasi berkata kepada saya, “Apakah kamu
mau hidup bersama atau hidup sendiri?” Pertanyaan itu membuat saya harus
berpikir lama. Secara sederhana, pertanyaan tersebut menyiratkan bahwa banyak
teman-teman saya yang memiliki kendaraan yang bisa diajak kerja sama. Saya bisa
mengajak mereka untuk wawancara dalam rangka menjalankan tugas atau hanya
meminjam kendaraanya. Ketika teman saya bertanya seperti itu, saya tidak bisa
menjawab apa-apa. Saya hanya bisa diam karena malu.
“Di dunia ini kita
tidak bisa hidup sendiri. Kita harus hidup bersama dan saling tolong-menolong,”
demikian dia menambahkan. Saya pun hanya bisa mengangguk membenarkan ucapannya.
Bukannya saya tidak mau ditolong tapi saya merasa malu untuk meminta tolong.
Dalam diri saya tertanam pikiran untuk tidak merepotkan siapa-siapa. Sebisa
mungkin saya akan melakukan sendiri apa yang saya ingin lakukan.
Walaupun dua pemikiran
itu sudah muncul dalam benak saya, tapi hingga sekarang saya masih belum bisa
menghilangkan kemanjaan itu sepenuhnya. Sesekali masih ada alasan untuk menutupi
kemalasan tersebut. Lebih tepatnya, saya tidak ingin tergantung kepada orang
lain. Saya ingin hidup mandiri.
Hingga kini, saya masih
berjuang untuk melengkapi kebutuhan saya sendiri dan juga mengubah hidup manja
menjadi hidup yang mau berjuang dengan gigih. Saya masih ingat bagaimana saya
tidak menerima (meskipun secara tidak langsung) untuk membuat sebuah majalah di
panti asuhan. Di mana seorang professor yang juga ketua panti asuhan meminta
kepada saya untuk membuat majalah panti di sana.
Lagi-lagi dengan alasan
kendaraan saya tidak melaksanakannya. Padahal seandainya saya menerima tentu
akan ada banyak kenikmatan yang akan saya dapatkan. Setidaknya saya akan merasa
senang karena telah membantu mencerdaskan anak-anak bangsa yang memang
membutuhkan uluran tangan. Saya juga bisa mengajari adik-adik saya untuk bisa
menyiapkan masa depan yang lebih bermanfaat. Saya bisa membangun semangat
mereka untuk berjuang meskipun tanpa orang tua. Semoga kelak saya bisa menjadi
lebih baik! Amin.
Surabaya, 19
Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar