Sore tadi seorang
kandidat ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) Jurusan Pendidikan Ekonomi bersama
seorang pendukungnya datang ke saya. Dia ingin mendiskusikan mengenai visi dan
misi yang akan diusung dalam kepemimpinannya ke depan. Meskipun saya mahasiswa
dari jurusan Pendidikan Ekonomi, namun saya tetap berupaya tidak terlalu masuk
ke dalam ranah perpolitikan tersebut. Saya mengerti bahwa ranah politik adalah
ranah sensitif yang mudah menimbulkan perpecahan. Pengalaman sebelumnya telah
terjadi pada teman sekelas saya. Mereka terpecah hanya karena perbedaan
pandangan dalam politik.
Saat dia meminta
pertimbangan atau lebih tepatnya bertanya apa visi dan misi yang harus diusung,
maka dengan tegas saya katakan: “Berpikirlah sederhana, kamu maju untuk menjadi
calon karena apa? Bagaimana kamu melihat kondisi mahasiswa di jurusan kita dan
apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi ketua Hima?”
Beberapa penjelasan dia
paparkan dengan tegas. Di antaranya, lemahnya mahasiswa dalam membaca, menulis,
dan berdiskusi. Aktivitas di selingkup jurusan Pendidikan Ekonomi lebih disibukkan
dengan kegiatan politik. Politik selalu menjadi perbincangan yang hangat namun
saat diajak untuk berdiskusi dengan landasan yang logis berdasarkan keilmuan,
mayoritas mundur. Atau kalau tidak yang muncul hanyalah asumsi-asumsi yang
faktanya tidak valid. Kalimat kata bapak ini atau bapak itu, atau dosen ini dan
dosen itu, atau di desa saya biasanya, menjadi argumen yang sudah biasa muncul
dari mereka.
Jika saya perhatikan,
hal itu disebabkan oleh lemahnya budaya membaca yang ada di jurusan saya.
Kondisi demikian memang perlu mendapat perhatian lebih dari seluruh komponen
yang sadar akan pentingnya membaca, menulis, dan berdiskusi. Itulah yang
mendorong saya pada periode 2013-2014 kemarin untuk masuk menjadi salah satu
fungsionaris Hima. Saya membuat sebuah buletin bernama MICRO untuk menjadi wadah dan media bagi teman-teman. Namun, sayang
sekali karena buletin tersebut tidak mendapat respon baik dari pembacanya.
Dari situlah kemudian
saya mencoba merefleksi diri manakah yang harus didahulukan antara membaca,
berdiskusi, dan menulis. Saya mencoba memikirkan yang manakah yang perlu
menjadi pendorong awal untuk meningkatkan tiga budaya tersebut atau dalam
istilah saat ini budaya literasi?
Akhirnya, saya ingat
bagaimana budaya diskusi yang berkembang cukup baik di kampus-kampus di Jogja.
Beberapa kali saya pergi ke sana untuk menikmati suasana pendidikan yang ada di
sana.
Bahkan, pada saat wisuda kakak saya kemarin, saya sempat ikut kelompok
diskusi di UIN Sunan Kalijaga. Satu hal yang dapat saya belajari terkait dengan
diskusi itu: kemauan untuk tahu. Dalam kelompok diskusi yang saya ikuti
tersebut, ternyata semua pesertanya adalah orang Madura. Mereka tidak memiliki
kemampuan yang tinggi, namun mereka tak kalah akal. Meskipun mereka sama-sama
tidak tahu, mereka mendatangkan salah satu senior yang lebih tahu untuk nanti
meluruskan diskusi.
Saat senior tersebut
menyampaikan sejumlah informasi yang mendukung terhadap diskusi akhirnya,
muncullah keinginan yang berlipat ganda dari para peserta untuk bertanya dan mencari
jawabannya. Ya, dari pertanyaan dan keinginan mencari jawaban inilah yang
kemudian mendorong para peserta untuk membaca lebih banyak lagi. Bahkan mereka
berlomba-lomba untuk membaca banyak buku. Kalau dilihat kosnya tidak ada buku
sama sekali maka sudah alamat mahasiswa tersebut akan menjadi bahan ejekan
teman-temannya.
Namun, apakah kondisi
mahasiswa di Jogja tersebut dapat langsung saya adopsi dan dipindah ke Surabaya
dengan mentah-mentah? Ternyata tidak mudah. Jurusan Pendidikan Ekonomi memiliki
sebuah komunitas diskusi yang bernama Economic
Research and Discussion Association (ERDA). Dalam komunitas tersebut
mahasiswa berkumpul setiap Jumat sore untuk mengadakan diskusi terkait isu-isu
perekonomian nasional terkini. Bagi saya ini adalah kabar bahagia meskipun
pesertanya sangat sedikit. Biasanya tidak sampai sepuluh.
Walaupun sudah
diinstruksikan kepada semua teman-teman untuk mencari informasi sebelum
mengikuti diskusi sesuai dengan topik yang telah ditetapkan, tapi ternyata itu
tidak mampu menggugah teman-teman. Alhasil, setiap kali diskusi digelar,
argumen selalu diajukan dengan asumsi-asumsi kosong yang tak berlandaskan data
valid dan seringkali kurang logis. Sehingga mereka merasa heran, gagap bak
ketemu malaikat saat ditunjukkan data-data atau fakta-fakta yang valid. Bahkan
suatu ketika ada seorang teman BBM ke saya di malam harinya: “Wah, bagaimana
sih Kakak bisa tahu tentang informasi-informasi yang tadi Kakak utarakan?”
Begitu polosnya
pertanyaan tersebut, padahal apa yang didiskusikan sebenarnya sudah banyak
dibahas di media massa. Sudah banyak buku-buku yang membahas. Misalnya, saat
itu membahas terkait Inflation Targetting
Framework (ITF), di mana kalau diperhatikan, inflasi sudah dijelaskan di
mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro
saat semester I. Serta kabar Pemerintah Joko Widodo bersama Bank Indonesia
berupaya menekan inflasi sampai 4 persen sudah gencar dikabarkan media. Ini,
menurut saya, karena minimnya budaya membaca.
Saya juga pernah
membayangkan agar suatu saat organisasi mahasiswa tidak hanya menggelar ekspo
kewirausahaan yang di setiap stannya hanya menjual makanan atau pakaian. Tapi,
ada saatnya juga bekerja sama dengan penerbit-penerbit dalam rangka menggelar book fair di jurusan. Harapannya, dengan
mendekatkan buku ke mahasiswa dengan harga murah dan banyak pilihan maka
sedikit demi sedikit akan mendorong mahasiswa untuk gemar membaca.
Setelah agak lama saya
merenung, saya memutuskan kepada kandidat ketua Hima yang datang kepada saya
tersebut untuk mendahulukan budaya membaca. Hima harus mendukung dan berupaya
agar mahasiswa mau membaca, apapun itu. Setelah mahasiswa sudah mau membaca
maka siapkan wadah untuk berdiskusi agar saat adu argumen mereka saling
melengkapi. Tentunya dengan harapan nanti akan mendorong mahasiswa untuk
membaca, membaca, dan terus membaca.
Sementara untuk
membudayakan menulis, saya menyampaikan kepada kandidat ketua Hima tersebut
untuk membangun kembali buletin. Saya juga mengusulkan agar yang menjadi
pemateri dalam diskusi ERDA harus
bergantian tanpa memandang angkatan atau prodi. Setiap pemateri wajib menulis
artikel yang dibagikan kepada seluruh peserta. Dari artikel tersebut, saya
mengusulkan nanti akan dikumpulkan dan dibukukan. Harapannya, bermula dari
situlah akan muncul dan benar-benar berkembang budaya literasi. Semoga sesuai
harapan!
Surabaya, 28
Maret 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar