Label

Rabu, 05 Agustus 2015

Manakah Yang Harus Didahulukan: Membaca, Bediskusi, atau Menulis?

Sore tadi seorang kandidat ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) Jurusan Pendidikan Ekonomi bersama seorang pendukungnya datang ke saya. Dia ingin mendiskusikan mengenai visi dan misi yang akan diusung dalam kepemimpinannya ke depan. Meskipun saya mahasiswa dari jurusan Pendidikan Ekonomi, namun saya tetap berupaya tidak terlalu masuk ke dalam ranah perpolitikan tersebut. Saya mengerti bahwa ranah politik adalah ranah sensitif yang mudah menimbulkan perpecahan. Pengalaman sebelumnya telah terjadi pada teman sekelas saya. Mereka terpecah hanya karena perbedaan pandangan dalam politik.

Saat dia meminta pertimbangan atau lebih tepatnya bertanya apa visi dan misi yang harus diusung, maka dengan tegas saya katakan: “Berpikirlah sederhana, kamu maju untuk menjadi calon karena apa? Bagaimana kamu melihat kondisi mahasiswa di jurusan kita dan apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi ketua Hima?”

Beberapa penjelasan dia paparkan dengan tegas. Di antaranya, lemahnya mahasiswa dalam membaca, menulis, dan berdiskusi. Aktivitas di selingkup jurusan Pendidikan Ekonomi lebih disibukkan dengan kegiatan politik. Politik selalu menjadi perbincangan yang hangat namun saat diajak untuk berdiskusi dengan landasan yang logis berdasarkan keilmuan, mayoritas mundur. Atau kalau tidak yang muncul hanyalah asumsi-asumsi yang faktanya tidak valid. Kalimat kata bapak ini atau bapak itu, atau dosen ini dan dosen itu, atau di desa saya biasanya, menjadi argumen yang sudah biasa muncul dari mereka.
Jika saya perhatikan, hal itu disebabkan oleh lemahnya budaya membaca yang ada di jurusan saya. 

Kondisi demikian memang perlu mendapat perhatian lebih dari seluruh komponen yang sadar akan pentingnya membaca, menulis, dan berdiskusi. Itulah yang mendorong saya pada periode 2013-2014 kemarin untuk masuk menjadi salah satu fungsionaris Hima. Saya membuat sebuah buletin bernama MICRO untuk menjadi wadah dan media bagi teman-teman. Namun, sayang sekali karena buletin tersebut tidak mendapat respon baik dari pembacanya.

Dari situlah kemudian saya mencoba merefleksi diri manakah yang harus didahulukan antara membaca, berdiskusi, dan menulis. Saya mencoba memikirkan yang manakah yang perlu menjadi pendorong awal untuk meningkatkan tiga budaya tersebut atau dalam istilah saat ini budaya literasi?
Akhirnya, saya ingat bagaimana budaya diskusi yang berkembang cukup baik di kampus-kampus di Jogja. Beberapa kali saya pergi ke sana untuk menikmati suasana pendidikan yang ada di sana. 

Bahkan, pada saat wisuda kakak saya kemarin, saya sempat ikut kelompok diskusi di UIN Sunan Kalijaga. Satu hal yang dapat saya belajari terkait dengan diskusi itu: kemauan untuk tahu. Dalam kelompok diskusi yang saya ikuti tersebut, ternyata semua pesertanya adalah orang Madura. Mereka tidak memiliki kemampuan yang tinggi, namun mereka tak kalah akal. Meskipun mereka sama-sama tidak tahu, mereka mendatangkan salah satu senior yang lebih tahu untuk nanti meluruskan diskusi.

Saat senior tersebut menyampaikan sejumlah informasi yang mendukung terhadap diskusi akhirnya, muncullah keinginan yang berlipat ganda dari para peserta untuk bertanya dan mencari jawabannya. Ya, dari pertanyaan dan keinginan mencari jawaban inilah yang kemudian mendorong para peserta untuk membaca lebih banyak lagi. Bahkan mereka berlomba-lomba untuk membaca banyak buku. Kalau dilihat kosnya tidak ada buku sama sekali maka sudah alamat mahasiswa tersebut akan menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Namun, apakah kondisi mahasiswa di Jogja tersebut dapat langsung saya adopsi dan dipindah ke Surabaya dengan mentah-mentah? Ternyata tidak mudah. Jurusan Pendidikan Ekonomi memiliki sebuah komunitas diskusi yang bernama Economic Research and Discussion Association (ERDA). Dalam komunitas tersebut mahasiswa berkumpul setiap Jumat sore untuk mengadakan diskusi terkait isu-isu perekonomian nasional terkini. Bagi saya ini adalah kabar bahagia meskipun pesertanya sangat sedikit. Biasanya tidak sampai sepuluh.

Walaupun sudah diinstruksikan kepada semua teman-teman untuk mencari informasi sebelum mengikuti diskusi sesuai dengan topik yang telah ditetapkan, tapi ternyata itu tidak mampu menggugah teman-teman. Alhasil, setiap kali diskusi digelar, argumen selalu diajukan dengan asumsi-asumsi kosong yang tak berlandaskan data valid dan seringkali kurang logis. Sehingga mereka merasa heran, gagap bak ketemu malaikat saat ditunjukkan data-data atau fakta-fakta yang valid. Bahkan suatu ketika ada seorang teman BBM ke saya di malam harinya: “Wah, bagaimana sih Kakak bisa tahu tentang informasi-informasi yang tadi Kakak utarakan?”

Begitu polosnya pertanyaan tersebut, padahal apa yang didiskusikan sebenarnya sudah banyak dibahas di media massa. Sudah banyak buku-buku yang membahas. Misalnya, saat itu membahas terkait Inflation Targetting Framework (ITF), di mana kalau diperhatikan, inflasi sudah dijelaskan di mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro saat semester I. Serta kabar Pemerintah Joko Widodo bersama Bank Indonesia berupaya menekan inflasi sampai 4 persen sudah gencar dikabarkan media. Ini, menurut saya, karena minimnya budaya membaca.

Saya juga pernah membayangkan agar suatu saat organisasi mahasiswa tidak hanya menggelar ekspo kewirausahaan yang di setiap stannya hanya menjual makanan atau pakaian. Tapi, ada saatnya juga bekerja sama dengan penerbit-penerbit dalam rangka menggelar book fair di jurusan. Harapannya, dengan mendekatkan buku ke mahasiswa dengan harga murah dan banyak pilihan maka sedikit demi sedikit akan mendorong mahasiswa untuk gemar membaca.

Setelah agak lama saya merenung, saya memutuskan kepada kandidat ketua Hima yang datang kepada saya tersebut untuk mendahulukan budaya membaca. Hima harus mendukung dan berupaya agar mahasiswa mau membaca, apapun itu. Setelah mahasiswa sudah mau membaca maka siapkan wadah untuk berdiskusi agar saat adu argumen mereka saling melengkapi. Tentunya dengan harapan nanti akan mendorong mahasiswa untuk membaca, membaca, dan terus membaca.

Sementara untuk membudayakan menulis, saya menyampaikan kepada kandidat ketua Hima tersebut untuk membangun kembali buletin. Saya juga mengusulkan agar yang menjadi pemateri dalam diskusi ERDA harus bergantian tanpa memandang angkatan atau prodi. Setiap pemateri wajib menulis artikel yang dibagikan kepada seluruh peserta. Dari artikel tersebut, saya mengusulkan nanti akan dikumpulkan dan dibukukan. Harapannya, bermula dari situlah akan muncul dan benar-benar berkembang budaya literasi. Semoga sesuai harapan!


Surabaya, 28 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar