Pelaksanaan wisuda
ke-82 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengalami pengunduran dari jadwal
sebelumnya. Mulanya dijadwalkan pada 7 Maret 2015 namun karena beberapa hal,
pelaksanaan wisuda tersebut diundur hingga Minggu, 29 Maret 2015. Pengunduran
jadwal pelaksanaan tersebut sebenarnya tidak mengurangi kehikmatan acara
wisuda. Sama sekali. Namun, ada hal unik yang cukup mengelitik dalam pikiran
saya saat mengikuti pelaksanaan wisuda tersebut. Saya menyebutnya: refleksi
puisi Sitor Sitomorang.
Acara seremonial wisuda
dilaksanakan di gedung DBL jalan A. Yani 88 Surabaya. Tepatnya, di lantai dua.
Sementara di lantai satu ditempati stand Humas, bagian konsumsi, dan keluarga
wisudawan yang tidak berhak masuk ke ruang wisuda (sebab undangan hanya khusus
untuk dua orang tua mahasiswa). Untuk keluarga mahasiswa yang tidak boleh masuk
tersebut, disediakan dua buah TV dengan ukuran yang cukup besar dan sejumlah
kursi tentunya. Mereka bisa melihat aktivitas wisuda melalui kedua TV tersebut.
Sekitar seratus orang
yang mendapatkan kursi dapat menikmati tayangan TV dengan seksama. Mereka dapat
melihat bagaimana prosesi wisuda melalui layar TV yang disediakan. Sedangkan
anak-anak kecil yang sengaja dibiarkan bermain, berlarian di tengah-tengah
halaman lantai satu tersebut dengan cukup leluasa. Sebagian keluarga mahasiswa
yang tidak mendapat kursi dan juga tidak bisa melihat tayangan TV tersebut
duduk di lesehan. Aktivitas mereka yang duduk di lesehan inilah yang kemudian
mengelitik pikiran saya.
Yang duduk di lesehan
tak lagi pandang buluh. Meskipun pakaian mereka (mungkin) sudah disiapkan
sebaik-baiknya, namun karena kondisi yang memaksa, ada yang duduk melingkar,
ada pula yang tidur tanpa alas di lantai. Kalau-kalau ada perempuan yang mau
berdiri karena (mungkin) gengsi untuk duduk di lantai sebab pakaiannya yang
masih bagus.
Sebagian di antara
mereka masih pemuda dan anak-anak, tapi sebagian lagi sudah paruh baya. Untuk
yang anak-anak, mereka dapat bermain sambil jumpalitan. Bagi pemuda-pemuda,
seperti biasa, mereka dapat membentuk lingkaran dan bercengkrama ke
sana-kemari. Mereka seolah-olah tak peduli terhadap kondisinya yang memaksanya
duduk di lesehan. Barangkali, sebagaimana pada umumnya, mereka sudah terbiasa cangkrukan di warung kopi sehingga
hal-hal seperti itu dapat dianggap biasa.
Akan tetapi, kondisinya
sangat berbeda ketika yang saya lihat adalah ibu-ibu yang sudah memakai
kosmetik lengkap. Harapannya, mereka bisa melihat keponakan, cucu, atau entah
apanya yang sedang diwisuda. Dari desa mereka sudah menyiapkan diri dengan
penampilan yang dianggap sudah maksimal demi mendampingi wisudawannya. Namun,
apa boleh buat, mereka harus duduk di lesehan tanpa alas karena tidak
mendapatkan kursi. Bahkan mereka pun tidak bisa melihat tayangan di TV seperti
yang lain.
Di antara mereka ada
yang sambil memangku anak kecil. Mereka duduk bersandar ke dinding dengan
penampilan wajah yang tampaknya sedang melayang. Beberapa orang bahkan memilih
untuk merebahkan tubuhnya (tidur) di samping pintu. Tentu saja mereka juga
tanpa alas sama sekali. Tubuh mereka dapat merasakan dinginnya lantai dan
belaian angin.
Memang kondisi seperti
ini tidak hanya terjadi di Unesa. Di perguruan-perguruan tinggi lain pun
mengalami hal yang sama. Saya ingat betul saat mendampingi kakak saya yang
hendak diwisuda. Yang bisa masuk ke ruangan hanya Ibu saya dan paman saya
(sebagai pengganti Allahummaghfirlahu Bapak saya). Sementara saya dan kakak
sepupu bersama tunangannya harus duduk di lesehan, di emperan depan pos satpam.
Kali itu, saya juga
tidak dapat melihat tayangan wisuda di TV karena saya tidak tahu kalau di
samping timur gedung tempat pelaksanaan wisuda tersebut disediakan satu TV. Ya,
hanya satu TV. Kalau di Unesa masih dua TV. Namun, duduk menunggu acara wisuda
tersebut tentunya memberikan kesan tersendiri. Aktivitas menunggu saja sudah
merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan apalagi kondisi tempat menunggu
yang sangat tidak nyaman, tentu sangat membosankan.
Dari situlah kemudian
saya ingat puisi pendek karya Sitor Sitomorang. Begini puisinya:
Malam
Lebaran
Bulan
di atas kuburan
Ya, puisi ini sangat
mudah dihafal sebab hanya terdiri dari satu judul dan satu isi. Namun, puisi
tersebut membawa pembaca untuk memikirkan maknanya. Dulu, seorang guru saya
mengatakan bahwa ada banyak kemungkinan dalam memberikan makna terhadap puisi
tersebut. Salah satunya adalah ada kemungkinan puisi tersebut ingin
mengisaratkan bahwa di satu sisi ada kebahagiaan namun di sisi lain ada
kesedihan yang digambarkan dengan kuburan.
Saya sepakat untuk
mengambil terjemahan demikian saja untuk menggambarkan kondisi yang saya lihat
saat itu. Acara seremonial wisuda di lantai dua memang sangat menyenangkan
karena itu merupakan waktu yang dinanti-nati oleh para wisudawan. Mereka sudah
lama berjuang untuk bisa menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah. Setelah
mereka diwisuda maka berarti mereka telah menyelesaikan perjuangannya. Tinggal
melanjutkan perjuangan ke kehidupan selanjutnya.
Namun, di sisi lain, di
lantai satu, banyak anggota keluarga mereka yang harus bertarung dengan rasa
bosan, malas, dan tidak menyenangkan demi menunggu para wisudawan keluar.
Mereka harus bisa bersabar menikmati lesehan tanpa alas sama sekali. Kondisi
yang duduk di lantai satu ini saya gambarkan sebagai kuburan atau kondisi yang mengalami kesedihan, ketidakenakan. Saya
merasakan bahwa kondisi demikian merupakan gambaran lengkap dari puisi almarhum
Sitor Sitomorang.
Demikian, tulisan ini
hanyalah sepotong curahan hati setelah mengikuti pelaksanaan wisuda ke-82
Unesa. Terlepas dari semuanya, semoga para wisudawan dapat terus berjuang untuk
meraih kesuksesannya. Sebab, wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjuangan namun
hanya sebuah pintu memasuki dunia nyata. Dunia yang tidak menanyakan nilai
berupa angka lagi melainkan bagaimana mereka mampu berkonstribusi di
tengah-tengah lingkungan masyarakatnya. Semoga sukses!
Surabaya, 29
Maret 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar