Label

Minggu, 02 Agustus 2015

Impian Saya Tak Tercapai

Saya menyadari bahwa untuk menjadi pioner itu tidak mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Baik kematangan dan kesiapan internal sendiri maupun eksternal yang meliputi berbagai media. Sebab seorang pioner baru akan diikuti apabila orang lain memandang sang pioner telah bisa dijadikan teladan. Sikap, tindakan, dan segalanya tindak-tanduk akan sangat penting diperbaiki.

Meskipun saya sudah lupa kapan tepatnya, tapi masih ingat bagaimana saya sering ngobrol dengan Mas Yogie (calon ketua Hima waktu di itu) di bawah pohon rindang atau yang lebih dikenal DPR. Setiap kali saya ada di sana waktu istirahat, dia mendatangi saya dan kami pun saling berbagi. Hingga tibalah saatnya saya menceritakan apa yang saya inginkan terhadap fakultas saya.

Memang saya sangat menyadari bahwa Unesa berada di daerah metropolitan industri. Kondisi sosialnya lebih condong ke daerah aktivis praktis. Tak heran bila organisasi, baik intra maupun ekstra kampus yang berbau politik lebih mudah berkembang di Surabaya. Begitu juga dengan bisnis, di Surabaya lebih strategis untuk dijadikan tempatnya.

Namun, saya tetap optimis untuk mencoba membangun tiga budaya, setidaknya di fakultas saya sendiri waktu itu. Pertama, saya ingin teman-teman di fakultas senang membaca. Membaca apa saja, tidak hanya terpaku pada buku mata kuliah. Saya sadari hal ini tidak mudah. Saya harus mampu menggeser kebiasaan hura-hura yang sudah tertanam dalam diri teman-teman menuju kebiasaan membaca.

Kedua, saya ingin membangun budaya menulis. Bagi saya, kalau teman-teman sudah suka membaca kemudian suka menulis maka untuk memajukan Fakultas Ekonomi akan lebih mudah. Sisi akademik mahasiswa akan melompat pesat. Sebab hanya dengan dua hal tersebut maka saya yakin mahasiswa akan lebih cerdas.

Ketiga, saya sangat berharap mahasiswa suka berdiskusi mengenai wacana-wacana penting, baik nasional maupun internasional dengan berdasarkan ilmu. Kenapa hal ini saya taruh di nomor tiga? Saya tidak memungkiri bahwa dengan berdiskusi maka akan mendorong mahasiswa suka membaca dan menulis, namun dengan diawali suka membaca dan menulis terlebih dahulu, maka apabila teman-teman berdiskusi akan unggul dalam dua hal. Pertama, setiap pendapat yang disampaikan dalam diskusi akan didasarkan pada ilmu pengetahuan, bukan asal-asalan. Kedua, dalam mengungkapkan pendapat, bahasa teman-teman akan lebih lancar dan sistematis.

Untuk melakukan perubahan tersebut tentunya dibutuhkan waktu yang sangat lama. Tapi, saya tetap mencoba menyampaikan pada Mas Yogie. Alhamdulillah! Mas Yogie pun menyadari akan kelemahan fakultas kami itu. Dia juga menginginkan hal yang sama. Budaya membaca, menulis, dan berdiskusi harus ditegakkan. Kemudian dia menyampaikan bahwa nanti setelah menjadi ketua Hima, dia akan membuat program yang mendukung tiga hal itu, yaitu membuat buletin.

Tentu saja saya sangat senang dan ketika saya dimintai tolong untuk menangani hal itu, saya tidak menolak. Saya pun masuk menjadi fungsionaris Hima untuk memegang amanah tersebut. Sebelumnya memang sudah ada buletin, baik yang diterbitkan oleh Hima maupun oleh BEM Fakultas. Namun, buletin itu belum optimal baik dari konten maupun waktu terbit. Nah! Saatnya saya yang bertindak. Turun jalan.

Pada penerbitan pertama, buletin saya buat sebaik mungkin meskipun tak dapat dibendung akan kekurangan di sana-sini. Ternyata banyak yang suka terhadap buletin terbitan pertama tersebut. Baik dari saat produksi hingga distribusi semuanya berjalan lancar. Naskahnya pun ada untuk diterbitkan. Meskipun saya sebagai pemred namun saya menyeleksi dan menyunting sendiri naskah tersebut agar ketika hadir ke hadapan pembaca tidak mengecewakan.

Pihak birokrasi fakultas pun menyambut buletin tersebut dengan baik. Setidaknya, ketua jurusan Pendidikan Ekonomi mengatakan kepada reporter buletin bahwa beliau lebih suka jika ada program seperti itu. Program yang lebih menguatkan keilmuan daripada program-program yang hanya bersifat hiburan. Hal itu membuat saya semakin optimis.

Namun, di terbitan kedua, buletin tersebut terpaksa hancur amburadul. Tak ada naskah yang masuk sehingga saya yang menalangi naskahnya. Kemudian saya juga meminta beberapa teman di Hima untuk menulis. Akhirnya, saya buta. Saya tidak menyeleksi dan juga tidak menyunting naskah tersebut. Tak ada yang bisa diseleksi karena naskah memang kurang. Saya hadirkan apa adanya ke hadapan pembaca. Selain itu, dalam proses produksi hingga distribusi pun hancur amburadul. Saya tidak mampu menjadi pemimpin yang baik. Saya tidak bisa mengoordinir teman-teman sehingga semuanya saya kerjakan sendiri.

Benar! Buletin saya hanya bisa dijadikan bungkus kacang. Tak ada yang istimewa untuk diambil ilmunya. Hal itu berlanjut hingga terbitan-terbitan berikutnya, hingga saya berhenti dari Hima. Program saya tidak mampu menyaingi program-program lain yang lebih bersifat seremonial dan hiburan. Mahasiswa lebih gandrung terhadap program itu daripada program saya.

Waktu terasa berjalan terlalu cepat. Sampailah di akhir jabatan. Di saat acara Gathering sebagai penutupan pertemuan bersama seluruh anggota Hima di Malang, sekitar pukul dua belas malam, saya berdiri di antara teman-teman. Saya menyampaikan permohonan maaf kepada Mas Yogie sebagai ketua Hima. Saya juga menyampaikan bahwa sebenarnya permohonan maaf ini tidak hanya disampaikan kepada dia tapi ke seluruh pengurus Hima namun saya minta Mas Yogie sebagai perwakilan.

Saya menyampaikan bahwa saya tidak bisa menepati ikrar saat tes masuk Hima hingga pelantikan. Semua yang saya impikan tidak berjalan sesuai harapan. Keinginan hanyalah tinggal keinginan. Saya menyadari bahwa semua itu karena kelemahan saya semata. Mestinya seorang pemimpin redaksi multitasking, demikian kata Mbak Ami, pemimpin redaksi majalah Nurani. Tapi, saya lemah sekali.

Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak masuk lagi ke Hima. Saya mau menyiapkan diri saya terlebih dahulu. Saya ingin mendalami dunia tulis-menulis. Saya berharap, setelah teman-teman di fakultas melihat keberhasilan saya maka mereka akan terketuk pula. Sehingga kelak, mereka mau berjuang bersama-sama untuk membangun Fakultas Ekonomi menjadi lebih baik. Semoga!


Surabaya, 19 Februari 2015 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar