Saya menyadari bahwa
untuk menjadi pioner itu tidak mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Baik
kematangan dan kesiapan internal sendiri maupun eksternal yang meliputi
berbagai media. Sebab seorang pioner baru akan diikuti apabila orang lain
memandang sang pioner telah bisa dijadikan teladan. Sikap, tindakan, dan
segalanya tindak-tanduk akan sangat penting diperbaiki.
Meskipun saya sudah
lupa kapan tepatnya, tapi masih ingat bagaimana saya sering ngobrol dengan Mas Yogie (calon ketua
Hima waktu di itu) di bawah pohon rindang atau yang lebih dikenal DPR. Setiap
kali saya ada di sana waktu istirahat, dia mendatangi saya dan kami pun saling
berbagi. Hingga tibalah saatnya saya menceritakan apa yang saya inginkan
terhadap fakultas saya.
Memang saya sangat
menyadari bahwa Unesa berada di daerah metropolitan industri. Kondisi sosialnya
lebih condong ke daerah aktivis praktis. Tak heran bila organisasi, baik intra
maupun ekstra kampus yang berbau politik lebih mudah berkembang di Surabaya.
Begitu juga dengan bisnis, di Surabaya lebih strategis untuk dijadikan
tempatnya.
Namun, saya tetap
optimis untuk mencoba membangun tiga budaya, setidaknya di fakultas saya
sendiri waktu itu. Pertama, saya ingin teman-teman di fakultas senang membaca.
Membaca apa saja, tidak hanya terpaku pada buku mata kuliah. Saya sadari hal
ini tidak mudah. Saya harus mampu menggeser kebiasaan hura-hura yang sudah tertanam
dalam diri teman-teman menuju kebiasaan membaca.
Kedua, saya ingin
membangun budaya menulis. Bagi saya, kalau teman-teman sudah suka membaca
kemudian suka menulis maka untuk memajukan Fakultas Ekonomi akan lebih mudah.
Sisi akademik mahasiswa akan melompat pesat. Sebab hanya dengan dua hal
tersebut maka saya yakin mahasiswa akan lebih cerdas.
Ketiga, saya sangat
berharap mahasiswa suka berdiskusi mengenai wacana-wacana penting, baik
nasional maupun internasional dengan berdasarkan ilmu. Kenapa hal ini saya
taruh di nomor tiga? Saya tidak memungkiri bahwa dengan berdiskusi maka akan
mendorong mahasiswa suka membaca dan menulis, namun dengan diawali suka membaca
dan menulis terlebih dahulu, maka apabila teman-teman berdiskusi akan unggul
dalam dua hal. Pertama, setiap pendapat yang disampaikan dalam diskusi akan
didasarkan pada ilmu pengetahuan, bukan asal-asalan. Kedua, dalam mengungkapkan
pendapat, bahasa teman-teman akan lebih lancar dan sistematis.
Untuk melakukan
perubahan tersebut tentunya dibutuhkan waktu yang sangat lama. Tapi, saya tetap
mencoba menyampaikan pada Mas Yogie. Alhamdulillah!
Mas Yogie pun menyadari akan kelemahan fakultas kami itu. Dia juga
menginginkan hal yang sama. Budaya membaca, menulis, dan berdiskusi harus
ditegakkan. Kemudian dia menyampaikan bahwa nanti setelah menjadi ketua Hima,
dia akan membuat program yang mendukung tiga hal itu, yaitu membuat buletin.
Tentu saja saya sangat
senang dan ketika saya dimintai tolong untuk menangani hal itu, saya tidak
menolak. Saya pun masuk menjadi fungsionaris Hima untuk memegang amanah
tersebut. Sebelumnya memang sudah ada buletin, baik yang diterbitkan oleh Hima
maupun oleh BEM Fakultas. Namun, buletin itu belum optimal baik dari konten
maupun waktu terbit. Nah! Saatnya saya yang bertindak. Turun jalan.
Pada penerbitan
pertama, buletin saya buat sebaik mungkin meskipun tak dapat dibendung akan
kekurangan di sana-sini. Ternyata banyak yang suka terhadap buletin terbitan
pertama tersebut. Baik dari saat produksi hingga distribusi semuanya berjalan
lancar. Naskahnya pun ada untuk diterbitkan. Meskipun saya sebagai pemred namun
saya menyeleksi dan menyunting sendiri naskah tersebut agar ketika hadir ke
hadapan pembaca tidak mengecewakan.
Pihak birokrasi
fakultas pun menyambut buletin tersebut dengan baik. Setidaknya, ketua jurusan
Pendidikan Ekonomi mengatakan kepada reporter buletin bahwa beliau lebih suka
jika ada program seperti itu. Program yang lebih menguatkan keilmuan daripada
program-program yang hanya bersifat hiburan. Hal itu membuat saya semakin
optimis.
Namun, di terbitan
kedua, buletin tersebut terpaksa hancur amburadul. Tak ada naskah yang masuk
sehingga saya yang menalangi naskahnya. Kemudian saya juga meminta beberapa
teman di Hima untuk menulis. Akhirnya, saya buta. Saya tidak menyeleksi dan
juga tidak menyunting naskah tersebut. Tak ada yang bisa diseleksi karena
naskah memang kurang. Saya hadirkan apa adanya ke hadapan pembaca. Selain itu,
dalam proses produksi hingga distribusi pun hancur amburadul. Saya tidak mampu
menjadi pemimpin yang baik. Saya tidak bisa mengoordinir teman-teman sehingga
semuanya saya kerjakan sendiri.
Benar! Buletin saya
hanya bisa dijadikan bungkus kacang. Tak ada yang istimewa untuk diambil
ilmunya. Hal itu berlanjut hingga terbitan-terbitan berikutnya, hingga saya
berhenti dari Hima. Program saya tidak mampu menyaingi program-program lain
yang lebih bersifat seremonial dan hiburan. Mahasiswa lebih gandrung terhadap
program itu daripada program saya.
Waktu terasa berjalan
terlalu cepat. Sampailah di akhir jabatan. Di saat acara Gathering sebagai penutupan pertemuan bersama seluruh anggota Hima
di Malang, sekitar pukul dua belas malam, saya berdiri di antara teman-teman.
Saya menyampaikan permohonan maaf kepada Mas Yogie sebagai ketua Hima. Saya
juga menyampaikan bahwa sebenarnya permohonan maaf ini tidak hanya disampaikan
kepada dia tapi ke seluruh pengurus Hima namun saya minta Mas Yogie sebagai
perwakilan.
Saya menyampaikan bahwa
saya tidak bisa menepati ikrar saat tes masuk Hima hingga pelantikan. Semua
yang saya impikan tidak berjalan sesuai harapan. Keinginan hanyalah tinggal
keinginan. Saya menyadari bahwa semua itu karena kelemahan saya semata.
Mestinya seorang pemimpin redaksi multitasking,
demikian kata Mbak Ami, pemimpin redaksi majalah Nurani. Tapi, saya lemah
sekali.
Akhirnya, saya
memutuskan untuk tidak masuk lagi ke Hima. Saya mau menyiapkan diri saya
terlebih dahulu. Saya ingin mendalami dunia tulis-menulis. Saya berharap,
setelah teman-teman di fakultas melihat keberhasilan saya maka mereka akan
terketuk pula. Sehingga kelak, mereka mau berjuang bersama-sama untuk membangun
Fakultas Ekonomi menjadi lebih baik. Semoga!
Surabaya, 19
Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar