Mulanya saya bingung ketika sampai pada
pelajaran menulis Dr. Suyatno, M.Pd. yang kelima. Ia mengatakan, “Orang yang
sukses menulis adalah orang yang berani keluar dari kungkungan takut salah.”
Bukan karena saya tidak paham terhadap pernyataan tersebut melainkan lebih
karena bingung bagaimana cara menyampaikan. Sekilas pernyataan tersebut memang
tidak jauh berbeda dengan pernyataan yang baru saja saya tulis dengan judul
“Jangan Takut Salah!” Namun, setelah melakukan perenungan beberapa saat,
setelah salat duhur akhirnya saya menemukan titik-titik apa yang mesti saya
tuliskan untuk menjelaskan pernyataan di atas.
Untuk membahas ini, saya ingin memulai
dengan sebuah kisah seorang filsuf yang menolak untuk dijadikan seorang guru
besar di Universitas Haidelberg. Baruch Spinoza namanya. Satu alasan yang
diberikan terhadap penolakan tawaran itu (yang menurut saya cukup untuk
mengantarkan penjelasan tulisan ini) adalah dia menolak karena dia khawatir
ketika menjadi guru besar di universitas tersebut kebebasan berpikirnya
terhambat. Kalau dipikir dalam zona nyaman, tentu penolakan dengan alasan
tersebut merupakan penolakan yang bodoh. Di Indonesia, banyak doktor yang
berlomba-lomba untuk menjadi guru besar tapi Baruch Spinoza malah memiliki
prinsip yang berbeda.
Menurut saya, kisah di atas memang
sangat relevan dengan pernyataan Dr. Suyatno, M.Pd. Kebebasan berpikir atau yang
juga sering dikenal dengan thingking out of the box sangat
penting dimiliki oleh seorang penulis. Penulis yang pemikirannya “terpenjara”
tentu saja akan sulit berkembang. Penjara yang saya maksud adalah penjara
aturan atau sekadar bermakmum. Misalnya, masih kuat ingatan dalam benak saya
bagaimana dahulu saya menentang seorang mahasiswa yang KKN di sekolah saya.
Waktu itu, sang mahasiswa menyampaikan beberapa langkah untuk membuat puisi
yang bagus. Namun, saya langsung menolak. “Kalau membuat puisi harus mengikuti
langkah-langkah itu, tentu saja saya tidak akan dapat membuat puisi. Tapi saya
tetap bisa membuat puisi meskipun tidak mengikuti langkah-langkah itu,” protes
saya.
Dan akhirnya, sang mahasiswa mengakui
bahwa memang dalam menulis tidak perlu terpaku atau terpenjara oleh metode.
Metode yang diajarkan di sekolah-sekolah hanyalah sebuah formalitas meskipun
memang (pasti) tetap ada manfaatnya. Namun, seorang penulis yang hebat justru
seringkali tidak mengikuti metode formal. Ia keluar dengan kebebasan
berpikirnya. Ia mengeksplorasi dunianya sedemikian rupa sehingga menghasilkan
banyak perubahan dan pengembangan yang luar biasa.
Seorang penulis yang semakin berani
mengeksplorasi dunianya dengan bebas maka semakin bagus pula hasilnya. Hal ini
sering dan bahkan sangat sering kita jumpai dalam penulisan karya sastra.
Penulis sastra selalu dituntut untuk mengeksplorasi dunia lingkungannya dan
juga bahasa yang digunakan. Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu
penyair yang selalu mengeksplorasi bahasa dalam puisi-puisinya.
Kata “kungkungan” yang dimaksud dalam
pernyataan di atas merujuk pada wadah (the box). Tentunya wadah
tidak hanya wadah secara aturan. Melainkan juga wadah dalam makna fisik yang
membuat seseorang terhambat untuk bergerak bebas. Secara fisik, seorang penulis
boleh saja dipenjara namun secara pemikiran seorang penulis tidak boleh.
Siapa yang tidak kenal Antonio Gramsci,
seorang filsuf asal Prancis itu? Secara kasat mata, fisiknya memang dipenjara
namun pemikirannya tetap terbang bebas sehingga kelak ia menghasilkan buku yang
ditulis selama dalam penjara dengan judul “Prison Notebooks”. Tokoh Indonesia
yang memiliki nasib sama adalah Tan Malaka, Arswendo Atmowiloto, dan lain-lain.
Secara fisik tubuh mereka memang mendekam di penjara namun tidak dengan
pemikirannya.
Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa
apa yang dimaksud oleh pernyataan Dr. Suyatno, M.Pd. condong terhadap gaya
berpikir. Di mana, seharusnya, keberadaan fisik bukanlah hambatan untuk
berkarya dalam kepenulisan sebab kebebasan seorang penulis tidak hanya terletak
pada fisik namun lebih pada kebebasan berpikir.
Barangkali Wang Qianjin juga
dapat dijadikan salah satu pandangan berkaitan dengan kebebasan berpikir
seorang penulis ini. Wang Qianjin adalah seorang penulis novel berusia
delapan belas tahun tanpa tangan. Mulanya ia hanya menulis cerita-cerita
bersambung di blog namun lambat laun banyak pembaca yang menggemari tulisannya
dan memintanya untuk terus menuliskan ceritanya. Hingga jadilah tulisannya
sebuah novel, sesuatu yang diimpikan dirinya.
Dapat kita bayangkan bagaimana seseorang
dapat menulis sebuah novel tanpa tangan. Justru yang memiliki anggota badan
lengkap yang seringkali beralasan tidak dapat menulis. Dengan berbagai alasan
untuk membenarkan tindakannya sehingga keinginan untuk menulis hanya ada dalam
awang-awang.
Selanjutnya, dapatlah dengan mudah kita
menarik benang merah dari pernyataan Dr. Suyatno, M.Pd. di atas sebagai sebuah
upaya untuk berpikir bebas. Memang berpikir bebas selama ini masih cenderung
diidentikkan dengan prilaku seorang filsuf namun seorang penulis mestinya juga
tidak boleh terkungkung. Pemikiran seorang penulis harus dapat terbang bebas
melampaui kebiasaan. Tanpa adanya kebebasan berpikir dan masih terkungkung oleh
sejumlah aturan yang memenjara proses berpikirnya, maka sang penulis tentu akan
sangat kaku. Bahkan kemungkinan akan cenderung tidak produktif. Sebab ketakutan
untuk mengeksplorasi kemampuannya masih besar.
Sebagai penutup subbab ini, saya ingin
menunjukkan sebuah keberanian berpikir bebas yang meski hingga saat ini masih
pro-kontra di kalangan sastrawan adalah lahirnya Puisi Esai. Deny JA telah
berupaya untuk melahirkan sesuatu yang baru. Kalau pada mulanya, antara puisi
dan esai merupakan dua bagian karya tulis yang berbeda. Namun, Deny JA justru
membuat gebrakan baru dengan menggabungkan keduanya.
Bahkan Deny JA tidak segan-segan
mengeluarkan uang besar untuk mempromosikan idenya. Hingga terakhir ia
mengumpulkan sejumlah penulis ternama untuk menuliskan profil 33 penyair paling
berpengaruh. Memang lahirnya buku tersebut membuat perpecahan di antara penyair
namun saya tidak hendak menitikkan pada perpecahan tersebut. Saya hanya ingin
menunjukkan bagaimana keberanian seorang penulis, Deny JA dalam melahirkan
produk baru dalam dunia sastra. Berpikir out of the box.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar