Label

Sabtu, 08 Agustus 2015

Manfaatkan Liburan dengan Belajar Alquran

Warniatin (kanan) dan suaminya, Abdul Yahman (kiri) di Aula Nurul Falah Surabaya, 26 Juni 2015.
Kesenangannya dalam belajar dan mengajar Alquran sudah tumbuh sejak dini. Itulah gambaran sosok perempuan bernama Warniatin ini. Ibu satu anak tersebut sudah mengajarkan Alquran bagi anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA.

Ia menegaskan bahwa membaca Alquran merupakan salah satu amalan yang sangat mulia. Allah SWT melimpahkan pahalanya dalam setiap huruf yang dibaca. Selain itu, menurut Warniatin, membaca Alquran membuat dirinya merasa dekat dengan Sang Maha Pencipta. “Membuat diri kita merasa lega. Seperti curhat kepada Allah,” tutur perempuan kelahiran Riau, 9 Juni 1979, itu.

Untuk itu, perempuan yang kini tinggal di Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ini tidak mau menyia-nyiakan waktu liburannya. Ia bersama suaminya, Abdul Yahman, menyempatkan diri untuk belajar Alquran di Pesantren Alquran Nurul Falah Surabaya selama dua minggu.

“Sebenarnya kami mau liburan ke rumah saya di Nganjuk. Tapi, kami sengaja menyempatkan diri untuk memperdalam ilmu Alquran dulu di sini selama dua minggu. Meskipun rasanya masih kurang, namun waktu tidak memungkinkan. Kami sudah ditunggu keluarga,” jelas Abdul Yahman, yang merupakan asli Nganjuk, Jawa Timur.

Ada dua alasan Warniatin dan Abdul Yahman masih ingin menimba ilmu Alquran meskipun sudah memiliki satu anak. Pertama, Warniatin merasa bahwa pelafalan makhorijul huruf yang dimiliki masih banyak kekurangan. Kedua, dia ingin menerapkan ilmu membaca Alquran di TPQ Babussalam, tempat dirinya mengajar.

Sejak kecil, Warniatin seringkali berpindah-pindah tempat belajar mengaji. Hal ini karena Warniatin kecil ikut orang tuanya bekerja. Terakhir, Warniatin ikut orang tuanya transmigrasi dari Riau ke Kalimantan Utara. Kondisi inilah yang sebenarnya menyebabkan Warniatin kecil tidak bisa belajar mengaji hanya pada satu orang guru sehingga memengaruhi pola pelafalannya juga.

Meskipun Warniatin tidak memiliki latar belakang santri, namun bukan berarti tidak bisa mengajarkan Alquran kepada orang lain. Warniatin mengaku bahwa dirinya telah mengajar Alquran kepada anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA. Dia merasa terpanggil setelah melihat anak-anak yang bermain dan tidak bisa mengaji. “Daripada hanya bermain, saya panggil mereka ke rumah untuk diajari mengaji,” paparnya.

Hingga kini, setiap pagi Warniatin harus mengajar di TK dan saat sore hari dia mengajar di TPQ Babussalam. Meskipun sibuk, namun hal ini tidak menyurutkan dirinya untuk mengaji sendiri bersama keluarga di rumah. Sembari menunggu anak-anak yang ingin belajar mengaji setelah maghrib, Warniatin mengaji sendiri.

“Jadi, anak-anak yang tidak bisa datang ke TPQ waktu sore hari, mereka datang ke rumah untuk belajar. Sambil menunggu itu, saya mengaji sendiri,” ungkap ibu dari Angger Satrio Wicaksono tersebut.

Sebenarnya, Taman Pendidikan Alquran (TPA/TPQ) Babussalam itu sendiri merupakan hasil inisiasi Abdul Yahman, suami Warniatin. Abdul merasa perlu didirikan TPQ agar anak-anak di Desa Sabanar Baru, tempat dia dengan keluarga tinggal, khususnya bisa membaca Alquran.

Abdul melihat, banyak anak-anak di sekitarnya yang belum bisa mengaji. Padahal, menurutnya, tahu mengaji merupakan hal yang sangat penting bagi diri anak. “Setidaknya untuk bisa mendoakan orang tuanya,” tegasnya.

Setelah Abdul diangkat menjadi pengurus di masjid yang baru berdiri di dekat kediamannya, Abdul langsung mengusulkan untuk didirikan TPQ. Seiring izin Allah SWT, semua pengurus setuju. Maka, berdirilah TPQ Babussalam pada September 2013 dengan salah satu pengurusnya Abdul sendiri.

Langkah yang dilakukan untuk menghidupkan TPQ itu adalah menarik guru-guru ngaji yang biasa mengajar di rumahnya masing-masing, seperti Warniatin. Termasuk menyebarkan surat edaran kepada warga sekitar sebagai bentuk promosi. “Sekarang santrinya sudah mencapai 78 orang,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya mengundang perwakilan dari Nurul Falah ke tempatnya untuk melatih guru-guru dalam mengajar Alquran. “Metode tilawati ini cocok untuk anak-anak. Dengan cara selalu diulang-ulang, anak-anak akan mudah ingat. Apalagi dilagukan, sehingga anak-anak suka dan tidak bosan,” tambah Warniatin.

Abdul Yahman, suami Warniatin, berprofesi sebagai swasta di bidang kontraktor. Karena kesibukan yang dimilikinya, pria kelahiran Nganjuk, 15 Juli 1977, tersebut harus pandai membagi waktu. Waktu pagi hingga sore dia gunakan untuk bekerja. Setelah itu, baru dirinya mengurus TPQ.

Selain itu, Abdul dan Warniatin memiliki harapan tersendiri untuk anaknya, Angger. Mereka berharap, kelak anak tunggalnya itu bisa menjadi hafiz. Karena itu, Angger selalu diajak ikut saat mereka belajar mengaji ,bahkan saat mereka belajar di Nurul Falah pada 15—27 Juni 2015.

“Rencana memang mau diikutkan belajar mengaji bersama teman-teman sebayanya di sini (Nurul Falah Surabaya, Red). Tapi, kebetulan sedang liburan. Jadi, ya ikut kami saja saat belajar,” papar Abdul saat diwawancarai di musala Nurul Falah Surabaya. 


Penulis: Syaiful Rahman
Editor  : Eko Prasetyo


*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar