| Warniatin (kanan) dan suaminya, Abdul Yahman (kiri) di Aula Nurul Falah Surabaya, 26 Juni 2015. |
Kesenangannya
dalam belajar dan mengajar Alquran sudah tumbuh sejak dini. Itulah gambaran
sosok perempuan bernama Warniatin ini. Ibu satu anak tersebut sudah mengajarkan
Alquran bagi anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA.
Ia
menegaskan bahwa membaca Alquran merupakan salah satu amalan yang sangat mulia.
Allah SWT melimpahkan pahalanya dalam setiap huruf yang dibaca. Selain itu, menurut
Warniatin, membaca Alquran membuat dirinya merasa dekat dengan Sang Maha
Pencipta. “Membuat diri kita merasa lega. Seperti curhat kepada Allah,” tutur perempuan kelahiran Riau, 9 Juni 1979,
itu.
Untuk
itu, perempuan yang kini tinggal di Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten
Bulungan, Kalimantan Utara, ini tidak mau menyia-nyiakan waktu liburannya. Ia
bersama suaminya, Abdul Yahman, menyempatkan diri untuk belajar Alquran di
Pesantren Alquran Nurul Falah Surabaya selama dua minggu.
“Sebenarnya
kami mau liburan ke rumah saya di Nganjuk. Tapi, kami sengaja menyempatkan diri
untuk memperdalam ilmu Alquran dulu di sini selama dua minggu. Meskipun rasanya
masih kurang, namun waktu tidak memungkinkan. Kami sudah ditunggu keluarga,”
jelas Abdul Yahman, yang merupakan asli Nganjuk, Jawa Timur.
Ada dua alasan Warniatin
dan Abdul Yahman masih ingin menimba ilmu Alquran meskipun sudah memiliki satu
anak. Pertama, Warniatin merasa bahwa pelafalan makhorijul huruf yang dimiliki masih banyak kekurangan. Kedua, dia
ingin menerapkan ilmu membaca Alquran di TPQ Babussalam, tempat dirinya
mengajar.
Sejak kecil, Warniatin
seringkali berpindah-pindah tempat belajar mengaji. Hal ini karena Warniatin
kecil ikut orang tuanya bekerja. Terakhir, Warniatin ikut orang tuanya
transmigrasi dari Riau ke Kalimantan Utara. Kondisi inilah yang sebenarnya
menyebabkan Warniatin kecil tidak bisa belajar mengaji hanya pada satu orang
guru sehingga memengaruhi pola pelafalannya juga.
Meskipun Warniatin tidak
memiliki latar belakang santri, namun bukan berarti tidak bisa mengajarkan
Alquran kepada orang lain. Warniatin mengaku bahwa dirinya telah mengajar
Alquran kepada anak-anak di kampungnya sejak masih duduk di bangku SMA. Dia merasa
terpanggil setelah melihat anak-anak yang bermain dan tidak bisa mengaji.
“Daripada hanya bermain, saya panggil mereka ke rumah untuk diajari mengaji,”
paparnya.
Hingga kini, setiap pagi
Warniatin harus mengajar di TK dan saat sore hari dia mengajar di TPQ Babussalam.
Meskipun sibuk, namun hal ini tidak menyurutkan dirinya untuk mengaji sendiri
bersama keluarga di rumah. Sembari menunggu anak-anak yang ingin belajar
mengaji setelah maghrib, Warniatin mengaji sendiri.
“Jadi, anak-anak yang tidak
bisa datang ke TPQ waktu sore hari, mereka datang ke rumah untuk belajar.
Sambil menunggu itu, saya mengaji sendiri,” ungkap ibu dari Angger Satrio
Wicaksono tersebut.
Sebenarnya, Taman
Pendidikan Alquran (TPA/TPQ) Babussalam itu sendiri merupakan hasil inisiasi
Abdul Yahman, suami Warniatin. Abdul merasa perlu didirikan TPQ agar anak-anak
di Desa Sabanar Baru, tempat dia dengan keluarga tinggal, khususnya bisa
membaca Alquran.
Abdul melihat, banyak
anak-anak di sekitarnya yang belum bisa mengaji. Padahal, menurutnya, tahu
mengaji merupakan hal yang sangat penting bagi diri anak. “Setidaknya untuk
bisa mendoakan orang tuanya,” tegasnya.
Setelah Abdul diangkat
menjadi pengurus di masjid yang baru berdiri di dekat kediamannya, Abdul
langsung mengusulkan untuk didirikan TPQ. Seiring izin Allah SWT, semua
pengurus setuju. Maka, berdirilah TPQ Babussalam pada September 2013 dengan
salah satu pengurusnya Abdul sendiri.
Langkah yang dilakukan untuk
menghidupkan TPQ itu adalah menarik guru-guru ngaji yang biasa mengajar di
rumahnya masing-masing, seperti Warniatin. Termasuk menyebarkan surat edaran
kepada warga sekitar sebagai bentuk promosi. “Sekarang santrinya sudah mencapai
78 orang,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya
mengundang perwakilan dari Nurul Falah ke tempatnya untuk melatih guru-guru
dalam mengajar Alquran. “Metode tilawati ini cocok untuk anak-anak. Dengan cara
selalu diulang-ulang, anak-anak akan mudah ingat. Apalagi dilagukan, sehingga
anak-anak suka dan tidak bosan,” tambah Warniatin.
Abdul Yahman, suami
Warniatin, berprofesi sebagai swasta di bidang kontraktor. Karena kesibukan
yang dimilikinya, pria kelahiran Nganjuk, 15 Juli 1977, tersebut harus pandai
membagi waktu. Waktu pagi hingga sore dia gunakan untuk bekerja. Setelah itu,
baru dirinya mengurus TPQ.
Selain itu, Abdul dan
Warniatin memiliki harapan tersendiri untuk anaknya, Angger. Mereka berharap,
kelak anak tunggalnya itu bisa menjadi hafiz. Karena itu, Angger selalu diajak
ikut saat mereka belajar mengaji ,bahkan saat mereka belajar di Nurul Falah pada
15—27 Juni 2015.
“Rencana memang mau
diikutkan belajar mengaji bersama teman-teman sebayanya di sini (Nurul Falah
Surabaya, Red). Tapi, kebetulan sedang liburan. Jadi, ya ikut kami saja saat
belajar,” papar Abdul saat diwawancarai di musala Nurul Falah Surabaya.
Penulis: Syaiful Rahman
Editor : Eko Prasetyo
*Profil ini dimuat di majalah Nurul Falah edisi Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar