Kali ini saya ingin membahas
mengenai jurus-jurus sakti menjadi penulis yang dituturkan oleh Dr. Suyatno,
M.Pd. Sebenarnya ada sebelas jurus yang bagikan di-facebook-nya tadi
pagi namun yang satu jurus itu ditujukan kepada saya. Lebih tepatnya, dalam
komentar statusnya, beliau menyebutkan nama saya.
Tapi, rasanya jurus tersebut
juga sangat bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, saya ingin membagikan
melalui tulisan ini yang tentunya sudah merupakan hasil pemahaman saya terhadap
pernyataan beliau. Jadi, kalau ada kesalahan maka murni dari saya bukan dari
pernyataan beliau.
Well, mari saya tunjukkan jurus yang diberikan kepada saya tadi: “Mas
Syaiful Rahman, apa yang ada di pikiranmu adalah tulisanmu yang perlu
memindahkan dalam bentuk tulisan. Pindahkan saja ke dalam tulisan. Jangan takut
salah. Edit sesuai dengan racikan yang diinginkan. Yang penting tuangkan lebih
dahulu ke tulisan. Hasilnya pasti buruk karena belum disunting tapi tidak
apa-apa. Kemudian, sunting hasil tuangan itu.”
Saya rasa pernyataan di atas,
sebenarnya, bukan hal baru. Namun, sering dilupakan oleh kebanyakan penulis,
khususnya penulis pemula (lebih khusus lagi saya, penulis pemula). Yang
seringkali muncul pertama dalam benak penulis pemula adalah bagaimana membuat
tulisan yang bagus. Padahal sang penulis belum menulis satu huruf pun. Hal yang
sangat ironis dalam pikiran sehat.
Memang pemikiran tersebut tidak
salah. Siapapun menginginkan suatu kesempurnaan. Itu naluri manusia. Tapi,
sekarang mari berpikir realistis saja. Apakah seseorang dapat membuat kopi yang
enak jika dia belum pernah membuat kopi walau hanya sekali?
Ya, lebih tepatnya adalah
bagaimana kita berproses. Menulis sama dengan koki, demikian kata Tere Liye,
sang novelis best seller. Yakni, yang
paling penting dan pertama kali dipikirkan adalah menyalin isi pikiran ke atas
kertas atau layar. Tak peduli apakah itu bagus atau buruk. Sebab kesempurnaan
hanya milik Tuhan.
Mengapa itu menjadi kunci utama?
Tentu saja jawabannya adalah tanpa menyalin isi pikiran lantas apa yang mau
disalin? Oleh karena itu, menulis juga sering diistilahkan dengan menuliskan
isi pikiran atau ide. Memang untuk penulis pemula hal ini tidak mudah. Sekali
lagi itu karena yang dibayangkan adalah tulisan yang bagus.
Seorang penulis hebat sekalipun,
saya berani mengatakan “pasti” pernah memiliki tulisan yang jelek. Tidak hanya
jelek menurut orang lain bahkan menurut dirinya sendiri sekalipun. Tapi, mereka
tetap menulis, menulis, dan menulis. Sebab menurut Tengsoe Tjahjono, kunci
untuk bisa menulis hanya “menulis”. Tanpa menulis maka impian untuk menjadi
penulis sama dengan memimpikan “es hangat”. Dua hal yang berlawanan.
Selanjutnya, penulis pemula
biasanya sering berpikir takut salah ketika ingin menuliskan idenya. Tentu saja
hal itu menjadi hambatan yang kronis dalam menulis. Rasa takut akan membuat
seseorang minder dan tidak percaya diri. Rasa takut selalu
menjadi momok bagi orang yang ingin
berubah. Sering saya contohkan, bukankah Tomas Alva Edison mengalami seribu
kali kesalahan atau kegagalan sebelum menemukan lampu pijar? Atau bukankah ada
beberapa orang peneliti justru menemukan hal baru karena kesalahan?
Lantas bagaimana tulisan penulis
yang terkenal bisa menjadi hebat? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena
setelah menulis itu diedit. Mengedit sebuah tulisan ini merupakan hal yang
sangat penting untuk menghasilkan tulisan yang hebat. Bukan hasil tulisan
pertama yang paling penting tapi tulisan setelah diedit. Kenapa demikian?
Karena tulisan yang sudah diedit itu akan dikonsumsi oleh pembaca dan di situlah
pembaca memberikan penilaiannya.
Kalau ingat apa yang dikatakan
oleh seorang penyair ternama Sapardi Djoko Damono, ketika tulisan sudah jadi
maka sang penulis mati. Bagaimanapun penilaian pembaca terhadap suatu tulisan,
sang penulis sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kalaupun sang penulis berusaha
menjelaskan melalui lisan namun hal itu menjadi percuma atau justru
menenggelamkan tulisan itu sendiri. Bahkan bisa jadi sang penulis kehilangan
pamor di mata publik. Itulah kenapa masa editing
itu sangat penting dalam dunia kepenulisan.
Dalam masa editing, sebuah tulisan bisa saja ditambah, dikurangi, atau bahkan
diganti. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghasilkan tulisan yang baik.
Untuk itu, seorang editor harus berani dan tega terhadap tulisan. (Meskipun
jujur saja, saya sering tidak tega untuk mengedit terlalu banyak terhadap
tulisan saya sendiri.) Namun itu sama seperti belajar memindai isi pikiran ke
dalam bentuk tulisan, hanya sebuah proses.
Memang ketika selesai menulis,
sang penulis seringkali merasa tulisan itu sudah sempurna. Sehingga ketika sang
penulis langsung mengedit maka cenderung tulisan tersebut tidak berubah sama
sekali. Oleh karena itu, ada istilah masa pengendapan tulisan. Yaitu,
membiarkan tulisan tanpa disentuh dalam waktu tertentu.
Setiap penulis memiliki masa
yang berbeda-beda dalam melakukan pengendapan. Ada yang tiga hari, satu minggu,
dua minggu, satu bulan, bahkan kabarnya, puisinya Chairil Anwar yang berjudul
“Aku” mengalami pengeditan hingga satu tahun. Jadi, tak ada patokan khusus
dalam masa pengendapan.
Pengendapan menjadi penting
karena untuk menghilangkan subjektivitas penulis terhadap tulisannya. Semakin
lama masa pengendapannya, konon, semakin bagus. Tapi, dalam proses editing agar
tulisan itu bagus sebenarnya juga tidak bisa lepas dari kemampuan yang dimiliki
oleh penulis waktu mengedit. Semakin baik kemampuan yang dimiliki oleh sang
editor maka semakin bagus pula hasil akhir tulisan tersebut. Dan sebaliknya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh
Dr. Suyatno, M.Pd. di atas, dalam masa editing itu juga sang penulis dapat
dengan mudah menentukan mau dibentuk seperti apa tulisan itu. Dalam istilahnya
mau diracik bagaimana. Itu semua bergantung sang penulis. Bisa diubah menjadi
esai, puisi, cerpen, atau apa pun. Yang paling penting dalam proses menulis
adalah menulis. Titik.
Barangkali itu penjelasan
singkat mengenai jurus yang diberikan oleh Kepala Humas Unesa di atas untuk
menulis. Masih ada sepuluh jurus lagi yang insya Allah akan saya bahas di lain
kesempatan. Semoga bermanfaat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar