Kemarin, Selasa 17 Juni 2014 saya ikut
menyaksikan proses MoU antara Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan
Hokuriku University, Jepang. Pembahasan mengenai kerja sama itu dilakukan di
ruang sidang rektorat Unesa. Adapun yang hadir dari Hokuriku adalah Tsutomu Ogura, Ph.D. (Chairman, Board
of Trustees), Shigeru Minamino (Member Board of Trustees Chief
Administrator), dan Justin Tobias (Deputy Manager International
Exchange Center).
Dalam
ruang sidang itu hanya ada dua bahasa dalam komunikasi mereka, yaitu bahasa
Inggris dan bahasa Jepang. Pihak Unesa yang menyambut mereka menggunakan bahasa
Inggris dan satu orang lagi menggunakan bahasa Jepang. Sedangkan yang dari
Jepang menggunakan bahasa Jepang dan bahasa Inggris.
Yang
membuat saya agak memutar pikiran adalah pihak yang datang dari Jepang.Tsutomu
Ogura, Ph.D. dan Shigeru Minamino adalah para petinggi dari Hokuriku
University. Sedangkan Justin Tobias adalah orang Australia yang menjadi transletor bagi orang-orang Jepang itu.
Jadi, bahasa orang-orang Jepang itu diterjemahkan oleh Justin Tobias ke dalam
bahasa Inggris.
Saya
kemudian berpikir begini, kenapa orang Indonesia begitu ambisius untuk bisa
berbahasa asing. Saking ambisiusnya bahkan bahasa daerahnya sendiri terlupakan.
Bisa dilihat betapa menurun pesat anak-anak Indonesia yang paham betul bahasa
daerahnya. Ironisnya, bahasa daerah yang biasa menjadi bahasa ibu pun kini
mulai tergeserkan oleh bahasa Indonesia, bahasa nasional.
Kemudian
yang menjadi pertanyaan, orang Indonesia banyak yang menguasai bahasa-bahasa
asing tapi kenapa Indonesia belum maju-maju juga? Sementara cendikiawan Jepang
tidak menguasai bahasa asing tapi kenapa di sana lebih maju? Bagaimana sih sebaiknya negara ini diatur agar
mengalami kemajuan yang pesat?
Di
sinilah saya berpikir bahwa seharusnya setiap individu menguasai minat dan
bakatnya masing-masing. Kemudian dari setiap individu itu saling bekerja sama
sehingga terjadi kolaborasi yang kuat dan kemajuan secara serentak pun tercapai
dengan maksimal. Yang memiliki keahlian bahasa maka dalamilah bahasanya
sehingga menjadi transletor yang
baik. Yang memiliki keahlian di bidang sains maka kembangkanlah ilmu sainsnya
dengan baik. Bukankah itu jauh lebih baik daripada satu orang dituntut untuk
menguasai berbagai macam ilmu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar