Masih ingat kata pepatah: “Seribu teman
terasa kurang, satu musuh terasa sesak.” Kalimat pendek itu terasa mencubit
saya. Pertama kali saya masuk ke Unesa, saya benar-benar tertutup (introvert). Saya
sulit bersosialisasi. Dua permasalahan yang muncul bersamaan pada waktu itu.
Pertama, masuk Unesa bukan keinginan saya tapi takdir Allah. Hal itu
mengakibatkan saya sulit move on. Kedua, dari sekolah saya,
saya satu-satunya siswa yang masuk Unesa kampus Ketintang.
Saya lebih buruk dari mahasiswa
kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Ketertutupan saya tidak hanya di
tempat kos melainkan juga di kampus. Mau berkenalan saja sulitnya minta ampun.
Bahkan di kos, dengan teman sekosan saya pun tidak mau berkenalan. Sehingga
jiwa tidak kerasan semakin berlipat-lipat.
Ketika pindah ke UKM pun saya tidak jauh
berbeda. Mengisolasi diri adalah pilihan saya. Kak Riski (ketua BEM FE periode
2014-2015) mencoba mendidik saya agar bisa berubah. Saya dikenalkan dengan para
senior di fakultas. Banyak yang mengenal saya namun saya tak kunjung terbuka.
Saya baru merasakan dunia yang berbeda,
saya mulai bisa terbuka setelah saya menjadi reporter Humas Unesa. Saya dipaksa
mewawancarai orang-orang yang sama sekali belum saya kenal. Tidak hanya
mewawancarai mahasiswa, tapi juga para dosen hingga rektor. Mulanya saya memang
sangat malu dan ragu. Tapi, berkat dorongan dari teman-teman di Humas, saya
berusaha memberanikan diri.
Saya masih ingat bagaimana saat-saat
pertama kali wawancara. Saya tidak pernah mencoba membuntuti narasumber dengan
pertanyaan-pertanyaan yang bermutu. Paling-paling hanya bertanya sesuai outline dan
menerima setiap jawaban yang diberikan. Tentu saja suasana wawancara terasa
kering. Tidak hanya narasumber yang merasa bosan tapi saya juga. Hmmm!
Kemudian, pada acara PKM di kantor Pusat
saya ditugasi meliput oleh Humas. Saya didampingi Mas Gilang (fotografer
Humas). Saya menemui Pak Yanto di lantai satu. “Itu, Pak Yanto wawancarai!”
suruh Mas Gilang setelah turun dari tangga.
Kaku sekali rasanya saat saya wawancara.
Mau bertanya apa, saya tidak tahu. Saya bingung. Untungnya, ada Mas Gilang yang
memang sudah menjadi senior saya di Humas. Begitu fleksibel dia bertanya ke Pak
Yanto. Dia tidak mau berhenti untuk terus bertanya sehingga banyak informasi
yang saya dapatkan.
Oleh karena itu, saya mengucapkan terima
kasih kepada Mas Gilang karena dari dia saya pertama kali belajar berani
bertanya dengan pertanyaan yang mungkin kadang terkesan nakal pada narasumber.
Bermula dari situ, saya terus mengeksplor kemampuan bertanya saat wawancara.
Saya berusaha untuk membuat narasumber merasa nyaman bahkan merasa tidak
diwawancarai saat saya wawancara.
Saya juga berusaha memahami karakter
narasumber dengan baik, meskipun ini belum berhasil. Saya yakin, dengan
memahami karakter narasumber dan bisa menyesuaikan diri maka narasumber akan
lebih enjoy. Dengan kondisi enjoy tentunya akan
banyak keuntungan yang saya dapatkan. Misalnya, saya akan lebih banyak
mendapatkan informasi daripada kondisi tegang dan juga akan membuat narasumber
lebih akrab dengan saya. Nah, keakraban ini sangat penting sebab dari sanalah
sumber-sumber kelancaran akan terbuka.
Apabila narasumber sudah akrab dengan
saya maka di mana pun kami berpapasan maka tanpa rasa sungkan kami saling
bertutur sapa. Kemudian, apabila ada sesuatu yang penting maka tanpa diminta
pun narasumber akan menghubungi saya. Inilah salah satu bagian dari kunci
memperbanyak jaringan.
Lambat laun tapi pasti, saya tidak
menyadari bahwa saya sudah mengalami perubahan yang sangat besar dalam hidup
saya. Saya merasa lebih mudah untuk bergaul dengan siapa saja. Tak peduli apa
jabatannya. Saya berusaha untuk menyelami dunia jurnalistik: kita adalah sama.
Baru-baru ini, setelah beberapa bulan
saya tidak bertemu dengan Kak Riski, dia mengajak saya ke tempat barunya di
Lidah Wetan. Dia sedang membuka usaha printing dan toko ATK.
Barangkali dia melihat juga perubahan yang terjadi pada diri saya. “Sekarang
kamu sudah berbeda. Cara kamu untuk akrab dengan orang lain sudah bagus,” ucap
dia di tokonya.
Alhamdulillah! Saya
hanya bisa bersyukur sebab saya merasa bahwa ini juga bagian dari nikmat yang
Allah berikan pada saya. Ini hanya sebagian buah dari hasil proses. Bagi saya,
yang terpenting saat ini adalah berusaha meningkatkan kemampuan berkomunikasi
yang baik dan menggunakannya dalam hal-hal baik pula.
Satu hal yang dapat saya ambil pelajaran
dan saya jadikan sebagai motivasi adalah sebenarnya kemampuan bersosialisasi
itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Dapat saya bayangkan betapa
mengerikannya saya seandainya saya tidak mampu bersosialisasi dan beradaptasi.
Tentu saya tetap menjadi penyendiri hingga sekarang. Tak ada teman dan hanya
menjadi penunggu di pojokan kampus.
Namun, berkat usaha, doa, dan izin dari
Allah, setelah saya mulai mampu bersosialisasi dengan lebih baik, saya memiliki
teman yang banyak. Rasa malu dan minder mulai lenyap dari dalam
diri saya. Saya merasa memiliki ruang yang lebih luas dan lebih indah daripada
sebelumnya. “Seribu teman terasa kurang, satu musuh terasa sesak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar