Seorang anak kecil yang masih duduk di
sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) ditanya oleh gurunya: “Kamu ingin menjadi apa?”
Dengan tangkas sang anak menjawab: “Polisi.” Kemudian sang guru tersenyum dan
berucap, “Bagus!” Tidak hanya pada satu anak, tapi ke seluruh anak yang ada di
kelas itu. Bahkan di sekolah-sekolah lain pun melakukan hal yang sama seperti
yang dilakukan di salah satu TK itu.
Menariknya, kondisi demikian,
mengungkapkan keinginan untuk menjadi orang hebat, terus dimiliki hingga
dewasa. Keinginan terus menjadi teman dalam setiap perjalanan hidup seseorang.
Ingin menjadi orang hebat dengan segala atributnya. Hingga keinginan itu pun
hanya ada di awang-awang tetap menjadi suatu keinginan. Namun, seringkali
keinginan itu hanya menjadi keinginan belaka sebab tanpa diikuti oleh usaha.
Ketika seseorang memiliki satu buah
mobil maka muncul keinginan untuk memiliki dua buah mobil. Ketika memiliki dua
buah mobil kemudian muncul lagi keinginan untuk memiliki tiga buah mobil.
Begitu seterusnya hingga sampai pada suatu keinginan yang tak bisa dicapainya
meskipun keinginan tersebut masih bercokol di benaknya. Barangkali ini sesuai
dengan konsep ekonomi “Keinginan itu tidak terbatas tapi kebutuhan terbatas.”
Padahal dalam kenyataannya, setinggi
apapun keinginan tersebut ditempatkan, untuk mencapainya tetap dimulai dari
satu langkah. Langkah demi langkah dilakukan untuk mencapai keinginannya.
Artinya, setinggi apapun keinginan yang dimiliki tidak serta merta dicapai
tanpa melalui sebuah proses dari hal terkecil.
Lantas apa hubungannya dengan menulis?
Penulis juga memiliki naluri yang sama seperti anak TK. Ia memiliki keinginan
untuk menulis dengan baik. Ingin menulis buku yang spektakuler. Namun, setiap
penulis memiliki cara sendiri bagaimana mengatur keinginannya itu sehingga
tidak hanya menjadi keinginan melainkan menjadi kenyataan. Anehnya, ketika
keinginan itu berhasil dimodifikasi sedemikian rupa justru menghasilkan hal-hal
di luar dugaan. Keinginan itu tercapai bahkan melebihi target yang diinginkan.
Berkaitan dengan itu, Dr. Suyatno, M.Pd.
memberikan pelajaran atau trik bagi penulis untuk mencapai keinginannya,
menulis buku. Berikut saya kutip pelajaran yang diposting di facebook-nya.
“Buku kedua belas saya dapat terbit karena buku kesatu, kedua, ketiga, dan
seterusnya. Saat menulis jangan berpikir tentang buku karena terlalu tebal dan
banyak lembar tetapi berpikirlah satu paragraf dan satu lembar saja.”
Ini memang sangat sederhana namun hal
sederhana inilah yang seringkali menjatuhkan seorang penulis pemula yang belum
dapat memodifikasi keinginannya. Ketika seorang penulis pemula belajar menulis,
yang terbayang dalam benaknya adalah menulis buku yang spektakuler. Ketika
membaca novelnya Andrea Hirata misalnya, seorang penulis pemula cenderung ingin
menghasilkan novel seperti karya Andrea Hirata, best seller.
Keinginan itu melambung tinggi hingga
mau tidur pun masih terbayang-bayang. Bahkan berbagai ekspresi yang akan
dilakukan jika seorang penulis itu menjadi penulis best seller pun
sudah mulai dibayangkan. Hal itu memang sah-sah saja. Bagaimanapun keinginan
biasanya menjadi sumber penyemangat bagi seseorang untuk menjadi lebih baik.
Keinginan selalu menjadi kompor.
Namun, juga tidak boleh dilupakan bahwa
keinginan yang terlalu abstrak seringkali justru melemahkan sang penulis
pemula. Harus diakui bahwa kegiatan menulis bukanlah abrakadabra. Kegiatan
menulis melalui proses panjang. Oleh karena itu, orang yang malas berproses
sudah barang tentu tidak akan pernah menjadi penulis hebat. Pada umumnya,
menulis novel mentahan minimal dilakukan tidak kurang dari satu bulan. Ingat,
itu masih mentahan. Seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya,
setelah menulis masih ada proses pengendapan dan pengeditan.
Wina Bojonegoro (cerpenis) misalnya
mengatakan, untuk menulis novel itu membutuhkan napas yang panjang. Banyak hal
yang harus benar-benar dipertimbangkan dalam waktu yang sangat lama.
Bagaimana
membuat pembaca tidak bosan membaca tulisan itu hingga selesai, yang sudah
pasti beratus-ratus halaman, adalah harga mutlak yang harus dilakukan oleh sang
penulis. Dan masih banyak lagi kerumitan-kerumitan yang harus dilakukan ketika hendak
menulis sebuah novel. Apabila tidak memiliki napas dan komitmen yang kuat maka
sudah barang pasti sang penulis pemula tersebut akan jatuh di tengah jalan.
Untuk itu, melalui pernyataan yang
ditulis oleh Dr. Suyatno, M.Pd. di atas sang penulis pemula dapat mengambil
pelajaran berharga. Tak perlu membayangkan sebuah buku atau novel ketika
menulis tapi lebih baik berpikir untuk menuliskan paragraf demi paragraf dengan
baik. Dengan menyederhanakan pandangan terhadap keinginan tentu akan lebih
memudahkan bagi penulis pemula. Tak ada beban yang berat sebab keinginan yang
terlalu menggebu-gebu.
Kalau membaca proses kreatif Piepit
Senja bagaimana menjadi seorang novelis hebat tentu akan sangat relevan dengan
pembahasan kali ini. Mulanya Piepit tidak membayangkan akan menulis sebuah
novel. Sehari-hari ia hanya menuliskan catatan harian yang disimpan di pojok
kamarnya, catatan tentang dirinya yang menderita kelainan darah bawaan yang secara
berkala harus ditransfusi, sering nge-drop
hingga sekarat. Catatan itu ia kumpulkan hingga bertumpuk-tumpuk.
Pada tahun 1978, ibu Piepit menceritakan
tentang rumahnya yang akan diambil oleh rentenir kepada Piepit sebab sejumlah
hutang yang melilitnya. Berbekal keyakinan, Piepit yang masih mondok waktu itu,
menyanggupi untuk membantu ibunya. Ia mengumpulkan catatan hariannya dan
diketik kemudian dibawa ke penerbit. Tentu saja tulisannya tidak langsung
diterima oleh penerbit. Ia pergi dari penerbit satu ke penerbit lainnya. Hingga
tibalah ia di salah satu penerbit dan kebetulan bertemu dengan Leon Agusta dan
Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia) di penerbit itu.
Mereka
mendorong direktur penerbitan agar menerima naskah memoar kehidupan Piepit itu
untuk diterbitkan. Dan menjadi nasib beruntung bagi Piepit sehingga tulisannya
yang waktu itu masih berupa prolog sebanyak sembilan halaman diterima. Kemudian
diterbitkan dengan judul “Sepotong Hati di Sudut Kamar”.
Dari cerita di atas kita dapat mengambil
pelajaran bahwa untuk menulis buku maka jangan terlalu memikirkan tulisan kita
menjadi buku. Bagaimanapun ketika membayangkan buku maka yang muncul adalah
tumpukan kertas yang tebal, beratus-ratus halaman, penulisannya membutuhkan waktu
lama. Solusi terbaik adalah menulis saja sedikit demi sedikit secara konsisten.
Bukankah untuk mencapai seribu langkah dimulai dengan satu langkah pertama?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar