Niat dan kemauan yang
kuat menjadi kata kunci mencapai kesuksesan. Tapi bukan berarti sebuah keterpaksaan
serta-merta membuat seseorang gagal. Bagaimanapun, keterpaksaan yang
terus-menerus akan membuat seseorang terbiasa dan bisa jadi akan memunculkan
keseriusan. Kasus seperti ini banyak ditayangkan di film-film. Hal itu
tergantung sampai di mana orang tersebut bertahan dalam keterpaksaannya.
Kali pertama masuk ke
Humas, dari fakultas saya terdiri dari tiga orang. Selain saya, dua orang
sama-sama perempuan. Satu orang merupakan teman kelas saya sendiri dan yang
satunya lagi anak BEM Fakultas. Kami sama-sama angkatan 2013 dari jurusan yang
sama namun yang anak BEM Fakultas berbeda prodi.
Karena saya memang
memiliki keinginan besar untuk bisa menulis, keberadaan wadah Humas ini menjadi
lahan empuk bagi saya untuk belajar. Saya berupaya untuk tidak menyia-nyiakannya.
Awal mula menjadi reporter, pengurus Humas menarget setiap reporter baru harus
mengirimkan lima berita dalam satu bulan ke depan. Saya rasa, hal itu tidaklah
sulit.
Saya bersungguh-sungguh
untuk melaksanakan tugas tersebut. Bahkan tulisan saya yang diterima oleh
redaktur waktu itu melebihi target. Sayangnya, hal yang sama tidak berlaku
kepada dua orang teman saya. Teman sekelas saya, pernah dua kali saya ajak
menulis liputan. Namun, setelah itu dia tidak melakukan liputan lagi. Hingga
dia memutuskan untuk mundur dari Humas. Sementara teman yang satunya, pernah
sekali saya ajak liputan. Setelah itu, dia juga raib entah kemana.
Kehilangan dua teman
tersebut membuat saya cukup sibuk. Sebagai satu-satunya orang yang mewakili
fakultas saya, saya harus bisa mengakomodir semua kegiatan di fakultas. Tentu
saja dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya tidak mampu melakukan
itu semua. Beberapa kegiatan, yang saya kenal kepada panitianya, terpaksa saya
memintanya untuk menuliskan seputar kegiatan yang dilaksanakan. Kemudian, saya
memolesnya lagi untuk dimuat di website.
Namun, hal itu pun
tidak efektif karena tidak semua panitia yang saya kenal menyukai dunia
tulisan. Memang lebih enak dilakukan wawancara langsung. Akibatnya, banyak
kegiatan di fakultas saya sendiri yang tidak sempat saya ekspos.
Menjelang akhir jabatan
di Hima, ada adik kelas yang ternyata menyukai dunia tulis menulis. Dia ingin
belajar kepada saya. Kali pertama, kami bertemu dan sepakat untuk benar-benar
belajar menulis. Saya sangat senang karena dengan begitu, saya bisa membentuk
generasi baru yang saya harapkan lebih hebat dari saya.
Saya pun berbagi banyak
hal dalam dunia tulis menulis. Bagi saya, ilmu itu ajaib. Tidak seperti telur.
Kalau telur, semakin ditambah maka wadahnya akan semakin penuh dan kalau
diberikan pada orang lain maka akan semakin berkurang. Berbeda dengan ilmu,
kalau ditambah maka orang yang memiliki akan semakin merasa kurang dan kalau
dibagikan ke orang lain maka akan semakin bertambah.
Saya tidak menutupi apa
pun yang saya tahu tentang dunia tulis menulis. Meskipun saya masih belum
sukses dalam dunia tulis menulis, tapi saya tetap berharap anak tersebut bisa
mengambil hikmah dari cerita saya. Kemudian dia mau belajar dengan
sungguh-sungguh sehingga mencapai kesuksesannya sendiri.
Dalam pertemuan
pertama, dia juga sepakat apabila saya memberikan tema-tema untuk dia tulis.
Saya tidak terlalu menekan mengenai jenis tulisan. Dia suka menulis dalam
bentuk esai populer maka saya biarkan. Dia suka menulis puisi maka saya
biarkan. Dia suka menulis cerpen maka saya biarkan. Yang terpenting adalah dia
mau menulis. Sebab saya percaya, hanya dengan memulai dari bagian yang disukai
maka dia akan semangat.
Dia pun menyetorkan
tulisannya kepada saya. Sebagai partner, saya memberikan sejumlah masukan halus
kepadanya. Baik mengenai tata bahasa hingga logikanya. Tentunya semampu saya
sebab saya sendiri juga belum mahir. Tak lupa, sebelum berpisah, saya
memberikan tema yang mungkin dia bisa tulis. Dia sepakat. Kami juga sepakat
kapan akan bertemu lagi untuk mendiskusikan hasil tulisannya.
Namun, hal itu tidak
sesuai yang disepakati. Dia mulai lalai bahkan saya yang harus menghubungi dia
terlebih dahulu. Okay, saya mengalah
waktu itu untuk terus menghubungi dia. Setidaknya hingga kami kembali bertemu.
Seperti yang saya katakan, saya hanya ingin membantu mengembangkan kemampuan
dia.
Kami pun bertemu.
Tulisannya sudah cukup baik. Saya senang membacanya. Kesalahan-kesalahan pada
tulisan pertama sudah mulai berkurang. Artinya pelajaran yang saya berikan
tidak sia-sia. Sama seperti pada pertemuan awal, kami menyepakati lagi apa yang
akan dia tulis dan kapan akan bertemu.
Pertemuan ketiga inilah
pertemuan yang sangat menyedihkan. Berkali-kali saya mengalah dan
menghubunginya untuk bertemu. Hingga saya sempat berpikir, “Ini yang mau
belajar menulis dia apa saya? Kok malah yang mau mengajari yang mengejar dia?”
Lama sekali kami tidak bertemu dan dia selalu punya alasan untuk tidak bertemu.
Pada suatu hari di
bawah pohon rindang, ternyata dia menemui saya. Dia tidak membawa tulisan untuk
didiskusikan. Sebenarnya, saya sudah mulai ragu dengan kesungguhannya.
Celakanya, bukannya mendiskusikan tulisan, justru dia bercerita bahwa dia
kehilangan laptopnya dan baru putus dengan pacarnya. Itu yang menjadi alasan
dia tidak menulis.
Menurut saya,
semestinya peristiwa yang tidak mengenakkan itu menjadi tulisan yang hebat.
Putus dengan pacar akan sangat memberikan dorongan batin yang kuat. Itu bisa
dimanfaatkan untuk menghasilkan tulisan yang tajam sebab diikuti perasaan.
Khususnya tulisan jenis sastra, seperti puisi, cerpen, atau bahkan novel. Akan
tetapi, kesempatan itu dia sia-siakan bahkan dijadikan alasan untuk tidak
menulis dan melanggar kesepakatan.
Pertemuan ketiga, saya
tidak membuat kesepakatan lagi. Saya ingin melihat kesungguhannya untuk belajar
menulis. Saya tidak pernah menghubunginnya lagi. Saya biarkan dan saya lihat
apakah dia masih ingin belajar menulis dengan sungguh-sungguh atau tidak.
Benarlah apa yang saya duga. Dia tidak pernah menghubungi saya lagi.
Dari pengalaman itu,
saya mengambil pelajaran bahwa niat yang tulus dan keinginan yang kuat untuk
belajar menulis sepertinya belum dia miliki. Hal itu sangat berbeda dengan
teman-teman saya waktu masih di MAN. Mereka lebih kuat untuk mencapai apa yang
diinginkan. Tidak tahu panas dan juga tidak tahu capek untuk berjalan kaki
sekitar setengah kilometer. Mereka melawan hiruk pikuk kendaraan di jalan kota
untuk meminjam buku ke perpus daerah.
Di samping itu, mereka
juga tak pernah bosan untuk menulis dan mendiskusikannya. Tak jarang pula
dihukum oleh pengasuh di Ma’had karena sering melanggar demi mengirimkan
tulisan ke media. Terkadang mereka tidak ikut salat berjamaah karena menunggu
lama di warnet. Itu demi impian yang didasarkan pada niat yang tulus dan
kemauan yang kuat. Alhamdulillah, sekarang
mereka tetap bergelut di dunia tulis menulis meski sibuk dengan kuliah. Semoga
berhasil!
Surabaya, 23
Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar