Label

Senin, 03 Agustus 2015

Kader yang Hilang

Niat dan kemauan yang kuat menjadi kata kunci mencapai kesuksesan. Tapi bukan berarti sebuah keterpaksaan serta-merta membuat seseorang gagal. Bagaimanapun, keterpaksaan yang terus-menerus akan membuat seseorang terbiasa dan bisa jadi akan memunculkan keseriusan. Kasus seperti ini banyak ditayangkan di film-film. Hal itu tergantung sampai di mana orang tersebut bertahan dalam keterpaksaannya.

Kali pertama masuk ke Humas, dari fakultas saya terdiri dari tiga orang. Selain saya, dua orang sama-sama perempuan. Satu orang merupakan teman kelas saya sendiri dan yang satunya lagi anak BEM Fakultas. Kami sama-sama angkatan 2013 dari jurusan yang sama namun yang anak BEM Fakultas berbeda prodi.

Karena saya memang memiliki keinginan besar untuk bisa menulis, keberadaan wadah Humas ini menjadi lahan empuk bagi saya untuk belajar. Saya berupaya untuk tidak menyia-nyiakannya. Awal mula menjadi reporter, pengurus Humas menarget setiap reporter baru harus mengirimkan lima berita dalam satu bulan ke depan. Saya rasa, hal itu tidaklah sulit.

Saya bersungguh-sungguh untuk melaksanakan tugas tersebut. Bahkan tulisan saya yang diterima oleh redaktur waktu itu melebihi target. Sayangnya, hal yang sama tidak berlaku kepada dua orang teman saya. Teman sekelas saya, pernah dua kali saya ajak menulis liputan. Namun, setelah itu dia tidak melakukan liputan lagi. Hingga dia memutuskan untuk mundur dari Humas. Sementara teman yang satunya, pernah sekali saya ajak liputan. Setelah itu, dia juga raib entah kemana.

Kehilangan dua teman tersebut membuat saya cukup sibuk. Sebagai satu-satunya orang yang mewakili fakultas saya, saya harus bisa mengakomodir semua kegiatan di fakultas. Tentu saja dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya tidak mampu melakukan itu semua. Beberapa kegiatan, yang saya kenal kepada panitianya, terpaksa saya memintanya untuk menuliskan seputar kegiatan yang dilaksanakan. Kemudian, saya memolesnya lagi untuk dimuat di website.

Namun, hal itu pun tidak efektif karena tidak semua panitia yang saya kenal menyukai dunia tulisan. Memang lebih enak dilakukan wawancara langsung. Akibatnya, banyak kegiatan di fakultas saya sendiri yang tidak sempat saya ekspos.

Menjelang akhir jabatan di Hima, ada adik kelas yang ternyata menyukai dunia tulis menulis. Dia ingin belajar kepada saya. Kali pertama, kami bertemu dan sepakat untuk benar-benar belajar menulis. Saya sangat senang karena dengan begitu, saya bisa membentuk generasi baru yang saya harapkan lebih hebat dari saya.

Saya pun berbagi banyak hal dalam dunia tulis menulis. Bagi saya, ilmu itu ajaib. Tidak seperti telur. Kalau telur, semakin ditambah maka wadahnya akan semakin penuh dan kalau diberikan pada orang lain maka akan semakin berkurang. Berbeda dengan ilmu, kalau ditambah maka orang yang memiliki akan semakin merasa kurang dan kalau dibagikan ke orang lain maka akan semakin bertambah.

Saya tidak menutupi apa pun yang saya tahu tentang dunia tulis menulis. Meskipun saya masih belum sukses dalam dunia tulis menulis, tapi saya tetap berharap anak tersebut bisa mengambil hikmah dari cerita saya. Kemudian dia mau belajar dengan sungguh-sungguh sehingga mencapai kesuksesannya sendiri.

Dalam pertemuan pertama, dia juga sepakat apabila saya memberikan tema-tema untuk dia tulis. Saya tidak terlalu menekan mengenai jenis tulisan. Dia suka menulis dalam bentuk esai populer maka saya biarkan. Dia suka menulis puisi maka saya biarkan. Dia suka menulis cerpen maka saya biarkan. Yang terpenting adalah dia mau menulis. Sebab saya percaya, hanya dengan memulai dari bagian yang disukai maka dia akan semangat.

Dia pun menyetorkan tulisannya kepada saya. Sebagai partner, saya memberikan sejumlah masukan halus kepadanya. Baik mengenai tata bahasa hingga logikanya. Tentunya semampu saya sebab saya sendiri juga belum mahir. Tak lupa, sebelum berpisah, saya memberikan tema yang mungkin dia bisa tulis. Dia sepakat. Kami juga sepakat kapan akan bertemu lagi untuk mendiskusikan hasil tulisannya.
Namun, hal itu tidak sesuai yang disepakati. Dia mulai lalai bahkan saya yang harus menghubungi dia terlebih dahulu. Okay, saya mengalah waktu itu untuk terus menghubungi dia. Setidaknya hingga kami kembali bertemu. Seperti yang saya katakan, saya hanya ingin membantu mengembangkan kemampuan dia.

Kami pun bertemu. Tulisannya sudah cukup baik. Saya senang membacanya. Kesalahan-kesalahan pada tulisan pertama sudah mulai berkurang. Artinya pelajaran yang saya berikan tidak sia-sia. Sama seperti pada pertemuan awal, kami menyepakati lagi apa yang akan dia tulis dan kapan akan bertemu.
Pertemuan ketiga inilah pertemuan yang sangat menyedihkan. Berkali-kali saya mengalah dan menghubunginya untuk bertemu. Hingga saya sempat berpikir, “Ini yang mau belajar menulis dia apa saya? Kok malah yang mau mengajari yang mengejar dia?” Lama sekali kami tidak bertemu dan dia selalu punya alasan untuk tidak bertemu.

Pada suatu hari di bawah pohon rindang, ternyata dia menemui saya. Dia tidak membawa tulisan untuk didiskusikan. Sebenarnya, saya sudah mulai ragu dengan kesungguhannya. Celakanya, bukannya mendiskusikan tulisan, justru dia bercerita bahwa dia kehilangan laptopnya dan baru putus dengan pacarnya. Itu yang menjadi alasan dia tidak menulis.

Menurut saya, semestinya peristiwa yang tidak mengenakkan itu menjadi tulisan yang hebat. Putus dengan pacar akan sangat memberikan dorongan batin yang kuat. Itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan tulisan yang tajam sebab diikuti perasaan. Khususnya tulisan jenis sastra, seperti puisi, cerpen, atau bahkan novel. Akan tetapi, kesempatan itu dia sia-siakan bahkan dijadikan alasan untuk tidak menulis dan melanggar kesepakatan.

Pertemuan ketiga, saya tidak membuat kesepakatan lagi. Saya ingin melihat kesungguhannya untuk belajar menulis. Saya tidak pernah menghubunginnya lagi. Saya biarkan dan saya lihat apakah dia masih ingin belajar menulis dengan sungguh-sungguh atau tidak. Benarlah apa yang saya duga. Dia tidak pernah menghubungi saya lagi.

Dari pengalaman itu, saya mengambil pelajaran bahwa niat yang tulus dan keinginan yang kuat untuk belajar menulis sepertinya belum dia miliki. Hal itu sangat berbeda dengan teman-teman saya waktu masih di MAN. Mereka lebih kuat untuk mencapai apa yang diinginkan. Tidak tahu panas dan juga tidak tahu capek untuk berjalan kaki sekitar setengah kilometer. Mereka melawan hiruk pikuk kendaraan di jalan kota untuk meminjam buku ke perpus daerah.

Di samping itu, mereka juga tak pernah bosan untuk menulis dan mendiskusikannya. Tak jarang pula dihukum oleh pengasuh di Ma’had karena sering melanggar demi mengirimkan tulisan ke media. Terkadang mereka tidak ikut salat berjamaah karena menunggu lama di warnet. Itu demi impian yang didasarkan pada niat yang tulus dan kemauan yang kuat. Alhamdulillah, sekarang mereka tetap bergelut di dunia tulis menulis meski sibuk dengan kuliah. Semoga berhasil!

Surabaya, 23 Februari 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar