Pagi itu saya diajak
ngopi oleh guru menulis saya yang sangat inspiratif. Seperti biasa, kami
memilih food court Unesa sebagai
tempat yang nyaman untuk mengobrol bebas. Beliau, orangnya sangat fleksibel.
Entah apakah karena beliau termasuk jebolan surat kabar nasional sehingga
diperlukan fleksibelitas yang tinggi atau memang karena beliau tidak berasal
dari instansi tertentu, saya kurang begitu paham. Yang jelas, beliau adalah
penulis andal yang telah menulis lebih dari 32 buku.
Cong atau Kacong,
demikian saya biasa dipanggil oleh beliau. Sementara saya biasa memanggil
beliau dengan sebutan Bos atau Mas. “Cong, di mana? Ayo ngopi. Kutunggu di food court,” begitu beliau menghubungi
saya.
Hampir saya tidak
pernah menolak saat diajak ngopi oleh beliau. Bukan karena saya tidak sibuk,
tapi pertemuan saya dengan beliau terasa sangat penting. Meskipun terkadang
obrolan kami ngalur ngidul tidak jelas, namun dari keleluasaan dan
fleksibelitas beliaulah saya banyak belajar. Bukan hanya belajar menulis tapi
yang lebih penting saya banyak belajar kehidupan kepada beliau, belajar
bagaimana menyukuri nikmat Allah, dan belajar bagaimana membahagiakan
orang-orang di sekitar kita.
Sebagai seorang
mahasiswa yang hidup seorang diri di Kota Surabaya yang hanya hidup dengan
beasiswa bidik misi dan kadang sejumlah rezeki ajaib dari Allah, saya harus
pintar mengatur sirkulasi keuangan. Kebetulan saat itu saya sedang dilanda
kepepet. Honor dari menulis belum cair dan bidik misi juga belum cair. Hal itu
cukup membuat saya tersandera penyakit Kanker (kantong kering).
“Bos,” kata saya hendak
mengisahkan kondisi saya kepada sang guru. “Saya lapar (maksud saya bukan lapar
dalam arti belum makan tapi tidak punya uang).”
Setelah basa-basi,
beliau menyampaikan satu trik untuk membuka jalan bagi saya. “Ada banyak cara
untuk mendapatkan pundi-pundi uang. Jadilah perensensi buku salah satu
penerbit. Penerbit yang biasa memberi honor uang itu adalah Penerbit Tiga
Serangkai dan Penerbit Erlangga,” jelasnya.
“Bagaimana caranya?”
seperti biasa, setiap kali beliau berbicara serius saya selalu memandang beliau
tanpa berkedip karena takut terlewat ilmu yang hendak diberikan.
“Belilah buku terbitan
Penerbit Tiga Serangkai. Kemudian kamu resensi dan terbitkan di media cetak.
Setelah itu kirimkan bukti cetaknya ke penerbit itu dan bilang bahwa kamu mau
jadi peresensi buku-buku terbitan penerbit tersebut.”
Kemudian beliau
menyodorkan uang lima puluh ribuan ke saya untuk dijadikan modal membeli buku
terbitan Penerbit Tiga Serangkai. “Sekarang belilah buku. Jadikan uang ini
sebagai modal untuk menghasilkan uang yang lebih banyak,” katanya memberi
semangat kepada saya.
Tak menunggu lama,
setelah kami menyelesaikan ngopi, saya langsung minta bantuan teman untuk
diantar ke toko buku Togamas. Namun, di sana saya tidak menemukan buku terbitan
Tiga Serangkai terbaru. Sebab pesan beliau juga, saya harus mencari buku diterbitkan
pada bulan Januari. Saya pusing mencarinya tapi tak kunjung ketemu dan teman
saya juga ingin segera pulang karena ada kepentingan di jurusannya.
Tak ada cara lain, saya
meminta untuk diantar ke Royal Plaza. Saya ingin mencari buku di sana dengan
konsekuensi saya harus pulang jalan kaki sebab teman saya pulang terlebih
dahulu. Sayangnya, saya tidak menemukan terbitan Januari. Saya pun menghubungi
guru saya. Akhirnya, setelah mendapat persetujuan, saya membeli buku terbitan
Agustus 2014. Judulnya “Pelecehan Anak, Kenali, dan Tangani! Menjaga Buah Hati
dari Sindrom” yang diterbitkan oleh Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga
Serangkai. Buku itu saya resensi dan dimuat di koran Duta Masyarakat pada Minggu, 8 Februari 2015 dengan judul resensi
“Tanggung Jawab Orang Tua dalam Menyelamatkan Anak.”
Saya mengirimkan bukti
resensi tersebut ke alamat e-mail Penerbit
Tiga Serangkai. Sama sekali saya tidak mendapat balasan dari penerbit. Padahal,
menurut guru saya, biasanya balasan dari penerbit itu cepat. Namun, saya
menunggu hingga satu minggu tetap tak mendapat respons sama sekali. Saya pun
putus asa dan melupakan apa yang telah saya usahakan. Saya fokus untuk berkarya
lagi daripada menunggu yang tak pasti.
Tapi, apa yang terjadi
saat saya sudah melupakan dan mengikhlaskan apa yang telah saya lakukan? Senin,
2 Maret 2015, saya ditelepon oleh Pak Qik, salah seorang pegawai TU kantor
Pusat Unesa yang biasa menerima surat. Saya mendapat kiriman. Syukur alhamdulillah tiada batas saya panjatkan
kepada Allah SWT. Saya mendapat kiriman dua buah buku dari Penerbit Tiga
Serangkai. Jangan bertanya honor, saya tidak menerima honor berupa uang, hanya
dua buah buku berjudul “Super Father” dan “Penyelamatan Negeri Peri” yang saya
peroleh.
Segera saya hubungi
guru saya untuk memberitahukan mengenai kabar gembira tersebut. Entah apakah
beliau dari rumahnya atau memang kebetulan ada di sekitar Ketintang, saya
kurang tahu. Yang pasti beliau langsung mengajak ketemuan dengan saya. Beliau
mengajak saya ngopi di tempat biasa.
Satu ucapan yang muncul
dari beliau yang kemudian membekas dalam hati saya hingga saat ini. Setelah
saya bercerita tentang keputusasaan saya dalam menunggu kabar, beliau
mengatakan, “Jangan mudah putus asa! Kamu masih baru belajar.”
Kemudian saya
mengonsultasikan apa yang harus saya lakukan terhadap dua buku tersebut.
Akhirnya, saya memutuskan untuk meresensi kedua buku tersebut meski saya tidak
mendapat e-mail balasan dari penerbit
dan juga tidak mendapat honor berupa uang. Saya berusaha untuk bersyukur,
setidaknya saya tidak perlu membeli buku karena sudah dikirimi oleh penerbit.
Saya sangat berhutang
budi kepada guru saya itu. Beliau adalah Mas Eko Prasetyo. Seorang guru yang
sangat menginspirasi perjalanan kepenulisan dan juga hidup saya. Semoga
bermanfaat!
Surabaya, 22
Maret 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar