Saya mulai belajar menulis sekitar tahun 2008
atau kira-kira kelas I SMP semester dua. Waktu itu saya takjub karena melihat
puisi anak SMP dimuat di Buletin Sidogiri. Sayangnya, saya tidak konsisten
dalam menulis. Saya memiliki kebiasaan buruk, yaitu ketika menyukai sesuatu
maka saya cenderung berusaha sekuat tenaga untuk menggapai sesuatu itu. Tapi,
tak lama kemudian saya merasa bosan dan meninggalkannya sama sekali. Ini
penyakit saya dalam menulis sehingga membuat tulisan saya tidak bagus.
Namun, selama dalam masa pencarian itu, saya
menemukan fakta yang menurut saya itu unik. Karena pada saat itu saya menyukai
puisi meskipun sebenarnya saya tidak mengerti puisi itu apa. Saya mencoba
mengumpulkan puisi-puisi di buku-buku SD dan SMP. Kadang saya juga meminjam
buku antologi puisi ke guru.
Saya termasuk orang yang ketinggalan zaman,
saya baru tahu internet setelah duduk di bangku SMP. Karena senangnya pada
pengetahuan baru itu, saya tidak peduli menghabiskan uang berapa hanya untuk
internet-an. Padahal sebenarnya, saya hanya mengenal Mozila. Saya browsing apa
saja. Yang penting senang!
Karena saya juga senang puisi, maka saya
mencoba mencari-cari puisi para penyair yang ada di buku-buku SMP. Tentu saja
yang banyak di sana adalah Taufik Ismail, Ramadhan K.H., W.S. Rendra, Chairil
Anwar, dan D. Zawawi Imron (karena beliau masih tetangga saya). Di samping
mencari-cari puisinya dan menge-print-nya, saya juga iseng-iseng cari biografi mereka. Saya juga
cari biografi D. Zawawi Imron karena meskipun tetangga, saya tidak tahu banyak
tentang beliau.
Saya merasa heran saja waktu itu, sebab
ternyata beberapa penyair yang saya kenal itu tidak berlatar belakang jurusan Bahasa
Indonesia. Mulanya saya berpikir, para penyair itu berasal dari Jurusan Sastra
Indonesia sehingga tulisannya hebat-hebat. Ternyata dugaan saya salah!
D. Zawawi Imron hanya lulus Sekolah Rakyat
dan mondok di pesantren Be-Cabbe.Kata guru saya, dulu D. Zawawi
Imron suka mengumpulkan potongan-potongan koran untuk dibaca. Taufik Ismail
ternyata seorang dokter hewan. Chairil Anwar berhenti sekolah setelah berumur
15 tahun. Pendidikan terakhirnya di bangku MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Kalau W.S. Rendra memang alumnus
Sastra Inggris dan Ramadhan K.H. memang wartawan.
Pada saat itulah, saya mulai berpikir bahwa
mungkin memang jurusan sastra tidak serta merta menjadikan alumninya sebagai
sastrawan. Semuanya bergantung pada kemauan masing-masing individu. Bolehlah
dalam hal jurusan, Taufik Ismail sebagai dokter hewan tapi kalau beliau memang
suka menulis sastra maka ya itu akan
menjadi nilai plus tersendiri baginya.
Dugaan saya mengenai ketidakadaan hubungan
antara jurusan dan kemauan untuk menulis itu sebenarnya dua hal yang mutlak
semakin kuat ketika membaca pelajaran menulis ketujuh dari Dr. Suyatno, M.Pd.
Beliau menyampaikan, “Menulis bukan ilmu dari buku besar yang harus dipelajari
tetapi keterampilan menuangkan gagasan dalam bentuk tulis. Semakin sering
menulis, seseorang akan semakin terampil membuat tulisan. Menulis sama dengan
keterampilan mencuci piring.”
Kalau memang demikian adanya, berarti menulis
bukan hal yang rumit. Belajar menulis tidak sama dengan belajar akuntansi,
ekonomi makro, atau pelajaran formal di sekolah-sekolah. Menulis hanya sebuah
keterampilan yang dimiliki oleh seseorang. Sehingga tak heran jika D. Zawawi
Imron dapat menjadi penyair meskipun pendidikannya hanya pada tingkat Sekolah
Rakyat. Sebab beliau memiliki keterampilan untuk itu.
Keterampilan hanya akan berkembang jika
selalu diasah. Ia tak ubahnya mata pisau, akan tajam jika diasah. Sebaliknya
akan tumpul atau bahkan berkarat jika dibiarkan begitu saja. Tak ada alat untuk
mengasah kemampuan menulis kecuali menulis. Kali pertama saya temukan pelajaran
itu dalam buku “Menembus Kabut Puisi” karya Tengsoe Tjahjono. Dalam bukunya, ia
mengatakan bahwa tiga kunci untuk dapat menulis adalah menulis, menulis, dan
menulis.
Benar seperti yang disampaikan oleh Dr.
Suyatno, M.Pd. Analoginya, dalam belajar menulis itu sama dengan mencuci
piring. Semakin sering mencuci piring maka semakin lihai dan bersih pula hasil
cuciannya. Kalau Tere Liye (novelis best seller) itu mengatakan
bahwa penulis itu sama dengan Koki. Kalau sudah sering memasak ya akan sangat mudah baginya memasak
apapun. Mencampur bumbu-bumbu dan sebagainya akan sangat lihai dan hasilnya pun
enak. Beda dengan orang yang baru belajar masak. Sudah sangat hati-hati dalam
mencampurkan bumbu ternyata masih saja gak
enak.
Tidak hanya itu, melalui pelajaran dari Dr.
Suyatno, M.Pd. akhirnya saya tidak psimis salah jurusan lagi. Dulu saya sangat
bingung karena kesukaan saya selalu bertentangan dengan keilmuan yang saya
geluti. Pada waktu di MAN Sumenep, saya memilih jurusan IPA karena konon kalau jurusan
IPA itu orangnya pintar-pintar dan merupakan jurusan paling bergengsi.
Sedangkan jurusan IPS adalah jurusan yang dinomorduakan. Apalagi jurusan Bahasa.
Bahkan pada tahun 2012, jurusan Bahasa di sekolah saya dihapus dan diganti jurusan
Agama pada tahun 2013. Tapi, ya tetap
saja jurusan yang paling digandrungi siswa adalah jurusan IPA.
Karena mengikuti gengsi itulah, akhirnya saya
mengambil jurusan IPA meskipun dalam praktiknya saya lebih suka baca
masalah-masalah IPS dan Bahasa. Mata pelajaran yang paling saya sukai di jurusan
IPA waktu itu hanya matematika. Kemudian setelah masuk ke bangku kuliah, saya
mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi. Tentu saja guru-guru saya di MAN
geleng-geleng kepala.
Namun, di sini ada perbedaan, kalau guru-guru
saya di MAN geleng-geleng kepala sebab saya mengambil jurusan yang tidak linier
dengan sewaktu di MAN, tapi kalau teman-teman dan dosen saya (termasuk juga Dr.
Suyatno, M.Pd.) mengatakan bahwa saya salah jurusan karena saya suka menulis.
Katanya, semestinya saya mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tapi, dengan pelajaran dari Dr. Suyatno,
M.Pd. kini saya punya alasan untuk membantah kalau saya dibilang salah jurusan.
Memang akibatnya saya belum memiliki ilmu yang mumpuni dalam menulis sebab saya
tidak ada pelajaran formal secara khusus, sangat beda dengan mahasiswa yang
dari jurusan Bahasa. Saya hanya mencoba-coba menulis apa saja. Bukankah untuk
menjadi penulis hanya dengan menulis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar